Serba

Hand In Hand : Membantu Sesama Demi Senyuman dan Keceriaan

Pertamonyo ayuk betemu Bu Hasanah itu dio lagi teduduk di depan rumah sakit. Mukonyo pucet dan kejingokan nian kecapekan. Pas ayuk tanyo, ternyata baru sampe dari Lubuk Linggau. Dio tekepor lemes sambil ngendong anaknyo, | Pertama kali kakak bertemu dengan Bu Hasanah itu ketika beliau lagi duduk di depan rumah sakit. Mukanya pucat dan terlihat letih. Ketika kakak tanya, ternyata beliau baru sampai dari Lubuk Linggau (7 jam dari kota Palembang). Dia terduduk lemas sambil mengendong anaknya.Ujar ayuk Eva.

Itulah penuturan ayuk Eva ketika pertama kali aku datang ke rumah sakit. Beberapa waktu lalu, bersama dua orang teman –Teddy dan Laili, aku mendatangi RSU Muhammad Husein untuk menjenguk Ilham. Balita berusia 6 (enam) bulan yang menderita hydrocephaluspenyakit yang menyebabkan kepala penderitanya membesar melebihi ukuran kepala bayi normal lainnya.

DSC_0403

Ilham yang tampan sedang tertidur

Ada secuil kisah yang melatari kejadian ini. Mulanya aku mengetahui keberadaan Ilham dari broadcast pesan singkat BBM. Cerita ini bermula dari Teddy, yang mengirimkan pesan permohonan bantuan untuk membantu biaya pengobatan Ilham di RS. Untuk memperlihatkan kebenaran akan kondisi Ilham, Teddy memasang foto Ilham di PP (Photo Profile) ponselnya. Miris sekali melihat bocah kecil harus merasakan cobaan sebesar itu. Karena aku sangat mengenal baik Teddy, tanpa banyak pertimbangan aku segera mengirimkan sedikit bantuan melalui rekening Netty –istri Teddy yang sebetulnya juga temanku semasa SMA.

Belakangan, aku merasa apa yang telah aku lakukan masihlah belum cukup. Aku harus melakukan sesuatu yang lebih besar untuk bisa memberikan bantuan lebih banyak untuk Ilham dan keluarganya. Seketika aku berfikiran untuk mengirimkan pesan serupa ke seluruh kontak ponselku. Menurutku, jika separuh temanku ikut membantu, setidaknya aku bisa mendapatkan uang lebih banyak. Ya, sebagian besar kontakku pegawai kantoran. Dengan jumlah kontak 350 orang dan separuhnya saja menyumbang sepuluh ribu rupiah setidaknya aku bisa mengumpulkan uang 3 juta. Jadilah, setelah meminta persetujuan Teddy dan Netty, aku pun mengirimkan pesan yang telah aku modifikasi sedemikian rupa ke seluruh kontakku. Tujuannya tak lain hanya untuk menyentuh hati para sahabat sehingga mereka tergerak untuk membantu.

Alhamdulillah, ternyata banyak teman-teman yang merespon niat baik ini. Beberapa teman tanpa banyak bertanya langsung mentransfer sejumlah uang ke rekening Netty. Namun beberapa lagi rupanya lebih nyaman jika langsung mentransfer ke rekening pribadiku. Lagi-lagi, dengan persetujuan Teddy dan Netty, sebagian teman-teman langsung mentransfer ke rekening pribadiku. Sempat aku khawatir karena ini amanah yang sangat besar, namun aku memutuskan untuk memberikan laporan keuangan secara berkala ke seluruh kontak. Itu aku lakukan demi meminimalisasi rasa curiga dari sahabat yang telah berbaik hati mengulurkan bantuan.

Sungguh, jumlah yang aku dapatkan jauh dari apa yang sebelumnya aku fikirkan. Dengan tengat waktu 2 hari 1 malam, aku mendapatkan bantuan dana lebih dari 8 juta rupiah! Berkali-kali lipat dari jumlah uang yang sebelumnya aku berikan untuk Ilham. Bahkan, ketika perjalanan ke rumah sakit pun masih ada beberapa teman yang ‘memaksa’ untuk tetap memberikan bantuan sehingga ketika ditotal semuanya menjadi sebesar Rp.11.925.000,- alhamdulillah. Walaupun sempat membongkar amplop dan menghitung kembali uang hingga di teras rumah sakit, dana itu akhirnya bisa diberikan langsung ke Bu Nurhasanah, ibunda Ilham yang setia menjaga Ilham sepanjang waktu. Kemana ayah Ilham? Ayah Ilham harus tetap bekerja sebagai buruh di perkebunan sawit di Lampung. Otomatis, bu Nurhasanah hanya berjuang seorang diri di Palembang.

IMG00545-20130430-1033

Diantara rasa haru dan tangisan, Bu Nurhasanah menerima bantuan dari kami

Niat baik kami ternyata dimudahkan olehNya. Terus terang, sebelumnya sempat muncul keraguan tentang apakah keberadaan Ilham itu benar adanya. Sebagian kecil orang menyumbangkan suara sumbangnya. “Awas, foto begituan bisa diambil di internet!” Aku yang awalnya tak ragu menjadi khawatir juga. Terlebih ini soal amanah banyak teman. Setelah aku kroscek lagi ternyata Teddy mendapatkan informasi dari Netty. Netty sendiri mendapatkan informasi seputar Ilham dari Laili –adik tingkatnya ketika kuliah. Sedangkan Laili sendiri mendapatkan informasi itu dari ayuk Eva, petugas rumah sakit yang bekerja di RS tempat Ilham dirawat. Aku, yang sebelumnya berniat hanya menitipkan uang tesebut ke Laili akhirnya terpanggil untuk datang langsung ke RS. Hal ini tentu sebagai rasa tanggung jawab dari bantuan yang telah teman-temanku berikan.

Dan… ketika akhirnya aku bertemu dengan Ilham –balita yang sangat tampan itu, sejuta perasaan mencuat. Senang, sedih, perihatin sekaligus lega semua bercampur jadi satu takkala bisa menyerahkan bantuan itu langsung ke Bu Nurhasanah –Ibunda Ilham. Tangis haru Bu Nurhasanah dipelukan ayuk Eva begitu berarti bagiku secara pribadi. Betapa, dari sebuah usaha kecil ternyata bisa berdampak besar bagi orang lain. Maaf ya Bu, walau ibu tak henti menangis tetap kami ajak berfoto. Sebagai bukti bahwa dana yang kami kumpulkan sudah disampaikan ke orang yang tepat.

DSC_0405

Bersama Ilham 🙂

Satu hal yang aku dapatkan dari pelajaran ini. Betapa, jika kita ingin berbuat baik itu sepatutnya disegerakan dan tepislah keraguan. Terus terang, ketika menyebarkan informasi di pesan BBM, beberapa orang dengan sinis berkata bahwa itu salah satu bentuk penipuan. Sebagian lagi ragu dan mempertanyakan banyak hal semacam, “apa pekerjaan orang tuanya? Apakah tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah?” dan masih banyak lagi. Alhamdulillah, ketika akhirnya aku bertemu langsung, keraguan itu seketika memudar. Ya memang pada akhirnya Ilham mendapatkan bantuan dari pemerintah. Tetapi, bu Nurahasanah masih harus berjuang untuk biaya bertahan hidup sehari-hari, bukan? aku hanya meyakinkan teman-teman bahwa uang tersebut tentulah akan dipergunakan oleh orang tua Ilham pure demi kesembuhan Ilham, bukan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Bahkan seorang teman dengan tegas mengingatkan bahwa jika ada yang membutuhkan bantuan lagi, dia orang pertama yang aku harus beritahu. “Jangan lupa ajak-ajak kalau mau membangun rumah di surga” begitu sahutnya. Sungguh, aku jadi terharu. Terima kasih ya kawan-kawan.

Kunjungan ke rumah sakit itu lantas aku tuangkan ke dalam sebuah tulisan di blog ini. Linknya aku sebarkan ke pesan berantai BBM. Alhamdulillah, ternyata tulisan itu membangkitkan gerakan di beberapa komunitas di Palembang (komunitas fotografi dan otomotif) serta beberapa kelompok arisan ibu-ibu. Mereka berbondong-bondong mencari dana untuk turut membantu Ilham. Bekalangan kutahu bahwa proposal bantuan untuk melakukan operasi disetujui sehingga biaya operasi Ilham sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah. Alhamdulillah hal itu sangat berarti bagi keluarga Ilham mengingat butuh biaya besar untuk dilakukan tindakan operasi. Cepat sembuh ya dek Ilham. Tak sabar ingin melihat senyuman dan keceriaan terpancar dari wajahmu yang lucu itu 🙂

* * *

Melalui semangat berbagi terlihat bahwa apa yang bisa kita lakukan demi membantu orang lain bisa berdampak besar. Hal ini pula yang menjadi semangat dari kegiatan Tango Peduli Gizi yang melalui program Hand in Hand Wafer Tango berencana untuk mendonasikan buku dan mainan layak pakai bagi anak-anak yang berada di pulau Nias, Sumatera Utara.

Ini adalah satu bentuk kepedulian Wafer Tango (Orang Tua group khusus) akan kondisi anak-anak di Indonesia yang masih memerlukan banyak bantuan. Dalam kesempatan Tango Peduli Gizi ini, Wafer Tango akan mengajak 2 (blogger) untuk memberikan langsung bantuan kepada anak-anak di Pulau Nias. Tentulah menyenangkan jika bisa bertemu langsung dengan mereka, ya 🙂

Harapanku, program Tango Peduli Gizi yang sudah dilaksanakan sejak tahun 2010 ini akan terus diselenggarakan secara berkala. Sehingga kelak, tidak hanya anak-anak di pulau Nias yang akan merasakan keceriaan program Hand in Hand Wafer Tango ini. Semoga saja makin banyak anak-anak di Indonesia yang merasakan manfaat yang sama dari program semangat berbagi Hand in Hand Wafer Tango ini.

Catatan :
–  Ayuk artinya kakak perempuan dalam bahasa Palembang
–  Doakan aku memenangkan kompetisi ini ya teman-teman 🙂 Aku penasaran sekali ingin melihat langsung dan menjadi bagian dari semangat berbagi Hand in Hand Wafer Tango ini di pulau Nias. Oh ya, jika aku menjadi pemenang kedua, InsyaAllah uang yang aku terima juga akan aku sumbangkan lagi untuk membantu sesama.

UPDATE

Alhamdulillah, tulisan ini terpilih di 20 besar cerita terbaik walaupun sayangnya belum berhasil menjadi 5 besar sehingga perjalanan ke Nias-nya harus dipending dulu haha 🙂 Selamat untuk Kang Iwok yang berhasil menjadi juara pertama. Tulisannya yang berjudul Hand in Hand untuk Anak Nias memang jempolan 🙂 Sedangkan juara 2 dimenangi oleh Dwiyanti Artha dengan tulisan yang berjudul Hand in Hand Indahnya Berbagi.

Satu pelajaran penting yang kupetik dari lomba ini, tentu saja semangat berbaginya gak boleh surut dan berhenti. Dan, jika ingin berbuat baik haruslah disegerakan. Nah, begitupun dalam ikutan lomba haha. Aku sudah mendapatkan info lomba ini 5 hari sebelum Deadline, namun baru aku tulis beberapa jam sebelum deadline saja! ya, terlihat hasilnya memang kurang maksimal. Aku kurang menonjolkan sisi gerakan Tango Pedulinya. Padahal lomba ini sudah diadakan beberapa bulan sebelumnya, dan kemungkinan untuk eksplor tulisan terbuka lebar. Yup, lain kali harus pasang mata-pasang telingga terhadap informasi lomba nih hwhwhw.

Sekali lagi selamat untuk pemenang. Ditunggu catatan perjalanannya di Pulau Nias 🙂

UPDATE 2

Setelah menunggu beberapa waktu, akhirnya paket cinta dari Tango sampai ke Palembang 🙂 yeaaay! makasih Tango ^^

IMG00893-20131129-0256

Terima kasih Tango 🙂

Iklan

19 thoughts on “Hand In Hand : Membantu Sesama Demi Senyuman dan Keceriaan

    • Sayang aku lost contact dengan Laili nih. Tapi kabar terakhir Ilham telah diobservasi dan tengan menunggu kondisi stabil untuk dioperasi. InsyaAllah akan aku tanyakan lagi kabar pastinya 🙂

  1. Semoga Ilham segera mendapatkan penanganan yang tepat dan segera sehat.

    Btw, emang ndut juga ya si mas ini (ga mau dipanggil om khan ?!), paling tidak pipinya tembem.
    Uups… 🙂

  2. Ping-balik: bila DIA ingin membuka mataku | gemerlap bintang di langit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s