Beberapa hari yang lalu aku menerima broadcast pesan di ponsel. Isinya ajakan untuk membantu meringankan beban keluarga Ilham, balita berusia 6 bulan yang harus berjuang menghadapi hydrocephalus sejak berusia 3 bulan. Begitu melihat fotonya terpampang di PP (Photo Profile) sahabatku –Teddy, aku terenyuh. Sedih sekali mendapati balita namun telah berjuang keras melawan penyakit sedemikian hebat. Sebetulnya, dulu ada tetanggaku yang juga berjuang menghadapi hydrocephalus namun seingatku, kepalanya membesar rata tidak lonjong ke atas seperti Ilham ini.
Dengan bantuan seadanya, aku mengirimkan sedikit uang ke rekening Netty –istri Teddy yang juga temanku satu SMA dulu. Ternyata Netty ini juga ‘penyambung lidah’. Ia mengetahui keberadaan Ilham dari Laili –adik tingkat di Universitas Sriwijaya. Ternyata oh ternyata, Laili juga tahu keberadaan Ilham dari ayuk Eva (ayuk itu sapaan kakak perempuan di Palembang) yang bekerja sebagai apoteker di RS Umum Muhammad Hosein Palembang.
Tanpa ba-bi-bu, uang aku transfer ke rekening Netty. Kebetulan kami menggunakan rekening bank yang sama, sehingga aku bisa transfer menggunakan fasilitas m-banking. “Hmm, jumlahnya sedikit sekali. Apa aku broadcast ulang ke kontakku, ya?” batinku. Aku lalu meminta izin kepada Netty agar diperbolehkan menyebarkan kabar ini. Alhamdulillah Netty mengizinkan. Jadilah, aku menulis ulang pesan tersebut dan aku sebarkan ke semua kontakku. Aku mengenak dekat Teddy dan Netty. Tidak ada sedikitpun keraguanku terhadap sahabatku ini. Sehingga, aku menyebarkan pesan dengan hati ‘ringan’.
Targetku adalah 100-an kontak ex teman kantorku dulu. Aku yakin 99% dari mereka menggunakan fasilitas m-banking. Target awalku, jika masing-masing dari mereka menyumbang Rp.10.000 saja, maka akan terkumpul dana Rp. 1 juta lebih. Sangat lumayan dibandingkan sumbanganku sebelumnya yang sangat ala kadarnya.
Apa yang terjadi? Ternyata reaksi yang aku terima lebih dari yang aku bayangkan. Walaupun tidak semua teman-teman ex kantorku merespon, namun dari sekitar 35 orang yang merespon, aku bisa mengumpulkan dana lebih dari Rp. 8 juta rupiah! Alhamdulillah…
Sebagian dana tersebut ditransfer ke rekening Netty. Sebagian temanku yang lain merasa lebih nyaman menggunakan rekeningku sehingga sebagian lagi dana mengalir ke rekeningku. Ternyata gak hanya teman ex kantor yang merespon. Beberapa teman-teman yang lain juga merespon dengan baik plus memberikan kata-kata yang teduh. “Jangan lupa ajak-ajak lagi untuk ‘bangun rumah di surga’ ya!” sahut beberapa teman. Ah, aku terharu…
Setelah dana terkumpul banyak beberapa teman bertanya agak serius. “Benar ya Ilham dirawat di RSMH? Kamu udah lihat langsung, Yan?” tanya mereka. Eh, iya juga ya. Aku memang tidak tahu secara langsung keberadaan Ilham. Hanya dari foto saja. Berulang-ulang aku meyakinkan bahwa InsyaAllah aku yakin dengan sahabat-sahabatku yang menyebarkan kabar ini. Tapi… aku sempat kepikiran juga. “Ini amanat banyak teman. Apa jadinya jika dana tersebut ternyata tidak sampai ke Ilham?”
Kekhawatiran itu menjadikanku ingin bertemu langsung dengan keluarga Ilham. Sebelumnya, aku tidak ada niat untuk berkunjung langsung ke RS. Cukuplah diwakilkan teman-temanku saja. Tapi, pertanyaan seputar Ilham datang bertubi-tubi. Seperti, “darimana Ilham berasal? Apa pekerjaan orang tuanya? Apakah tidak ada jaminan kesehatan dari pemerintah” dan masih banyak lagi.
Baiklah, demi amanat yang besar, aku lalu memutuskan untuk menjenguk langsung di RS. Apalagi beberapa teman ex kantor dulu juga mau ikutan jenguk ke RS. Namun, niat baik adaaaa aja halangannya ya 🙂 Dimulai hujan lebat, jadwal yang tidak klop hingga halangan-halangan lainnya. Dana Rp.8 juta lebih masih aku simpan. Ternyata ada hikmah dibalik itu semua…
Tanggal 29 malam, aku kembali broadcast pesan berisi ‘laporan keuangan’ yang berisi daftar nama relawan sedekah beserta total jumlahnya. Tentu saja ini demi transparansi, namun demi menjaga rasa nyaman teman-teman, nama mereka aku singat sehingga tidak terlalu mencolok. Mendapati broadcast pesan yang kedua ini, teman-teman yang belum sempat atau kelupaan tentang rencana sumbangan ini jadi teringat kembali. Hasilnya? Dalam hitungan jam, aku dan Netty kembali berhasil mengumpulkan dana Rp.3 juta lebih! Alhamdulillah.
Selasa pagi, 30 April, aku, Teddy dan Laili memutuskan untuk menjenguk ke RS. Netty tidak bisa ikut karena harus bekerja. Untung Teddy sedang off sehingga bisa menemaniku. Setelah berjam-jam menunggu jam besuk dibuka, akhirnya aku bisa bertemu langsung dengan Ilham. Alhamdulillah… senang sekali rasanya.
Ilham itu…. Sungguh! Aslinya cakeeeeppp banget! Kulitnya putih bersih. Badannya berisi, bulu matanya lentik, hidungnya mancung dan dagunya belah. Wah tampannyaaa… sayang ketika kami datang, Ilham sedang tertidur. Di rumah sakit, di kamar sempit kelas 3 kami hanya bertemu dengan Ibu Nurhasanah, -ibu Ilham yang setia menjaga Ilham sejak pertama kali dirawat. Alhamdulillah kedatangan kami disambut baik. Tidak terlalu banyak yang kami obrolkan. Sebagian besar kondisi Ilham aku ketahui dari ayuk Eva.
“Ayuk ketemu Bu Nurhasanah itu nggak sengaja. Waktu itu dia baru datang dari Lubuk Linggau dan terduduk lemas seorang diri,” ujar ayuk Eva. “Suami ibu ini harus bekerja sebagai buruh sawit di Lampung. Waktu itu mereka kesulitan mendapatkan kamar, alhamdulillah setelah sedikit membohongi petugas RS dengan mengatakan Ilham masih saudara ayuk, kamar bisa didapat cepat” sahut ayuk Eva lagi.
Hmm… cerita ‘kuno’ dari pemegang kartu askin ya. Memang semua biaya ditanggung pemerintah. Namun, prosesnya butuh perjuangan. Untuk mendapatkan kamar pun jika tidak dibantu ‘orang dalam’ seperti yang dilakukan ayuk Eva bisa jadi Ilham akan lebih lama lagi diambil tindakan. Piuhhh…
Ilham ditempatkan di kamar yang berisi 3 pasien lainnya. Di sana, kami bertemu Ariel ^^ yang ternyata juga pernah berjuang menghadapi hydrocephalus. Memang kepala Ariel sudah tampak normal sekarang. Namun, karena lamban mendapat tindakan, Ariel kini tidak bisa melihat lagi karena syaraf matanya bermasalah ketika dulu kepalanya membesar. Astagfirullah…
Tidak lama kemudian kami pamit pulang. Kami mengajak Ibu Nurhasanah ke luar kamar untuk memberikan uang sumbangan yang sudah kami kumpulkan. Apa reaksi Ibu Nurhasanah? Bisa ditebak… beliau sangat terharu dan menangis dipelukan ayuk Eva dan berulang-ulang mengatakan rasa ungkapan terima kasih terhadap kami semua. Aaah… sangat mengharukan. Tapi di sisi lain aku senang. Total dana Rp. 11.925.000 yang berhasil kami kumpulkan selama 2 hari dengan bermodal pesan di ponsel sudah disampaikan ke keluarga Ilham secara langsung. Lenyap sudah semua keraguan. Apa yang kami temui sudah jelas terlihat bahwa Ihlam memang ada dan dia membutuhkan perhatian kita semua.

Angkanya sengaja ditulis demi transparansi. Eh, ini si hanoman kok narsis banget? hihihihi. Ibu Nurhasanah lagi nangis tuh.
Subhanallah ya Yan teman-temanmu *setor jempol*
Semoga bantuannya bisa membantu Ilham supaya lekas sembuh. Aamiin
Amin 🙂 aku sama teman-teman hanya penyambung lidah mb Dian ^^
Ikutan nangis bener neh…. moga universal coverage bisa terwujud dgn baik ya….
Makasih ya mbak Ika 🙂 Juga buat partisipasinya yang menjadikan jumlah sumbangan ini layak diberikan 🙂
luar biasa ms…luar biasa :”) jujur saya belum pernah nyumbang untuk orang saket
Yang kami (bukan hanya aku lho ya ^^) lakukan tak lebih dari perpanjangan tangan dan niat tulus untuk membantu, Teuku. Ya alhamdulillah jika apa yang sudah dilakukan bisa bermanfaat banyak. 🙂
😦 terharuuuu
*kasih tisu*
hiks….. sedih….
Iya… 😦 Semoga Ilham segera diberi kesembuhan ya mas Rifki. amin.
SUBHANALLAH!
Touchy!
U make my eyes truly glassy this morning. Insya Allah, Ilham akan baik2 saja, considering, there are many great people like u and ur friend around him. May Allah always love and bless him, u and ur friend!
Aaah, aku dan teman-teman hanya penyambung lidah Ncha 🙂 But, makasih untuk doanya ya. Mudah-mudahan makin banyak yang mendoakan dan makin mudahlah Ilham mendapatkan kesembuhan. Amin 😉
Semoga Ilham cepat sembuh ya Thin, terharu bacanya, hiks hiks
Amiiin 🙂 Makasih juga atas bantuannya ya Din ^^
Ping balik: Hand In Hand : Membantu Sesama Demi Senyuman dan Keceriaan | La Rêveur Vrai