Sebagai satu negara, Luksemburg memang bisa jadi belum terlalu familiar di telinga para pelancong, apalagi jika negara landlock ini dibandingkan dengan Jerman, Belgia dan Perancis, tiga negara besar yang mengapitnya dari sisi timur, barat dan utara. Luksemburg pun negara yang kecil, luasnya hanya 2.586 km2, yang mana dulu pusat wisatanya (sebagian besar) habis saya kelilingi dalam waktu 2 jam berjalan kaki.
Lantas, bagaimana bisa negara kecil ini tiba-tiba berada di jantung kota Paris, Perancis? Padahal jarak masing-masing ibukotanya itu 373 km dan kalau berkendara ya setidaknya butuh 3-4 jam waktu tempuh?
Pertanyaan itu pula yang muncul di benak saya ketika dulu Mbak Helene ngajakin saya ke Luksemburg yang ada di tengah Paris ini. Tadinya saya pikir ini semacam pene-eksklave, yakni wilayah yang secara geografis terpisah, tapi lebih mudah diakses lewat negara lain, kayak Kleinwalsertal di Austria yang hanya dapat diakses lewat Jerman. Unik kan?
Namun, rupanya Mbak Helene bukan hendak mengajak saya ke satu area yang berada di bawah kedaulatan Luksemburg, tapi Mbak Helene hendak mengajak saya ke satu taman yang diberi nama Luxembourg Garden atau dalam bahasa setempat disebut Jardin du Luxembourg.
Sekilas Mengenai Jardin du Luxembourg
Taman ini bermula ketika Marie de’ Medici, janda Henry IV ingin membangun istana yang meniru Istana Pitti yang ada di kota kelahirannya, Florence. Nah, di lokasi yang sekarang, memang sudah ada Hotel du Luxembourg yang sempat menjadi kediaman resmi Presiden Senat Perancis.
Bangunan ini sudah ada sejak tahun 1550 jauh sebelum Perancis merdeka di tahun 1789. Tapi, oleh Marie de’ Medici, ditugasanlah Salomon de Brosse untuk membangun istana baru yang dilengkapi dengan air mancur.

Bayangin bisa duduk santai sambil momong anak, ehehehe.

Kolamnya lumayan luas.
Pada tahun 1612 ia menanam 2.000 pohon elm dan memerintahkan sejumlah tukang kebun, terutama Tommaso Francini, untuk membangun taman dengan gaya Florence. Oleh Francini dibangun pula dua teras dengan pagar dan parterres yang ditata di sepanjang sumbu château, dan Air Mancur Medici di sebelah timur istana.
Pada tahun 1630, ia membeli lahan tambahan dan memperluas taman menjadi tiga puluh hektar, dan mempercayakan pekerjaan tersebut kepada Jacques Boyceau de la Barauderie, pengelola Taman Tuileries kerajaan dan taman-taman awal Versailles.

Pohonnya tertata rapi dan bikin sejuk.

Salah satu patung yang ada di Jardin du Luxembourg
Ironisnya para raja selanjutnya sebagian besar mengabaikan taman tersebut. Pada tahun 1780, Comte de Provence, calon Louis XVIII, menjual bagian timur taman untuk pengembangan real estat. Namun, setelah Revolusi Prancis, para pemimpin Direktori Prancis malah memperluas taman menjadi empat puluh hektar dengan menyita tanah milik ordo keagamaan Carthusian yang berdekatan.
Arsitek Jean-François Chalgrin, arsitek Arc de Triomphe, mengambil tugas untuk memulihkan taman tersebut. Ia membuat ulang Air Mancur Medici dan menata perspektif panjang dari istana ke observatorium. Ia melestarikan pepiniere yang terkenal, atau taman pembibitan ordo Carthusian, dan kebun anggur tua, serta mempertahankan taman dalam gaya Prancis formal.
Lalu mengenai penamaan taman ini sendiri itu dipakai sebab Luxembourg sendiri berasal dari bahasa Latin Mons Lucotitius, nama bukit tempat taman ini berada.
Duduk Santai Nggak Kayak di Pantai
Setelah melewati kepadatan di tengah kota Paris, kami tiba di taman ini dan langsung merasakan nuanasa yang berbeda. Keriuhan di jalanan berganti dengan suara meriah anak-anak yang bermain kapal di tengah kolam yang ada tepat di depan istananya.
Sungguh lokasi yang ideal jika mau mengajak anak bermain. Tapi ya, kapal-kapal dengan berbagai bendera di dunia -sayangnya saya nggak nemu bendera Indonesia, itu disewakan. Hebatnya, tradisi bermain perahu ini sudah ada sejak abad ke-19 loh! Tarifnya sekitar EUR 5 untuk durasi 30 menit. Cukup murah kalau POV lokal, tapi bagi saya, harga segitu ya setara kebab hwhw.

Anak-anak bermain kapal.

Tampak kan ya taman ini berada di tengah kota.

Rame banget anak-anak bermain.
Jadi, saya cukup menikmati kemeriahan mereka memainkan kapal dan mengarahkannya menggunakan tongkat kayu. Lalu, ketika angin mendorong kapalnya menuju sisi lain kolam, mereka akan berlari mengejar. Saya nggak paham ketika waktu menyewa habis apakah mereka harus membalikan kapalnya juga atau cukup kayunya saja, sebab ya kalau kapalnya berada di tengah kolam tentu sulit diambil.
Untungnya, taman ini sepenuhnya gratis! Semua orang bebas masuk untuk sekadar duduk santai, berbincang, baca buku atau menyantap bekal makan siang -apalagi banyak perkantoran di sekitar situ.
Nah, bagi yang suka seni bisa masuk ke area Musée du Luxembourg yang digunakan senat untuk memajang patung dan seni modern. Museum ini dibuka pada tahun 1979 dengan biaya masuk EUR 15,5 (di tahun 2026). Walau sebetulnya di tahun 1694, sudah dipakai sebagai museum public Beaux-art, dan menjadi museum seni kontemporer pertama pada tahun 1818.

Ngebayangin bisa ngadain bincang buku/film bareng komunitas di sini.

Bunganya dirawat dengan baik

Tamannya cakep banget dan ternyata di Prancis bukan di Luxembourg sendiri. Kalau segitu keliling habis waktu berapa jam ya? Membayangkan Saladin bisa puas lari-larisn atau main kapal-kapalan di sana. Sementara bundanya asyik sketching.
Walau tamannya luas kayaknya gak perlu banyak waktu buat keliling ^^
Senangnya ada taman seluas itu di pusat kota Paris, terutama di bagian bisa eksplor dengan gratisnya itu 😁
Pasti seru kalau bawa alas duduk ala piknik, bawa buku yg banyak, juga cemilan, ngehabisin buku-buku yang sedang dibaca.
Apalagi kalau cuaca mendukung, nikmat banget
wah aku baru tahu luxemburg ini letaknya ada di tengah kota Paris. berarti orang paris bisa ke sana dengan bebas gitu ya nggak perlu pemeriksaan visa gitu? Aku luxemburg ini tahunya dari singkatan gitu benelux kalau nggak salah yakni belgia, Netherland dan Luxemburg
Nganu, ini cuma taman mbak.
hihi iya aku fokusnya ke negaranya tadi. berarti ini taman adanya masih di paris gitu? bukan luxemburg dalam arti sebenarnya? tapi cakep ya tamannya bisa ajak anak-anak main ke sini tiap minggu kalau di sini mah
Betul. Kebetulan aja namanya sama hehe.
Melihat gambar nya, membayangkan suasananya melalui cerita perjalanan ini, seolah saya juga ikut menikmati syahdunya suasana Jardin du Luxembourg walaupun cuacanya lagi dingin. Saya yang biasa hidup di wilayah perkebunan teh, sepertinya masih tahan lah. Hehehe…
Paling enak emang di suasana dingin begitu rebahan sambil baca buku, nyeruput minuman hangat, dan sebagainya yang pasti menyenangkan.
entahlah aslinya apa bisa ke sana atau enggak saya pikir gak bakalan juga. Sekarang ikut membayangkan aja dulu. Hehehe
Bener, aku juga gak kebayang kalau musim salju, bakalan putih semua itu area tamannya.
Jadi penasaran film apa yang syuting disini mas?? karena vibes nya istana pasti film nya tentang princes2 gt gak sie hehe…
Tadi aku mikir itu perahu apa pake remote kok ada waktu sewanya tapi kiat anak-anak pada bawa tongkat pikiranku jd kayak mas yayan itu bagaimana ngambilnya kalo kapal dh sampe ke tengah kan yang nyewa juga cuma bisa liatin aja yaa brarti hehe…
Liat tamannya duhhh adem banget cantik rapi bersih…merindukan menemukan taman seperti itu di Indonesia 😦
Salah satunya serial Emily in Paris yang ngehits itu ^^
Haha ya kalau kapalnya ke tengah kayaknya hanya bisa pasrah. Atau mungkin juga mereka akan goyangkan airnya biar kapalnya bergerak
tadinya saya sempat terkecoh mengira ini benar-benar eksklave negara Luksemburg di Paris. Ternyata sejarah Jardin du Luxembourg sedalam itu ya, sampai melibatkan Marie de’ Medici. Membayangkan duduk di sana sambil melihat anak-anak main kapal kayu seharga satu porsi kebab rasanya vibe-nya sangat hangat dan manusiawi. Paris memang selalu punya cara untuk bikin kita betah melamun ya!
Dan ternyata bukan ekslave 🙂 Tapi ya, karena letaknya terhitung dekat dengan Perancis, makanya kental kaitan sejarah keduanya.
Kok liatnya langsung adem ampe ke tulang-tulang ya maassss.. Duh, langsung ngebayangin momong anak disana maenin kapal-kapalan (bawa sendiri ah benderanya dari rumah, hahaha), istri merajut, sementara saya nantinya duduk bersantai sembari membaca buku novel di penghujung senja.. Aishh, syahdu sekali.
Taman-taman seperti ini harusnya diperbanyak ya di Indonesia. Yang gratis, jadi mesti ribet sama HTM dll. Tempat orang bisa bersantai dan berekspresi. Yha ada si memang, tapi gak banyak..
Apalagi yang seindah Taman Jardin du Luxembourg ini, hiks
Haha semoga yang jualan jasa sewa kapalnya gak marah. Harusnya gak boleh marah sih ya hwhw.
Tidak ngeh sih seri film apa yang syuting disana, yang jelas tamannya memangil untuk duduk lama. Memandang orang-orang menikmati taman itu saja sudah bikin senang, apalagi dengan baca buku, minum kopi hitam. Daah laah surga dunia aku itu.Seperti biasa, tulisanmu mengajak hidup kembali pada masa-masa sebelumnya. Seperti ketika taman ini baru di buat dan ditambah lagi masa kemudian. Semuanya menghadirkan banyak pemikiran. Terutama yang salah satunya, buat taman puluhan hektar, dan ratusan tahun kemudian bisa tetap di nikmati itu sesuatu banget.
Salah satunya Emily in Paris mbak Nik 🙂
Tamannya emang enak banget buat nyantai.
Jardin du Luxembourg ini adalah gambaran taman-taman Eropa cantik ideal yang suka kita lihat di film-film maupun di komik-komik ya Om. Sebuah pengalaman menarik mengunjunginya dan senang sekali membaca tuturan ceritanya karena merasa ikutan ke sana. Pas Saya ke Paris dulu nggak sempet ke sini karena waktunya mepet sekali. Kayaknya nanti kalau ke sana lagi mesti ke sini deh. Kita telusuri jejak Om ndut di Jardin du Luxembourg
Amiin semoga bisa balik lagi ke Eropa.
wait wait.. awal² baca tuh kok aku nggak asing sih sama nama medici. Kayaknya medici tuh salah satu nama marga terkaya nggak sih di eropa. Aku lupa baca di mana ya nama Medici ini. Bisa koreksi ya om kalau salah.. udah lama buanget baca nama² itu.
Nah perihal luxemburg ini unik emang ya. Lokasinya tuh nyelempit banget di negara gede dan terkenal. Tapi faktanya negara satu ini aku baca punya tingkat kriminalitas paling rendah di dunia. Bahkan, saking rendahnya penjara tuh nggak laku kayaknya. Lha wong negaranya kecil dan mau kriminal udah auto ketauhan.. 🤣
Kalau lihat model² Jardin de Luksemburg. Jadi keinget filmnya Pride and Prejudice, meski nggak tahu apa iya lokasinya di sono.. 😂
Soal medici aku juga kurang tahu. Tapi iya, di Luksemburg kebanyakan orang kerja di sana tapi milih tinggal di kota yang ada di Jerman. Biaya hidup lebih murah ketimbang di Luksemburg langsung haha.
ya Allah meni cantik mendengar nama lukesemburgh aja aku baru sekrng terus ngayal sambil bawa anak aamiin alohuma aamiin , seindah itu sebagus itu tamanya
Sepertinya kalau tidak salah jawab pernah di pakai shooting film Emily in Paris ya? Beberapa area nya agak mirip.
Tamannya beneran luas dan indah banget. Buat sekadar ngadem sambil menikmati senja atau pagi. Bener sih sambil ngopi dan baca buku, ciamik deh.
Apalagi mas kesana pas musim dingin, ini nikmat sekali nggak worry kepanasan.
Luxembourg Garden worth it buat didatangi dan ternyata luas banget 🤩🤩🤩 bahkan banyak anak-anak bermain juga nih.
Aha bener banget, muncul di Emily in Paris. Terutama di season 1. (Aku gak lanjut nonton season lain jg sih haha)
Amiin, bawa semua keluarga kl bisa 😀
Walau disayangkan kapalnya nggak ada merah putih, tetapi siapa tahu aja kedepannya bakalan ada. Ya, bisa speak gitu Kak Yayan sama si petugas sewanya, kenape nggak ada bendera kite hehe.
Banyak syukur deh ya sama pemimpin Direktori Prancis ini, yang kompak buat menata ulang tamannya, padahal mau dijadiin real estate. Dengan begini kan taman ceria ini bisa jadi inceran turis dong ya buat pada datang.
Nyari-nyari bendera Monaco juga gak nemu haha
Ini sih, taman yang menyenangkan, Mas. Cocok memang sambil momong anak hehehe. Letaknya sangat strategis karena di tengah-tengah kota, jadi bisa dijangkau dari arah mana saja ya. Terus gratis lagi. Bisa lah healing dan pastinya dapat ide untuk menulis juga.
Bisa. Pintu masuknya ada dari semua sisi.
btw mas, itu kenapa ada nama tempat yg penulisannya di sensor pake *. Memang tulisan namanya begitu?
Duuuuh aku melihat tempatnya LGS happy. Langsung bikin plan, kalah kesini, jangan lupa bawa buku deh, biar bisa bacaaaa 😄. Betah aku berjam2 duduk di sana. View-nya cakep, cuaca pun mendukung. Naah aku tadi kepikiran juga, itu cara ambil perahunya gimana kalau udh selesai main 🤣. Iya sih, Eur5 sayang juga buat main kapal hahahahhaa.
ntah kapan lah ini aku bisa ke eropa barat lagi. Sejak resign, kepikiran bikin visa nya JD lebih ribet, apalagi kalau suami ga ikut. Hrs bikin surat persetujuan suami lah, belum lagi rekening bank. Secara uangku kebanyakan di saham dan emas, jadi mesti isi dulu supaya sesuai dengan limit yg mereka minta 😄. Padahal pengen banget ih, kliling eropa barat ini.
Tulisan ini juga diikutkan BW di grup lain yang memang melarang promosi mbak Fanny. Blog Anti Endorse kepunyaannya Mbak Vicky. Seru juga di sana sebab tulisan yang ada embel-embel promosinya gak bisa diikutsertakan hehe.
Untuk visa, orang yang jauh dari Jakarta kayak aku lebih ribet dan boncos lagi. Kudu mikirin tiket transportasinya pula huhuhu, makanya kalau esok-esok urus visa lagi sayang kl cuma sebentar di Eropanya haha
Jardin de Luxembourg ini cantik sekali ya. Luas dan rapi. Dengan latar bangunan yang megah dan indah. Bikin hati tenang. Eropa emang beda sih auranya.
Kapan lha Indonesia punya taman secantik ini? Hahahaha
Tadi aku juga mikir itu kapal mainnya pakai tongkat apa cuma dipinggir-pinggir aja? Karena kalau sampai ke tengah, tongkat pendek itu pasti nggak nyampai buat ambil hehehe…
Kalau kapalnya ke tengah, bocilnya cuma pasrah kayaknya haha
Jadi keinget kalau nonton drama atau film yang settingnya zaman dulu tu emang selalu digambarkan lingkungan rumah bangsawan dengan kebun dan banyaknya pohon yang luas 😀
Ternyata ada aja nih zaman dulu pemimpin dzolim yang malah mengabaikan pohon2 tapi fokue ke real estate, kok kelakuannya masih relate dengan oknum pemimpin di zaman sekarang *eaaa 😛
Untungnya pemimpin setelah revolusi lebih sadar untuk menjaga kelestarian lingkungan yaa.
Jadilah taman yang indah dan sekarang jadi ruang terbuka hijau yang bebas dinikmati masyarakat lokal maupun turis. Widiiihh mengiri saya tuuuhhh 😀
Ironisnya demikian. Makanya kadang kalau nemu pemimpin zalim tuh kepikiran, “lu mental penjajah apa gimana?” hwhw
Ya ampun ternyata taman cantik ini tempat nongkrong Albert Camus bareng gengnya, kalau nulis di situ bisa ketularan kreatif dan jeniusnya beliau kali yaa.. tamannya cantik banget.. jasa pendirinya besar banget ini bikin taman yang dinikmati jutaan orang dari berbagai masa..
Hahaha ya bisa jadi ikutan ketularan kejeniusannya Albert Camus.
Tamannya beneran memangilku untuk duduk bersantai menikmati indahnya taman dan udara yang sejuk. Ah auti anganku melayang ke sana. Taman yang cantik di kota yang cantik.
ini yang kusuka di Eropa banyak taman yang bebas dikunjungi siapapun dengan tujuan apapun, entah mau syuting atau sekedar melepas penat
Keberadaan taman dianggap penting sejak dulu sebagai bagian dari kota. Ini yang Indonesia masih kurang.
Kayaknya saya lumayan sering nemu tempat ini di novel-novel klasik atau modern classic. Kalau di film, adegan terakhir The Happening di sini bukan, Om? 😀
Wah aku belom nonton The Happening
Taman dan tata ruangnya apik sekali, foto-fotonya juga membawaku teringat beberapa adegan film spionase hahaha.
Oh, ya, Mas, mau konfirmasi di paragraf ini: Nah, bagi yang suka seni bisa masuk ke area M*sée du L*xembo*rg yang digunakan senat untuk memajang patung dan seni modern. Museum ini dibuka pada tahun 1979 dengan biaya masuk EUR 15,5 (di tahun 2026). Walau sebetulnya di tahun 1694, sudah dipakai sebagai museum public Bea*x-*rt, dan menjadi museum seni kontemporer pertama pada tahun 1818.
Itu kenapa, ya, diberi tanda bintang di antara kata-katanya?
Haha kayak film-filmnya James Bond ya.
Untuk tanda bintang, itu karena tulisan ini pernah aku sertakan ke grup blogwalking yang memang melarang promosi merek tertentu, dan karena museum itu berbayar, jadi harus disamarka seperti itu. Tapi karena jeda BWnya udah selesai, nanti aku lengkapi lagi nama tempatnya.