Bacaan

meresap saripati perjalanan – MENGHIRUP DUNIA –

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

.

Menghirup Dunia

| 2015 | Penulis : Fabiola Lawalata, Agata Filiana, Fahmi Anhar,

Mindy Jordan, Noni Khairani, Taufan Gio | Penyunting : Adinto F.Susanto |

| Perancang Sampul : Wesfixity | Penata Letak : Fransiska Dian |

| Penerbit : Grasindo | ISBN : 978-602-251-9980 |

| Cetakan Pertama, Mei 2005, 236 hal | Harga : Rp.45.000 |

| Skor ala Omnduut : 7.8/10 | Rating Goodreads : 4.3/5 |

Buru-buru saya minta maaf kepada Tuhan, di balik tragedi yang membuat saya menghakimi bahwa dunia ini jahat, ternyata masih ada kebaikan-kebaikan di sekelilingnya.” Hal.231

Apa hakikat dari sebuah perjalanan? Bisa jadi tidak ada satu rumusan pasti jawaban dari pertanyaan itu. Jutaan orang melakukan perjalanan tiap harinya. Orang bisa bepergian karena keinginan atau juga bisa karena desakan. Desakan kehidupan. Salah satunya seperti yang tertuang di kisah Balada Pejuang Devisa di mana dikisahkan bahwa penulisnya harus bertemu seorang TKI yang melakukan perjalanan demi keluarga. “Wah senang ya Mas, mau jalan-jalan. Lha saya ke sana mau kerja,” Hal.209.

Sebagian lagi orang melakukan perjalanan sebagai pelarian. Pelarian dari ketidakjelasan urusan hati dan berharap dapat menemukan jawaban dari perjalanan yang dilakukan. Seperti yang tertulis di kisah Malaikat Bercelana Pendek di Ho Chi Minh City. “Dalam sebuah perjalanan terkadang bukan hanya keindahan pemandangan yang harus kita syukuri tetapi juga pertemuan dengan orang-orang yang tidak pernah kita duga.” Hal.22

private-t_635629600159879686

Kota penuh kenangan bagi penulis “Malaikat Bercelana Pendek di Ho Chi Minh City”.  Source : govietnam dot info

“Saya yang akhirnya kehilangan satu cinta pada perjalanan kali ini pasti akan menemukan cinta lain di perjalanan berikutnya,” Hal.22. Yup, benar sekali. Dengan melakukan perjalanan, kita dimungkinkan untuk mendapatkan hal-hal baru. Baik itu pengalaman, keberuntungan dan tentu saja tidak menutup kemungkinan : cinta yang baru.

Hal apa lagi yang dapat orang dapatkan dari sebuah perjalanan? Yakni, perubahan pandangan terhadap sesuatu. Perjalanan menuntut seseorang untuk keluar dari zona-zona pikiran sempit yang sebelumnya bersemayam. “Awas orang suku ini biasanya jahat,” atau, “Jangan pernah berkunjung ke daerah itu, berbahaya!” Padahal, kita tidak akan pernah tahu suatu keadaan jika tidak pernah mengalaminya secara langsung, kan? Seperti kisah Mematahkan Prasangka di Poznan. “Kebaikan yang saya rasakan selama seminggu di Polandia menghapuskan semua prasangka buruk terhadap orang-orang Eropa Timur yang kerap kali saya dengar… Baik atau tidaknya orang tidak berdasarkan asal seseorang.” Hal.91.

Poznan-city-square-sunset-PPS2

Pelajaran berharga di Poznan. Source : findingtheuniverse dot com

Lalu, apa yang paling menyenangkan dari sebuah perjalanan? Dapat menemukan hal-hal menarik dari kebudayaan asing. Hal yang biasa dari sebuah daerah bisa jadi menjadi hal yang spesial bahkan (di)sakral(kan) di daerah/negara lain. Hal menarik mengenai ini dapat ditemukan di kisah lelaki India bernama Sabu di Demi Kumis Hindustan. “Walau berpandangan modern, tapi Sabu masih memegang teguh adat budaya lokal India Selatan. Apalagi kalau bukan memelihara kumis di wajahnya. Menurutnya kumis adalah bagian tak terpisahkan dari lelaki. Laksana merak dengan buntutnya, kumis pada manusia pun berguna untuk menarik pasangan.” Hal.162.

Terlepas dari itu semua, rasanya tidak ada hal yang paling menyenangkan dari sebuah perjalanan ketika kita dapat bertemu dengan oran-orang baik. Orang-orang yang mendadak diturunkan Tuhan untuk menjadi penyelamat saat kita menemukan kesulitan dalam perjalanan. Terlebih kita dapat memperoleh saripati kehidupan dari orang-orang tersebut. Betul, kan? “Bicaralah dengan orang asing saat traveling, berilah sedikit kepercayaanmu kepada orang asing, bertanyalah saat tersesat, duduklah dan bercakaplah dengan mereka. Siapa tahu ada pelajaran di balik semua pengalaman itu.” Hal.178

* * *

Menghidup Dunia adalah buku keroyokan yang ditulis oleh para travel blogger keren nan ketje yang namanya dapat dilihat di sampul buku. Sebagian sudah aku kenal baik (maaf di strikethrough, nggak enak, ntar disangka ngaku-ngaku hehe), namun sebagian lagi baru aku ketahui takkala membaca buku ini. Yang aku tahu. dari sebuah obrolan di aplikasi chatting melalui handphone, tercetuslah ide pembuatan buku ini dan hola setelah dua tahun, lahirlah buku berkaver cantik ini.

Sebagaimana halnya buku yang ditulis secara keroyokan, kecendrungan untuk adanya gap gaya penulisan tentu tak dapat dihindarkan. Namun, menurutku, para penulis di buku ini berhasil menyamarkan hal itu. Masing-masing penulis berusaha untuk melebur menjadi satu walaupun ada hal-hal yang tidak dapat dibohongi, terutama ketika dialog mulai bermain. Penuturan lawan bicara akan serta merta membedakan bahwa, “oh oke, cerita ini ditulis oleh perempuan,” ataupun sebaliknya.

Oh ya, masih berkaitan dengan penulisnya, ada hal yang di awal sempat memunculkan protes di hati kecilku. Yakni mengenai nama penulis yang tidak dicantumkan di bagian judul cerita. Tapi belakangan aku menyadari bahwa bisa jadi hal ini dimaksudkan untuk menjaga keutuhan buku ini agar kian terasa menyatu. Di lain sisi, bisa jadi hal itu merupakan strategi agar pembaca menebak siapa menulis apa sehingga mau tidak mau pembaca akan mencari tahu dan berusaha mengenal para penulis melalui blog atau akun sosial media mereka. Jempolaaaan. 🙂

shutterstock_99769550_940_529_80_s_c1

Jaisalmer, salah satu kota yang dijadikan setting cerita buku ini. Jadi menyesal nggak jadi ke sini dulu >.< source : naturalhighsafaris dot com

Buku ini ditulis dengan baik, ringan dan mengalir. Terdapat beberapa foto di masing-masing cerita sehingga pembaca dapat lebih merasakan nafas kisah yang ada di dalamnya. Tidak masalah ketika foto dicetak hitam putih (tentu hal ini untuk menekan harga buku), toh imajanasi pembaca itu tidak terbatas, kan?

Jika bicara kelemahan, ada satu poin di buku ini yang menurutku tidak perlu. Yakni keberadaan informasi singkat mengenai daerah/kota/negara yang ditulis. Kenapa? Karena informasi mengenai hal ini  sangat dinamis. Satu hal yang dituliskan sekarang bisa jadi tidak berlaku lagi 1 atau 2 bulan yang akan datang. Contohnya saja informasi mengenai VISA India yang ditulis bahwa VISA dapat peroleh dengan cara VOA (Visa on Arrival) di bandara tujuan padahal hal ini sudah tidak berlaku lagi sejak akhir tahun lalu (sehingga pengunjung harus apply e-VISA secara online). Dalam hal ini, pembaca harus lebih jeli dan harus melakukan cross check sehingga informasinya lebih aktual dan valid.

Namun, terlepas dari hal itu Menghirup Dunia adalah sajian yang sangat menarik. Kapan lagi coba kita dapat menyerap sebagian saripati perjalanan dari blogger-blogger kampiun ini. Membaca buku ini kita seolah-olah diajak untuk Menghirup Dunia! Sementara melalui tulisan namun tidak menutup kemungkinan kelak kita akan dapat betul-betul menghirup udara di tempat-tempat yang diceritakan di buku ini. Semoga!

Iklan

98 thoughts on “meresap saripati perjalanan – MENGHIRUP DUNIA –

  1. Aku salut sama org yg demen traveling & berpetualang. Krn aku orangnya anak-rumahan, hehehe. Nggak suka pergi2 apalagi liburan keluar kota (kecuali terpaksa). Jadi kuanggap tinggal di Oz setahun ini merupakan rapelan dr liburan selama beberapa tahun kebelakang & kedepan 😆

    • Soalnya temenku udah sampe di KLIA2 Dit dan dilarang terbang karena gak punya Visa. Nyesek nggak tuh? tiket PP udah ada, hotel udah dipesen eh dia kira masih bisa VOA. Sekarang VOA bener2 dihapuskan, jadi kita kudu apply dulu secara online. Lebih praktis sih, karena banyak cerita gak asyik seputar antri VOA ini di bandara India sana 🙂

  2. Aku tahu mereview buku butuh kesabaran, membaca dari awal sampai akhir, sambil mencatat point-point penting. Jadi aku kagum pada kesabaran dan kemampuanmu untuk menuliskannya dengan baik Mas sehingga saya dapat gambaran ttg isi buku ini 🙂

    • Tak jarang aku gagal mereview mbak 🙂 karena hal-hal sepeleh misalnya catatan penting yang ditulis di ponsel raib takkala si ponsel tewas 🙂

      Makasih udah komen mbak Evi. Sedihnya aku masih gak bisa komen di blognya hiks

  3. “Dalam sebuah perjalanan terkadang bukan hanya keindahan pemandangan yang harus kita syukuri tetapi juga pertemuan dengan orang-orang yang tidak pernah kita duga.”

    Kalimat tersebut, memotivasiku untuk membeli, membaca, dan meresapi buku ini.

    Terima kasih, anak muda.

    *di cover tertera nama Taufan Gio. Aku baru sadar, ternyata dia adalah orang yang nge-add aku di FB sejak beberapa minggu lalu. Mungkin bbrp bulan lalu.

  4. Saya belum sempat juga menghirup dunia yang dijelajahi oleh mereka. Belum sempat singgah di toko buku terdekat.

    Tapi, karena satu dari sekian ulasan tentang buku ini, saya merasa perlu berinvestasi supaya turut menghirup dunia bersama mereka 🙂

  5. Belum sempet mampir toko buku pdhl pengen bgt IH. Bali kadang suka telat masuknya 😒 *lapor mbak Noni/kak Feb*
    Aku sendiri aktif traveling baru 2thn blakangan ini Oom dan alhamdulillah ada perubahan yg positif ya.. Salah satunya ga narrow-minded. Semoga seterusnya bisa travelling lg, atau next time kita traveling bareng lah 😀 hihihi

  6. Om, nanti kalau suatu hari aku ada di tepi Sungai Musi dan ingin menghirup dunia yang ada di atasnya, temenin yak :hihi. Review yang keren! Saya belum menyelesaikan membacanya tapi buku ini, saya harus setuju, keren. Perjalanan memang sangat memperkaya karena begitu memperluas sudut pandang. Ah, tapi saat-saat tidak sedang berjalan pun juga jadi diperkaya karena kita jadi punya waktu merenungkan apa yang sudah kita temukan sepanjang perjalanan. Salut!

  7. Karena setiap perjalanan itu memberikan sebuah makna dan ketika kembali lagi dari satu perjalanan ke perjalanan suatua saat kita sadar bahwa dengan menghirup dunia kita telah meresesapi setiap perjalanan dengan syukur *ngomong opo iki*

  8. Tadi udah posting komen, tapi kayanya gagal. Padahal dah panjang-panjang ngetiknya 😓

    Ah melihat postingan ini aku jadi ingat kalau punya hutangan. Tugas mereview buku yang sama hehe …

    Kayaknya kasusnya hampir mirip ya? Pas baca buku ini, aku protes kok gak ada nama penulisnya di masing-masing cerita. Jadinya khan aku kesulitan untuk memberikan compliment secara langsung. Soalnya dari semua penulis yang menulis di buku ini, aku cuma kenal satu orang saja.

    By the way nice post mas, it’s kinda friendly reminder to me.

  9. dari buku itu, dua yang aku kenal dan tau tempat mana yang sudah dijejaki. Nice review… jadi kalau ke INdia aku harus berhati2 dg yang berkumis, takut “tertarik” hehehe

  10. OmNduuuut! makasih reviewnya, detail banget! semoga buku ini bermanfaat buat banyak orang & memotivasi untuk lebih menikmati setiap perjalanan dengan berinteraksi. Jangan pada sibuk dengan kamera & gadgetnya aja. Hehe

    Semoga kita pun bisa berkolaborasi berkarya. | #Kode

  11. OmNduuuut! makasih reviewnya, detail banget! semoga buku ini bermanfaat buat banyak orang & memotivasi untuk lebih menikmati setiap perjalanan dengan berinteraksi. Jangan pada sibuk dengan kamera & gadgetnya aja. Hehehe

    Semoga kita pun bisa berkolaborasi berkarya. | #Kode

  12. semakin banyak buku mengenai travelling … semakin asyikk … semakin banyak orang yang tergugah untuk jalan2 …. mudah2-an banyak juga mengenai travelling di indonesia … supaya memajukan perekonomian indonesia …

  13. Ping-balik: Kami Sudah Menghirup Dunia | Kamu? - DISGiOVERY

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s