Pelesiran

[Thailand] Meninggalkan Jejak di Grand Palace

… tulisan sebelumnya mengenai Thailand bisa dilihat di sini.

Sesuai itinerary yang dikirimkan CK sebelum berangkat ke Bangkok, Jumat siang setelah kunjungan ke museum Madame Tussauds, adalah waktu bebas bagi peserta tur untuk memilih apakah tetap ikut rombongan menuju pusat bisnis atau memiliki agenda tujuan sendiri.

Dari awal, aku sudah berencana untuk mengunjungi Grand Palace. Ke Bangkok tanpa mengunjungi Grand Palace itu rasanya seperti ke Palembang nggak ke Sungai Musi dan Jembatan Ampera. ^^ Karena itu, dari awal aku sudah mempersiapkan mental jika kalau nggak ada yang berminat ke Grand Palace yang artinya aku sendirian harus menjelajahi tempat itu.

DSC_0418

Kemegahan komplek Grand Palace

Jujur saja, terselip rasa khawatir di sana. Namun, lagi-lagi dengan bantuan Wulan yang dengan baik hati memberikan peta arahan menuju Grand Palace dengan rute dari Siam Paragon, aku jadi memantapkan hati untuk berani. Kapan lagi, kan? Sehari sebelumnya, aku sempat mengompori mas Leo untuk ikutan juga. Toh mas Leo yang merupakan perwakilan dari @WisataThailand tentulah sudah ‘khatam’ dengan Bangkok. Aku juga sempat mengajak beberapa teman, tapi pada saat itu tidak ada yang benar-benar memastikan akan ikut menjelajahi Grand Palace bersamaku.

Ternyata, di meeting point akhir madame Tussauds, banyak juga yang pingin ikutan ke Grand Palace. Hmm, lebih banyak yang nggak ikutan dan memilih wisata belanja sih hehe. Tapi, nggak masalah, karena memang beberapa diantara mereka yang nggak mau ke Grand Palace itu udah pernah ke sana *lirik mbak Ira dan mbak Vini*. Nah, yang belum pernah ke Bangkok tapi lebih memilih belanja ketimbang wisata sejarah, kayaknya bakalan rugi banget deh. Sungguh!

Total ada 9 orang penjelajah sejati yang akhirnya memilih ikutan ke Grand Palace. Asyiknya nih ya, CK berbaik hati menyuruh tour guide –Gem untuk menemani kami. Haha, lumayanlah, jadi bisa minta bantu nawar tuktuk, kan? Sebetulnya tanpa ditemani Gem pun kayaknya kami akan baik-baik saja. Namun, dengan ditemani Gem kantong kamilah yang sangat terasa manfaatnya. Gem pun jago nawar sehingga bisa ngotot-ngototan dengan supir tuktuk. Mantep deh!

Awalnya, dengan petunjuk rute yang sudah aku persiapkan, dari Siam Paragon menuju Grand Palace niatnya kami akan menggunakan BTS. “Hmm, bisa sih, tapi akan lebih lama dan perjalanan akan memutar karena melewati beberapa stasiun,” sahut Gem. “Jadi, sebaiknya kita naik apa, Gem?” tanyaku. “Karena kita rombongan, lebih baik kita menggunakan taksi atau tuktuk. Toh biayanya bisa patungan, kan?” saran Gem. Mendengar itu kami semua setuju.

Kami lalu bergegas menuju pangkalan taksi dan tuktuk yang berada di areal MBK. Berhubung yang stand by waktu itu tuktuk, Gem lalu mendekati 2 supir dan bernegosiasi. Negosiasinya cukup alot haha. Dan, tentu saja ‘pertarungan’ tawar menawar itu dimenangi oleh Gem (dengan buang muka terlebih dahulu pura-pura nggak berminat, persis kayak di Indonesia). “Kalian nggak masalah kalo naik tuktuk?” tanya Gem. Aaah Gem, tentu saja nggak! Kapan lagi bisa merasakan sensasi ber-tuktuk ria kalo nggak di Bangkok coba!

Pengalaman naik tuk-tuk ini juga luar biasa! Hahaha. Nih ya, satu tuktuk itu maksimal banget diisi oleh 3 orang. Itupun yang bodinya langsing kayak penduduk Thailand. Kami nih hebat, satu tuktuk isinya 5 orang lho! *bangga-LoL* 3 orang yang bodinya langsing duduk di kursi sedangkan aku? Yang berbodi semok ini? Ya duduk di lantai tuk-tuk dong ah! Haha, bersama Gem, kami berdua berbagi tempat di lantai tuktuk. Asli, empit-empitan banget. TAPI SERU!!!

CIMG6790

Duduk di lantai tuktuk, saking sempitnya gak bisa pegang kamera lagi. Makasih mbak Yiyin untuk fotonya 🙂

CIMG6785

Yang duduk di kursi pantatnya maju mundur. Yang dudul di lantai pantatnya pegel. Si Gem duduknya beresiko banget itu hahaha 😀

Sepanjang perjalanan, aku beberapa kali membuka obrolan dengan Gem. Diantaranya perihal kecintaan masyarakat Thailand kepada raja mereka. “Penduduk Thailand cinta banget ya Gem dengan raja. Banyak di pusat pertokoan, perkantoran, gedung-gedung yang memajang foto raja di depannya,” ujarku. “Iya betul. Sekarang raja kami sedang terbaring di rumah sakit,” ujarnya pelan. “Apakah benar setiap sore orang-orang yang berkendara akan berhenti ketika alunan lagu nasional diperdengarkan?” tanyaku penasaran. “Haha, iya betul,” jawabnya. “Juga, jika kita menonton bioskop, sebelum dimulai orang-orang akan berdiri ketika mendengar lagu?” tanyaku lagi. “Iya, itu juga betul,” jawab Gem sambil tersenyum. Luar biasa ya Thailand. Di tengah serbuan pengaruh luar, hal-hal yang menyentuh nilai kebudayaan itu masih dipertahankan. Tapi sayang, sepanjang aku di Bangkok, aku gak ngerasain berhenti di tengah jalan mendengar lagu nasional. Sempat juga pingin nyobain nonton di Siam Center, tapi nggak jadi hehe.

Oh ya, biaya naik tuktuk ini THB 200 atau sekitar Rp.65 ribu aja! (dibagi 4, jadi @THB 50. Si Gem nggak kami pintain duit tentu saja). Ternyata ya, perjalanan MBK-Grand Palace itu lumayan jauh juga. Untung aja supir tuktuk kami jagoan, dia lumayan cekatan menembus kepadatan kota Bangkok euy! Perjalanan juga lumayan lama tuh, sekitar setengah jam lebih. So, dengan ongkos segitu, cukup worth it lah.

Yeaaah, selamat datang Pulau Rattanakosin (รัตนโกสินทร์) eh kok disebut pulau Rattanakosin? Jadi nih ya ceritanya kawasan lama tempat Grand Palace-Wat Po-Wat Arun ini disebut Pulau Rattanakosin dikarenakan posisinya yang dikelilingi sungai dan kanal sehingga menyerupai pulau. Kawasan ini mulai didirikan pada tahun 1782 ketika Raja Rama I memindahkan ibu kota dari seberang sungai wilayah Thonburi.

DSC_0422

Grand Palace dengan taman yang terawat rapi

Begitu memasuki kawasan Grand Palace yang dari luar seperti benteng besar, terlihat kepadatan wisatawan di sana. Pintu antrian terlihat membeludak, belum lagi dengan jumlah orang yang tertahan di luar karena memakai pakaian terbuka (tank top, celana pendek). Mungkin sebagian besar teman-teman sudah dengar perihal banyaknya scam/penipuan yang terjadi. Misalnya saja keberadaan supir tuktuk yang berkata bahwa hari itu Grand Palace belum buka/tutup sehingga akan diajak mengunjungi beberapa canci lain dengan ongkos tuktuk yang sangat murah. Ujung-ujungnya sih diajakin ke toko perhiasan karena si supir akan dapet voucher bensin jika bisa mengantarkan pengunjung ke sana. (Untuk mengetahui jenis ‘jebakan’ lain silahkan cek di sini.)

INFO : Berpakaianlah yang rapi jika ingin mengunjungi Grand Palace. Jika kebetulan memakai celana pendek, kita bisa meminjam kain atau celana dengan memberikan deposit uang (akan dikembalikan ketika kain selesai digunakan).

Ketika akan melewati gerbang, ada beberapa supir tuktuk yang mau mencoba ‘menjerat’ mangsa. Tapi berhubung aku dan rombongan udah tahu hal-hal seperti itu, makanya dicuekin aja. “Gem, mereka ini yang suka menipu itu, kan?” tanyaku. Mendengar itu Gem menghela napas, “iya, saya pun sangat prihatin dengan keberadaan mereka,” sahut Gem merasa bersalah. Nah lho, padahal kan aku cuma mau memastikan. Tipikal orang Thailand deh kayaknya yang suka rendah diri semacam itu takkala mengetahui ada hal jelek dari negara mereka.

DSC_0435

Atraksi penggantian penjaga gerbang

INFO : Di pintu depan Grand Palace ada 2 pintu masuk. Yang pertama digunakan khusus oleh anggota kerajaan, dan pintu ini tentu saja senantiasa tertutup. Nah, para scammer memanfaatkan pintu ini untuk meyakinkan pengunjung bahwa Grand Palace tutup. Pintu masuk pengunjung ada di sisi sebelah kanan. Para scammer kayaknya apes hari itu karena dari jauh pun udah nampak mana pintu masuknya (karena sedang ramai pengunjung). Dan…. Grand Palace itu buka setiap hari lho ya!

DSC_0424

Grand Palace dipenuhi orang dari berbagai macam bangsa dan bahasa 🙂

Memasuki gerbang utama, pengunjung tidak dikenakan biaya. Di sini, dari kejauhan diseberang padang rumput yang hijau dan asri kita bisa melihat keberadaan beberapa candi yang tinggi menjulang. Di gerbang awal ini orang-orang mulai diseleksi gaya berpakaiannya. Begitu udah masuk ke dalam aku heran ketika melihat mas Rio diperbolehkan memakai celana pendek. “Pake celana pendek boleh mas?” tanyaku. “Hmm, aku tadi lolos aja tuh. Boleh kayaknya,” jawab mas Rio.

Oke, begitu rombongan komplet, kami bergerak menuju ke dalam. Menurut informasi di internet biaya masuk Grand Palace itu THB 400. Si Gem yang berbaik hati mengumpulkan uang kami pun meminta uang THB 400. Di bawah pohon, kami menunggu Gem membeli tiket. Gak lama kemudian, dengan raut muka penyesalan Gem mendekati kami dan berkata, “Mohon maaf, harga tiketnya naik, lihat saja di papan petunjuknya,” ujar Gem. Haha Geeem… Geem. Gitu aja kok mukanya udah penuh sesal gitu, kan itu memang ketentuannya, kami nggak akan marah kok 😛 Oh ya, tiket bisa dibeli hingga pukul 15:30 tetapi begitu sudah di dalam, kita bisa puas berkeliling hingga pukul 17:00. Tiket tersebut juga sudah termasuk tiket masuk ke Queen Sirikit Museum of Textiles.

DSC_0432

Angka 500-nya keliatan banget baru diganti 🙂

Aku sempet bingung dengan tiket masuk Gem. “Jadi, untuk tiket masuk Gem kita patungan ya?” tanyaku pake bahasa Indonesia. Lha si Gem juga nggak ngerti hehe. “Nggak, dia kan ada tanda pengenal tour guide, jadi dia gratis, Ndut,” jawab mbak Ika. Wah boleh juga nih. Dan, benar saja ketika kami akan masuk ke dalam, ada jalur khusus bagi pemandu wisata dan masyarakat lokal. Mereka bisa masuk gratis! Keren, kan?

Begitu akan masuk, ternyata ada pemeriksaan lagi. Dan di sini lebih ketat. “No…no… you can not come in!” jawab petugas dengan suara sedikit meninggi kepada Mas Rio. Wah ternyata benar, gak boleh masuk pake celana pendek. Beberapa bule yang memakai celana pendek dan tank top pun ‘diusir’ dan di suruh gerbang depan untuk meminjam kain penutup. Memang ya, hari itu Grand Palace rameeeeeeee banget. Bisa jadi beberapa orang lolos saking padatnya wisatawan yang kepingin masuk. Oh ya, begitu masuk ke gerbang dalam, pengunjung akan diberikan sebuah peta lumayan gede yang berisi letak-letak bangunan dan sejarah singkat dalam bahasa Inggris.

Begitu masuk ke dalam…. Tadaaaaa…. Terpampanglah karya seni dengan sisi histori tinggi. Aku beneran kagum dengan bangunan-bangunan yang ada di komplek Grand Palace ini. Luar biasa!!! Cuaca yang sangat terik dan membeludaknya kunjungan tidak menghalangiku untuk menjelajahi tiap-tiap bangunannya. Paling yaaa agak susah jika mau berfoto dengan latar belakang ‘bersih’ dari kehadiran orang lain haha. Aku pun jadi kebanyakan ambil gambar dengan sudut pandang ke atas. Ini dia beberapa foto yang aku dapatkan.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

INFO : Ini PENTING banget! Jangan lupa bawa air minum ya! Karena di dalam komplek nggak ada satu pun penjual minuman. Adanya penjual ice cream, tapi itu nggak terlalu ngaruh di saat tenggorokan kering. Aku lupa, siapa ya yang waktu itu bawa minum. Satu botol kita pake rame-rame saking (ngerasa) dehidrasinya. Begitu aku dapat giliran terakhir dan airnya aku habiskan, botol minum aku buang ke kotak sampah. Begitu berjalan ke sisi lain bangunan, OMG ada tempat yang menyediakan air minum. Huaaaaa botolnya udah terlanjur kebuan. Hiks (ada gelas plastik sih, tapi gak ada yang jamin itu belum digunakan orang lain. Jumlahnya pun sangat sedikit).

DSC_0478

Yang haus… yang haus…

Di bagian belakang, ada bangunan yang tidak boleh dimasuki oleh pengunjung. Gerbangnya pun dijaga oleh petugas. Berhubung banyak yang minta foto bareng, aku nggak mau ketinggalan hahaha. Menuju pintu keluar, dengan latar Grand Palace, di sini kami, para petualang tangguh *hehe* foto bareng dibantu oleh Gem sebagai juru foto. Oh ya foto ini minus mas Leo yang sebetulnya juga berada di situ. Berhubung Mas Leo lagi asyik ngobrol sama cewek cantik (teman satu perusahaan yang asli kerja di Thailand), biarlah kami gak mau mengganggu mereka berdua hehehe.

DSC_0482

Aslinya penjaga ini ada 2. Yang satunya lagi sedang minum 😀

DSC_0493

Petualang tangguh dari Indonesia hahaha 🙂

Oh ya, di Grand Palace ada orang yang menjual kartu pos bergambar segala sesuatu yang berhubungan dengan Thailand. Harganya masing-masing THB 10 (Rp.3.250 aja!). Mbak Yiyi beli sepuluh rasanya. Aku sempat tergoda untuk beli juga. Tapi, biasanya kan harga souvenir di tempat wisata kayak gini tinggi. Jadilah aku mengurungkan niat.

Begitu sampai di luar, kami ke sana kemari mencari penjual air mineral. Hahaha. Di seberang jalan Grand Palace, banyak banget yang jual air. Sebotol air dingin ukuran sedang harganya THB 10 (air mineral ternikmat yang pernah aku minum!). Dan, di sini juga jual kartu pos 11 deret dengan harga THB 50 aja! (artinya 1 post card seharga THB 4,5 atau Rp. 1.450 aja!) Nah, bener kan ternyata di luar lebih murah. Tapi, lagi-lagi aku mengurungkan niat untuk beli. Toh besok juga akan ke Chatuchak, pasar terbesar di dunia. Pastilah di sana kartu pos dijual dengan harga lebih murah. (keputusan yang hingga detik ini sangat aku sesalkan. Menyesaaaaaal sekali rasanya karena di Chatuchak aku gak menemukan satupun penjual kartu pos. Cerita selengkapnya di tulisan selanjutnya ya!)

Habis keliling-keliling Grand Palace, tujuan kami selanjutnya adalah Wat Po (Candi dengan patung Buddha berbaring) dan Wat Arun. Letaknya tak jauh dari Grand Palace kok. Dengan berjalan kaki ditemani sengatan sinar matahari, kami melangkahkan kaki dengan riang (apalagi dengan diiringi guyonan-guyonan ala mbak Tisha hehe). Sejenak aku menoleh ke belakang. Tatapanku mengarah kemegahan Grand Palace. Selamat tinggal. Sampai jumpa lagi Grand Palace. Ya, setidaknya jejak kakiku sudah kutinggalkan di sana 😉

…. Bersambung.

Iklan

48 thoughts on “[Thailand] Meninggalkan Jejak di Grand Palace

    • Oh, Republika mau terima ya Uni? rencana mau bikin tulisan ngebandingin BKB sama Asiatique. Harusnya BKB bisa kayak Asiatique yang keren. Makasih Uni, ntar aku cek 🙂 *Republika susah dicari di sini :(*

    • Setelah berkumpul semua di Bangkok, jumlah semuanya 30 orang (sudah termasuk CK dan Asistennya). Kalo gak ada yang mau ikut? HARUS BERANI! Hihi, kan aku juga udah siapin rute perjalanan dari Siam Paragon ke Grand Palace. Pokoknya kudu berani, kapan lagi soalnya ke Bangkok, kan ya? ^^

  1. aha tuh kan nyesel juga ga beli kartupos diluar.. di pasar sebener ada, cuma kurang jeli nyarinya deh..
    si gem yang pake topi ya? seru tuh naik tuktuk tapi ngelosor di lante tuktuk.. ga ada fotonya?

    • 4 Jam ubek-ubek Chatuchak tapi gak nemu. Nanya ke pedagang juga nggak tahu. Kalo mainan kunci banyak yang jual. Hiks, bisa jadi mbak nggak keliatan waktu itu, maklum pasarnya gede banget. Nah, waktu ngelongsor di lantai tuktuk, saking sempitnya aku gak bisa pegang kamera sama sekali. Ada temen yang ngefotoin, sudah diminta juga fotonya. Ntar kalo udah dikirim aku pajang 🙂

      Belakangan nitip sama temen (mba Cho Eng) ketika dia ke MBK. Nemu postcards motif frame gitu. Bagus banget, tp harganya juga lumayan 😛 di Bandara ketika pulang, nemu lagi di toko buku, tapi pemandangan Pattaya, Phuket dsb bukan bangkok. Sampe sekarang nyeselnya masih kerasa. 😦

    • Ketemu mbak 🙂 Yang jual pake jilbab dan menunya ada nasi goreng, mie goreng dan makanan berkuah. Tapi waktu itu karena sudah mepet jadi gak makan di sana. Cuma ngemil buah aja (yang enak banget, atau apa karena kelaparan ya jadi terasa mantap surantap? hehe)

  2. Aku dulu ke Grand Pallace jalan kaki dari Khaosan Road, dan lancar2 saja. Tidak dicegat ibuk2 penjual makanan burung merpati di taman, tidak dicegat bapak supir tuk2 yang bilang kalo Grand Pallace tutup. Hanya saja waktu itu gak kepikiran buat beli kartu pos 😦

      • Dekeeettt kok, dulu sih karena kami jalannya sambil nyante dan jepret sana jepret sini, akhirnya waktu jalannya 30 menitan, mungkin klo lempeng ato sambil lari #Eh bisa 15 menit nyampe

    • Karena waktu itu dari Marbe Temple ke Khao San Road-nya dan dari MBK ke Grand Palace jadi kukira jauh 🙂 Ternyata, Grand Palace-Khao San deket lah kalo cuma 15 s.d 30 menit 🙂

  3. bersyukur nih pemenang trip gratis ck nya penulis, jadi semua keajaiban pengalaman pertama pergi ke thailand jadi terwakili hihihiii. nggak nyesel deh, ikut gabung dengan para petualang nekat di atas, padahal jujur waktu memutuskan memisahkan diri dari koloni dan gabung ke rombongan grand palace, di kepala saya belum ada isinya (blank), cuma karena saat review malam pertama di bangkok, orang rumah tanya pada” udah ke grand palace belum ? ke wat po udah belum ?? dan saya jawab, “belum, emang ada apa disana ??? ” gubrakk!! “hehehee…

    • Belum jadi penulis mbak Cho Eng. Baru si ‘suka nulis’ 🙂 Nah, waktu itu mbak Cho Eng kan orang pertama yang aku komporin? soalnya orang yang nenteng kamera kemana-mana itu kayaknya lebih condong seneng jelajah budaya ketimbang jelajah pasar (bukan berarti nggak suka belanja lho ya, dan itu terbukti ketika di Chatuchak hahahahaha).

      Sampe di rumah dan cek gambar-gambar di kamera, aah masih belum puas. Masih banyak gambar yang statis alias tidak bercerita apa-apa. Waktu di Bangkok itu, aku emang menghindari gambar-gambar objek dengan keberadaan banyak orang. Ternyata ya, pas nulis butuh banget gambar-gambar kayak itu. Hiks…hiks..

      Aku sih pingin bisa balik lagi ke Thailand, tapi kayaknya jelajah tempat yang baru lebih seru *lirik Vietnam yang jauh di sana hehehe*

  4. gara2 kemaren pake kutang celana pendek dan kekeuh ga mau nyewa baju, akhirnya gw batalin niat masuk ke grand palace dan duduk doang di taman depannya sambil nikmatin jajanan jalannya haha

    • Haha, ya, ngebayangin pake baju tertutup di siang hari emang gerah banget mas. Tapi setidaknya, melalui taman sudah keliatan ya komplek Grand Palacenya. Artinya sudah niat mau ke sana 🙂 Mungkin di lain kesempatan kali mas. 🙂

      • iya, jadinya gw malah nikmatin suasana taman dengan burung2 bterbangan 😀 dan dsitu baru kerasa liburannya, alias bengong nongkrong jajan2 pinggiran wkwkw. jadi kangen sama sate sosis yg segede gaban itu

  5. 1. klo keliling grand palace, wat arun kira2 abis berapa jam?
    2. grandpalace buka jam berapa? tutup jam brp
    3. klo naik BTS dari siam ke grand palace butuh btp jam waktu tempuh
    saya rencsna k thai, tp waktunya sempit
    makasih ya

    • Hi Gustini, terima kasih komentarnya.
      1. Grand Palace itu luaaas banget 🙂 seenggaknya kalau mau ke sana spare waktu 1 Jam ya. 1/2 jam untuk ke Wat Pho dan 1/2 jam ke Wat Arun. *letaknya sangat berdekatan* Kalau mau waktunya efisien dan masih bisa menikmati spare waktu 2 sd 3 jam untuk mengunjungi ke-3 tempat itu.
      2. Grand Palace buka setiap hari. Buka dari pagi *hmm jam berapa ya? kalo gak salah jam 8 pagi* dan loket tiket dibuka sampe jam 3 sore. Namun kalo udah beli tiket, bisa terus keliling2 di dalam hingga jam 5 sore. HTM 500 baht.
      3. Kalo naik BTS, menurut pengakuan orang sana agak jauh dan memutar. Jadi mending naik tuktuk 200 baht. Jika rombongan (bisa ber-4 atau 5) kan bisa patungan.

      Semoga jawabannya membantu 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s