Pelesiran

[Thailand] Keelokan Wat Pho dan Kemegahan Wat Arun

… tulisan lengkap mengenai perjalananku ke Thailand kurangkum di sini.

Setelah lumayan puas menjelajahi komplek Grand Palace, tujuan kami selanjutnya adalah ke Wat Pho atau dalam bahasa lokal disebut Wat Phra Chettuphon Wimon Mangkhlaram Ratchaworamahawihan ( วัดพระเชตุพนวิมลมังคลารามราชวรมหาวิหาร.)  tempat dimana patung Buddha berbaring berada (Temple of the Reclining Buddha).

DSC_0508

Wat Pho dari seberang jalan

Jarak antara komplek Grand Palace dan Wat Pho tidak terlalu jauh. Kurang lebih 10 menit berjalan kaki kami sudah tiba di sana. Sebelum masuk, beberapa diantara kami ternyata tertarik untuk mencicipi kesegaran air kelapa yang dijual di dekat pintu gerbang Wat Pho.

DSC_0512

Penjual air kelapa yang malu-malu ketika difoto 🙂

DSC_0510

Enak ya mbak Ika?

Memang ya, cuaca hari itu sangat terik. Jadi bawaannya pingin minum dulu. Harganya pun cukup murah. Sebuah kelapa muda hanya dihargai THB 30. Bagi yang doyan, tentulah kesegaran air kelapa muda ini begitu menggoda haha. Aku sendiri nggak beli waktu itu. Yeah, walaupun mamamholic, kalo soal minum aku nggak macem-macem. Cukup air putih, air teh atau air jeruk aja. Aku nggak suka air kelapa, jus alpukat atau minuman apapun yang mengandung susu. Bukannya enak bisa-bisa malah muntah. 😛

Bersebelahan dengan abang penjual kelapa muda, ada penjual makanan ringan semacam gorengan dan berbagai aneka sate. Kalo ngeliat sih cukup tergoda juga, tapi nggak ada satupun dari kami yang beli. Pertama karena khawatir mengenai kehalalannya. Kedua, kami sudah tak sabar untuk menjelajahi Wat Pho.

DSC_0511

Beraneka ragam gorengan dan sate.

Lagi-lagi dibantu Gem, secara kolektif uang kami dikumpulkan untuk membeli tiket. Harganya nggak mahal yakni  THB 100 atau setara Rp.32.500 aja! Cukup murah untuk sebuah tempat terkenal dan menjadi salah satu tujuan utama wisatawan yang bahkan pernah jadi pit stop salah satu episode The Amazing Race Asia. ^^

Dengan harga THB 100, ternyata pengunjung pun diberi sebuah air mineral ukuran sedang yang dingin!! Wah lumayan juga, kan? Andai Grand Palace juga membagikan air seperti ini, tentulah akan sangat bermanfaat bagi pengunjung. Apalagi komplek Grand Palace jauh lebih besar dan tiket masuk jauh lebih mahal (THB 500 alias lima kali lipat tiket masuk Wat Pho).

scan0082

Tiket masuk Wat Pho.

DSC_0516

Peta komplek Wat Pho

Satu lagi keseriusan pemerintah Thailand (yang bekerja sama dengan pihak perbankan) dalam memudahkan kebutuhan wisatawan. Sepanjang aku jalan-jalan di Bangkok, berbagai mesin ATM mudah sekali dijumpai. Misalnya saja di Wat Pho ini, walaupun cuma satu, tapi keberadaan mesin ATM ini tentulah sangat membantu turis yang kehabisan stok baht mereka. Seperti sepasang bule ini. Bahkan, di dalam hostel kami di Sephai Pae pun ada mesin ATMnya lho! Salut!

DSC_0514

ATM ini terletak persis di samping ruang ibadah 🙂

Begitu mendapatkan tiket, kami segera memasuki pintu masuk bangunan utama. Di depan pintu, oleh seorang petugas, kami dipinjami sebuah tas kecil yang ternyata digunakan untuk menyimpan sandal/sepatu. Hehe, unik juga ya. Demi keamanan alas kaki pengunjung dan meminimalisasi space tempat penyimpanan alas kaki, jadilah digunakan media tas. Jadi, kalo ada yang kehilangan sepatu/sandal, ya salah sendiri, kan? Hehe.

DSC_0517

Tempat mengambil kantung sepatu.

Sama seperti Grand Palace. Wat Pho siang itu rameee banget. Berbagai macam turis berbadan tinggi memenuhi bangunan utama Wat Pho. Belum lagi ada rombongan anak sekolah, whuiihhh riuuuh haha. Dan… WOW, Buddha yang sedang berbaring itu ukurannya tinggi dan sangat panjang. Soal posisi Buddha yang berbaring ini, aku jadi ingat perkataan Gem sewaktu perjalanan menuju ke sini.

“Kebanyakan orang menyebutnya dengan Sleeping Buddha. Atau Buddha yang (sedang) tidur. Tapi sesungguhnya Buddha hanya berbaring, dan dia tidak menutup mata sehingga salah jika mengatakan bahwa ini Buddha tidur,” sahut Gem dengan kocak yang kami sambut dengan gelak tawa. Haha.

DSC_0523

Tidak tidur, karena matanya masih melek 🙂

Sebetulnya bangunan utama Wat Pho ini cukup besar. Tapi, karena keberadaan patung Buddha-nya sendiri sudah mengambil cukup banyak space sehingga tempat ini terlihat lebih sempit. Susah sekali mendapatkan spot foto yang oke. Jikapun ada, kami harus mengantri dengan pengunjung lainnya (beberapa emak-emak dari India dan China suka menyerobot huh 😛 ). Belum lagi nih ya, ketika akan difoto, eeeh bule-bule berbadan besar menghalangi pandangan. Pokoknya, mengambil foto di Wat Pho ini penuh tantangan! Hahaha. Oh ya, bagi yang penasaran dengan sejarah Wat Pho hingga berapa ukuran patung Buddha ini, silahkan cek di sini ya 🙂 Ini dia beberapa foto yang berhasil aku ambil dengan susah payah.

DSC_0533

Setelah mengantri lama, akhirnya bisa foto dengan latar belakang patung Buddha ini.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Kurang lebih 20 menit kami berada di dalam. Kami lalu keluar dan mulai memasang alas kaki di kursi yang banyak disediakan di pintu keluar. Di sinilah aku melihat sebuah pemandangan unik, takkala ada seorang bule yang sedang mengendong anaknya. Lucu banget, dan rasanya keren gitu ngajakin anaknya yang masih bayi jalan-jalan. Mungkin kelak ketika udah gede bisa jadi si anak bakalan kembali lagi ke tempat itu. Seru ya!

DSC_0546

Baby traveler 😀

Di bawah pohon yang rindang, kami menghabiskan air mineral yang dibagikan oleh pengelola Wat Pho. Seperti halnya objek wisata lainnya, Wat Pho pun bersih, rindang dan nyaman. Di sini bahkan ada sebuah kolam kecil yang ada air mancurnya. Di saat cuaca panas, melihat air yang bergemercikan rasanya jadi sejuk 🙂

DSC_0548

Kolam di dalam komplek Wat Po

Perjalanan kami belum berakhir. Kami beranjak keluar dan bergegas menuju destinasi selanjutnya. Yaitu Wat Arun/Temple of the Dawn atau dalam bahasa setempat bernama Wat Arun Ratchawararam Ratchawaramahawihan (วัดอรุณราชวรารามราชวรมหาวิหาร). Lagi-lagi jarak antara Wat Pho dan Wat Arun tidak terlalu jauh, namun ada sensasi berbeda pada perjalanan ini. Yakni, kami harus menyeberang sungai Chao Pharaya menggunakan kapal! Yihaaaa!

Ongkos menyeberang ke dermaga Wat Arun sangat murah. Cuma THB 3 saja! Kalau dirupiahkan bahkan nggak sampe seribu rupiah (kadang bayar parkir motor aja lebih dari seribu perak :P). Cukup banyak wisatawan asing yang menggunakan moda transportasi ini. Kapal yang disediakan juga cukup banyak. Masing-masing interval jeda menunggu paling 10 menit. Lagi-lagi aku kagum dengan keseriusan pemerintah Thailand dalam mengelola objek wisatanya.

DSC_0567

Perahu seperti ini yang kami naiki.

DSC_0564

Geng cewek tangguh 😀

Nggak butuh waktu lama, kami tiba di dermaga Wat Arun. Dari sana saja kemegahan Wat Arun sudah nampak. Dari jauh terlihat kecil, tapi begitu mendekat, wow tinggi banget! Ada satu kejadian hmm… mengejutkan di sini. Salah satu peserta tur –Mbak Lisda, hampir saja terkena scam/jebakan yang dilancarkan oleh penduduk lokal.

DSC_0557

Kemegahan Wat Arun. Nampak kecil, walaupun aslinya tinggi banget!

Ceritanya, tak jauh dari dermaga, ada sebuah spot dimana ada sebuah papan dengan lukisan penduduk Thailand menggunakan pakaian tradisional. Namun papan ini bolong di bagian wajah. Melihat hal itu, secara spontan mbak Lisda dan beberapa temen lain berfoto di sana. Begitu selesai, ada ibu-ibu mendekat dan memaksa meminta uang THB 40. Ihh, gile aja. Masak foto begitu doang dipungut biaya? Dan bener aja, begitu diperhatikan dengan detail, di kaki patung papan, ada tulisan THB 40 tapi kecil banget. Yeey, mana keliatan kalo sekecil itu.

Di buntutin sambil menadahkan tangan, mbak Lisda jadi panik. Mbak Lisda udah mau bayar tuh hingga kusaranin agar fotonya dihapus aja. Kami lalu menjelaskan ke ibu itu bahwa fotonya sudah dihapus, eh si ibu gak percaya dan mau lihat kameranya mbak Lisda. Setelah kami kasih liat, barulah si ibu pergi dengan menggerutu.

THB 40 itu kurang lebih Rp.13.000. Bukan jumlah yang besar, namun mengingat si ibu kayaknya sengaja ‘menjebak’ (toh awalnya dia sembunyi trus tiba-tiba datang menagih) jadinya sebel juga, kan? Bahkan, tiket masuk Wat Arun aja cuma THB 50/Rp.16.250 doang! Aduh ada-ada ajaaaaa.

scan0081

Tiket Masuk Wat Arun yang murah banget 🙂

Di sekitar Wat Arun ada yang menyewakan baju tradisional. Harganya cukup murah, THB 100 (Rp.32.500) aja!. Dan… si penyewa bisa bahasa Indonesia dikit-dikit hehe. “Seratus baht. Murah…murah…” sahutnya. Eh ya, bahkan di kawasan Wat Arun ini ada pedagang yang mau nerima rupiah, lho! Haha. Tapi sayang si penyewa pakaian nggak mau dibayar pake rupiah. Aku sih sebetulnya pingin nyoba, tapi pakaian adat cowok Thailand nggak sekeren pakaian ceweknya. Lagian, dengan menggunakan baju adapt, bikin tubuhku tambah menggelembung. Tidaaaaak! Jadilah, pada saat itu aku jadi tukang foto dadakan aja hehe.

Setelah puas jeprat-jepret, kami lalu berjalan menuju ke dalam. Di sinilah, sebagian tiket kami di sobek. Sttt… penjaganya nggak terlalu ketat. Jikapun mau masuk tanpa beli tiket kayaknya masih bisa. Asalkan masuknya rombongan ya hahaha. Kalau suka tantangan dan berani nyoba, silahkan aja. Kalo aku nggak deeeh, makasih 😛 xixixi.

Wat Arun indah sekali. Candinya tinggi menjulang ke langit. Untuk menuju ke atas, kami harus menapaki puluhan anak tangga yang curam! Ya, tangganya curam banget, asli bikin ngeri. Beberapa peserta bahkan nggak berani naik hingga puncak *lirik mbak Yiyi, hihi.* Gapapalah, yang nggak naik kan bisa kami titipin barang buat dijaga hehehe.

DSC_0596

Ukiran di Wat Arun

DSC_0581

Menuju puncak Wat Arun

DSC_0578

Sekilas kayak Prambanan ya? 🙂

Sampai di puncak, pemandangan indaaaaaah sekali. Aktifitas penduduk di Sungai Chao Pharaya terlihat jelas dari sana. Oh ya, ada satu lagi hal unik di sini. Demi menyalurkan bakat pengunjung yang demen corat-coret, disediakanlah sebuah kain panjang yang dililitkan di sepanjang puncak candi. Di sini, pengunjung bisa menulis sepuasnya! Bagus deh idenya, jadi nggak ada yang nulis-nulis di badan candi. Mendapati hal ini, aku nggak mau dong ketinggalan nyorat-nyoret, hehe. Nah, bagi yang akan berkunjung ke Wat Arun, coba aja cari tulisanku ini 😛

DSC_0597

Sayang nggak bawa spidol, jadi nggak keliatan jelas.

Di sini, kembali aku ngobrol banyak dengan Gem. “Gem, apakah candi ini termasuk yang dilindungi oleh UNESCO?” tanyaku. “Tidak, candi ini memang usianya sudah ratusan tahu, tapi tidak termasuk yang dilindungi oleh UNESCO,” jawabnya. Hmm, benar sih, kalo dilihat dari dekat, badan candi hanya dihiasi oleh pecahan-pecahan beling berwarna-warni. Itupun pemasangannya nggak terlalu rapi. Tapi, tetap terlihat nyeni kok.

“Aku kagum dengan pemerintahan Thailand yang bisa menjaga kebersihan sungai,” sahutku lagi. Mendengar pujian itu, Gem menghela nafas panjang. “Hmm… terima kasih tapi sesungguhnya sungai kami tidak terlalu bersih,” jawab Gem. Lho, sungai sebersih ini masih dibilang kurang oke? Gimana kalo Gem lihat keberadaan Sungai Ciliwung atau sungai-sungai kecil anak Sungai Musi, ya?

Obrolan kami terus berlanjut. Topik yang kami obrolkan kebanyakan mengenai wisata Thailand. Sungguh, aku benar-benar kagum dengan pemerintah Thailand yang mengedepankan aspek pariwisata mereka. Dengan begitu, perekonomian rakyat juga akan terus membaik, bukan? oh ya, ini dia foto aku bersama Gem. Dia ini cewek lho, dan emang keliatan cowok banget (bahkan menurut mbak AS -Asistennya CK, si Gem ini naksir cewek hahahaha).

DSC_0599

Bersama Gem.

Ini dia beberapa pemandangan yang bisa kuabadikan di kameraku.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Puas foto-foto, saatnya turun. Naaah, melihat tangga yang curam, lagi-lagi rona ngeri terlihat dimukaku. Nih ya, saking curamnya, untuk turun pun kami harus berjalan mundur dan berpegangan erat ke pegangan tangga. Apalagi dengan sepatu yang kupakai, anak tangga terasa jauuuuhhh lebih licin sehingga aku harus ektra hati-hati. Begitu sampai ke bawah duuh rasanya lega banget hehe. Di sini, kami beristirahat sejenak sambil…. Foto-foto lagi dong!

DSC_0600

Harus berjalan mundur saking curamnya.

DSC_0603

Pose lagi setelah turun dari puncak Wat Arun

Pulangnya, kami kembali menyeberangi sungai Chao Pharaya. Kami kembali ke depan gerbang Wat Pho dan mencari kendaraan untuk balik ke MBK. Heh, kok ke MBK? “Jadi kalian nggak pulang ke hostel?” tanya Gem. “Kami masih mau jalan Gem, carikan kendaraan ke MBK saja ya!” sahut kami. Si Gem keliatan khawatir. Pertama, khawatir soalnya oleh CK dia diamanatkan untuk mengantar kami balik ke hostel. Kedua, kayaknya Gem sedikit khawatir jam kerjanya makin bertambah. Melihat hal itu mbak Ika berkata, “begitu sampai di MBK, kalau Gem mau pulang tidak apa-apa kok. Pulangnya kami bisa sendiri naik BTS.” Mendengar hal itu Gem tersenyum lega.

Pulangnya, kami empit-empitan lagi naik tuktuk, haha seru banget! Kemacetan sore itu nggak sama sekali bikin bete, yang ada malah seru bisa lihat kehidupan orang di Bangkok. Supir tuktuk kami kali itu koboy banget. Ngebutnya ampun-ampunan deh, tuktuk serasa melayang dan terbalik kalo sedang berbelok. Hehe. Di MBK kami rencananya mau makan malam. Kami lalu menawarkan Gem untuk ikut makan malam dulu lalu pulang.

DSC_0612

Beberapa minggu sebelum tahu bakalan ke Bangkok, aku melihat seorang teman berfoto dengan latar yang sama. Terbersit hati untuk berfoto juga di sini, siapa sangka suara hati itu terkabul beberapa minggu kemudian 🙂

DSC_0608

Mejeng 🙂

DSC_0607

Narsis 😀

“Maaf ya, aku pulang saja. Keponakanku sudah menunggu. Kami akan makan malam bersama menyambut Imlek,” tolak halus Gem. Tapi, sebagai tanda terima kasih, kami berusaha ‘memaksa’ Gem untuk ikut makan dulu. Sayang rayuan kami tidak berhasil. Di sepanjang jalan, lagi-lagi kami berbincang tentang banyak hal. Sebagian sih penasaran sama daerah patpong dan tanya rute menuju ke sana, hahaha. Bagi yang nggak tahu, patpong itu adalah kawasan ‘kehidupan malam’ yang ada di Bangkok. Di sana, banyak ladyboy yang ‘menjajakan’ diri. Hweeh. Aku nggak ikut-ikutan deh hehe.

Oh ya, soal Gem dan kerjaannya sebagai tour guide. Awalnya kukira tawaran makan bersama kami hari itu ditolak karena ia benar-benar akan makan bersama di rumah (dan mungkin saja memang begitu), namun keesok harinya ketika semua peserta tur makan bersama, aku nggak liat Gem ada ditengah-tengah kami. Beberapa dari kami bertanya-tanya. Dari dalam kulihat Gem sedang asyik berbicara melalui telepon di luar restoran. “Sudah ditawarin, tapi katanya dia kenyang,” sahut mbak Asisten.

Ah mana mungkin dia kenyang, lha wong seharian kita semua belom makan kok. Menurutku, Gem menolak ajakan makan bersama demi hmm… semacam kode etik para tour guide kali ya. Mungkin jika dia jadi tour guide untuk orang dari negara lain bisa aja nggak diajakin makan, tapi kan kami semua dari Indonesia. Kebiasaan negara kita mengajarkan bahwa tidak perlu risih mengajak orang yang berkerja sama kita untuk makan bersama.

Di MBK, lagi-lagi kami makan di Yana Restaurant, tempat dimana kami makan siang di hari pertama. Di sini, aku memesan nasi goreng seharga THB 129 + 20 untuk air mineral. Makan malamku hari itu THB 149 atau hampir 50 ribu rupiah. Cukup mahal memang untuk seporsi nasi goreng, tapi ternyata ketika disajikan, posrinya lumayan banyak dan mengenyangkan. 🙂

DSC_0605

Kayak alay aja, makanan di foto-foto haha. Tapi ternyata untuk bikin catatan perjalanan kayak gini perlu juga 🙂

Sehabis makan dan belanja beberapa item (ada yang beli flashdisk dan kartu perdana dengan menawar habis-habisan sampe-sampe si penjual bisa nebak, “dari Indonesia, ya?” Hahaha), kami bergerak ke luar mencari Hard Rock Café. Ada apa dengan Hard Rock Café? Mau ngopi-ngopi gitu? Nggak… mau foto doang kok. Hahahaha. Tapi nih ya, setelah nyasar ke sana kemari dan muter jalanan yang jauh banget itu, akhirnya sampe juga di Hard Rock café Bangkok. Ironisnya, sudah banget foto dengan logo Hard Rock yang ada tulisan ‘Bangkok’nya. Oalaaaah.

DSC_0616

Demi menemukan tempat ini harus jalan kaki berkilo-kilo (itu karena jalannya memutar sih hehe)

Oh ya, di malam hari, jalanan kota Bangkok berubah jadi pasar dadakan. Susah banget berjalan di trotoar karena mendadak jadi lahan pedagang kaki lima. Haha, mirip sama Jakarta kayaknya. Tapi, bedanya, di sini para pedagang berbaris rapi dan tidak memakai atap terpal sehingga nggak terlihat carut marut.

DSC_0615

Bangkok di malam hari.

DSC_0614

Di depan bioskop pun ada yang jualan baju 😀

Setelah capek berat dan betis kayaknya mau meledak setelah berjalan seharian, kami menuju stasiun BTS terdekat dan pulang menuju hostel. Perjalanan hari itu berakhir bagiku (dan tidak bagi yang lain hehe). Setelah berjam-jam mengencani komputer di internet corner, aku kembali ke kamar dan memilih beristirahat untuk petualangan esok hari di pasar Chatuchak.

…. Bersambung.

Iklan

12 thoughts on “[Thailand] Keelokan Wat Pho dan Kemegahan Wat Arun

  1. Wah! Tiket masuk Wat Pho sudah naik ternyata … Dulu masih 50 baht tapi gak dapet minum sih.
    Ceritanya seruuuuu 😀 Beberapa hari disana sangat menyenangkan (& tak terlupakan) ya Oomndut hehehehe
    Dulu, jauh2 ke Wat Arun ngobrolnya teteup pake Bhs Jawa, soale pas nyampe sana papasan sama mbak2 mas2 dari Disperindag Gresik jadilah kami berbincang pake bhs Jawa.
    Oiya, ditunggu yaa liputan Chatuchaknya *teteup*

    • Naiknya langsung 2 kali lipat gitu ya 😛 Iya, ini pengalaman yang luar biasa. Nggak bakalan aku lupain seumur hidup 🙂 Aku juga sempet dikasih tahu kalo di sini banyak orang Jawa, tapi waktu itu aku nggak ketemu *lagian aku gak bisa bahasa Jawa juga hehe*.

      Di sini malah ketemu sama ibu-ibu dari Spanyol. Awalnya dia nanya ke aku berapa harga sewa baju tradisional. Ujung-ujungnya kami cerita dan… dia ternyata udah ke Bandung, Bali, Padang dan Jakarta *jadi bangga* hehe.

      Chatuchak habis ini ya 🙂

  2. Sungguh luar biasa… ceetarrr mebahanaaa badaiii terpampang nyata dari Sabang sampai Merauke seantero jagat raya nusantara… wwkwkkwwk…. dasar2 emak2 narsis turunan tajam nan menjulang ajah kalo difoto mah tetep senyum…. Wish someday bisa travel bareng lagi ya Mas….

  3. Kayaknya seharian ya dari madame t trus grand palace dll. Kira2 ngabisin berapa jam ya ke candi2 itu? Soalnya saya berencana kesana ssdh dr catucak market dan harus balik sore ke hotel sktr jam 4 sore. Cukup nggak waktu saya ya?

    • Betul 🙂 awalnya kisah perjalanan Madame Tussaud-Grand Palace + Wat Pho dan Wat Arun mau dijadiin satu tulisan, tapi batal karena kepanjangan 🙂

      Di Grand Palace kami ngabisin lebih dari satu jam. Di Wat Pho hampir satu jam dan di Wat Arun lebih dari satu jam. Kalo dipukul rata masing-masing 3 s.d 4 jam.

      Saranku, jika mau ke Grand Palace, Wat Pho dan Wat Arun jangan selepas perjalanan dari Chatuchak, soalnya waktunya nggak cukup. Aku yang gak doyan belanja aja nggak sadar menghabiskan waktu 4 jam di Chatuchak. Perjalanan Chatuchak ke Grand Palace lumayan jauh juga soalnya. Lebih baik, sediakan waktu khusus untuk ke Grand Palace. Nah, dari Chatuchak boleh deh kalo mau ke Madame Tussauds, soalnya dibuka sampe malam, dan karena Madame Tussauds berada di mall, jadi rame.

      Tapi balik-balik tergantung mbak Mega sendiri sih, kira-kira bakalan ngabisin waktu lebih lama di tempat yang mana. Yang pasti, menghabiskan waktu lebih lama di Madame Tussauds, Grand Palace, Wat Arun dan Wat Pho lebih worth it ketimbang ngabisin waktu di Chatuchak.

      Selanjut ini aku akan nulis soal Chatuchak, silahkan dibaca siapa tahu bisa mempermudah rencana selama berada di Bangkok 🙂 Ditunggu ulasan perjalanannya ya ^^

  4. dikau tuh ga ganti baju? hitem mulu? apa emang stoknya item ya?
    dan itu gem mungkin vegan, jadi males diajak makan, ntah kalu kode etik guide.. daku ga pernah pake guide sih kalu jalan..
    mmhh dulu waktu kesana sama adik, adikku iseng bilang kenapa di watpho budhanya berbaring [iya bukan tidur karena matanya melek] karena mikir kan di deket pintu [dinding maksud] ada kaya pahatan banyak “penis” berbaris.. [i think you know what i mean] makanya tuh budha merem melek gitu..

    • Hahaha, komennya persis banget kayak kakak sepupuku di Belitong ketika aku numpang nyuci baju. “Dek, bajunya item semua?” hehe.

      Waktu packing, awalnya aku bawa baju berwarna selain hitam mbak, tapi di detik terakhir baju-baju itu tereliminasi hehe. Iya, kebanyakan bajuku warna item. Argumenku sih biar nggak terlalu kelihatan gendut 😛 *yang dibantah oleh Ibuku aku jadi kelihatan lebih item karena emang kulitku item hehe* Begitulah, pada akhirnya bawa baju yang dirasa bakal nyaman dipake aja.

      Soal Gem yang vegan… hmm, kurang tahu ya. Tapi toh andaipun dia vegan, banyak makanan vegetarian di resto. Kami juga selama makan bareng biasanya pesen sayur-sayuran mbak. Apalagi waktu makan besar terakhir itu, mantep banget sayurannya 🙂 Bisa jadi dia menjaga jarak atau memposisikan dirinya sebagai pekerja dan kami orang yang membayarnya jadinya dia ngerasa sungkan.

      Soal Buddha ^^ Hmm, bisa jadi ya 😀 *takut komen kebanyakan soal ini, sensitif soalnya :P*

      • temenku orang sana vegan semua soalnya, lebih suka makan di rumah dan saku sering diajak tuh kalu makan di rumah mereka..
        mungkin aja gem emang sungkan kali ya..
        baiklah soal budha, daku ikutan diam aja deh ga pake komen lagi.. *grin..

    • Waktu becandaan soal imlek. “Gem, ajak kami ke rumah kamu dong! dan… bagi angpao ya!” mendengar itu dia tertawa dengan keras. “Yeey, aku kan belum menikah, kalian dong yang kasih aku angpao,” begitu jawabnya 🙂

      Iya sepertinya dia rada sungkan walaupun waktu makan besar sehabis jelajah Chatuchak dan IKEA, pingin rasanya narik dia ke dalam dan ajak makan bareng. Berhubung aku bukan tuan rumah, yaaa begitulah…

Yakin gak mau komen? aku (hampir) selalu BW & komen balik, loh! :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s