Walau nggak masuk dalam 10 besar kota termahal di dunia, saya ngerasa Amsterdam ini kota yang mahal. Sebelum berangkat aja udah pusing banget nyari akomodasi. Penginapan mahal bener walau letaknya di pinggiran. Sekalinya dapet host di couchsurfing eh diajakin ngeganja. Untunglah saya ini pemuda baik-baik, berzodiak gemini dan tahan godaan. Kalau nggak, mungkin udah ikutan teler haha. Eh tapi, apa nggak ada godaan lain di Amsterdam yang nggak bikin saya tergoda? Aduh!
Oke balik-balik soal Amsterdam yang mahal tadi. Untungnya, objek wisata di sekitaran Amsterdam ini mostly gratis. Setelah di hari pertama saya mengunjungi Zaanse Schans untuk melihat kincir angin dan main-main ke Desa Nelayan di Volendam, di hari kedua, saya sengaja eksplorasi kanal-kanal dan beberapa tempat wisata lain di pusat kota Amsterdam yang sepenuhnya gratis, ayey!

Suasana kota Amsterdam

Lingkungan tempat tinggal host kami
Eh tapi, ternyata ada banyak kengerian yang saya temuin selama berjalan kaki di kota kanal ini. “Ah paling ini click bait aja judulnya.” Hahaha, iya emang iyaaa, nggak ngeri yang gimana banget kok, seperti hampir dicopet di Paris misalnya. Tapi, ya kalian baca aja sampai akhir ya untuk mengetahui kengerian apa yang saya maksudkan. *modus biar tulisan dibaca sampe kelar lol.
Malaikat Pencabut Nyawa di Alun-alun Amsterdam
Amsterdam Square atau Alun-alun Amsterdam nama aslinya malah Dam Square yang sebagaimana di Indonesia, kata “dam” ini berarti “bendungan”. Dinamakan demikian, ya karena letaknya hanya 750 meter dari Centraal Station, yang merupakan lokasi asli bendungan Sungai Amstel.

Suasana Amsterdam. Jalur tram kelihatan berada di jalanan.

Menuju Dam Square

Dam Square

Tayangan acara ini dulu sering saya tonton di TV.

Pilar monumen nasional.
Dan ya, sebetulnya dari alun-alun ini, kalau mau menyusuri kanal-kanal kecil yang membelah kota, juga tinggal jalan kaki. Alun-alun ini berbentuk persegi panjang membentang sekitar 200 meter dari barat ke timur dan sekitar 100 meter dari utara ke selatan. Alun-alun ini juga menghubungkan jalan Damrak dan Rokin yang membentang di sepanjang aliran asli Sungai Amstel.
Dari tram yang saya naiki, tinggal jalan kaki sedikit aja udah langsung tiba di alun-alun ini. Dari sudut manapun, akan mudah terlihat sebuah bangunan besar yang ternyata dari tahun 1655 digunakan sebagai balai kota namun fungsinya berubah menjadi kediaman kerajaan pada tahun 1808. Ini adalah istana kerajaan yang mengadaptasi arsitektur neoklasik. Nggak yang sebegitu megah tapi tetap saja memukau!
Tak jauh dari istana ini berdiri pula Monumen Nasional berupa pilar batu putih rancangan J.J.P. Oud dan didirikan pada tahun 1956 untuk mengenang para korban Perang Dunia II. Ya, Selama Perang Dunia II, Belanda diduduki oleh Nazi Jerman. Pada tanggal 7 Mei 1945, dua hari setelah Jerman menyerah, ribuan orang Belanda menunggu kedatangan pasukan Kanada di alun-alun Dam di Amsterdam.
Di Grote Club, di sudut Kalverstraat dan Paleisstraat, anggota Kriegsmarine Jerman menyaksikan kerumunan di bawah balkon mereka bertambah dan orang-orang menari dan bersorak. Lalu, satu hal yang mengerikan terjadi…..

Alun-alun yang digunakan oleh para seniman membuat pertunjukkan.
Tentara Jerman kemudian meletakkan senapan mesin di balkon dan mulai menembaki kerumunan. Motif di balik penembakan itu masih belum jelas yakni antara tentara Jerman itu mabuk atau mungkin marah karena bertentangan dengan perjanjian yang dilakukan sebelumnya.
Penembakan itu akhirnya berakhir setelah seorang anggota perlawanan Belanda naik ke menara istana kerajaan dan mulai menembak ke balkon dan ke arah dalam klub. Pada saat itu, seorang perwira Jerman bersama seorang komandan Perlawanan menemukan jalan mereka ke dalam klub dan meyakinkan orang-orang tersebut untuk menyerah.
Atas kejadian ini, 120 orang terluka parah dan 22 orang dinyatakan tewas. Ironisnya, pada tahun 2013, bukti lain mengungkapkan bahwa jumlah korbannya mungkin lebih tinggi yakni kemungkinan 33 orang meninggal, dan ada 10 kemungkinan korban lainnya yang belum dikonfirmasi.

Romantis amaaat.

Malaikat pencabut nyawanya cinta Amsterdam hahaha

Ini Darth Vader kan?
Ketika saya berada di sana, tentu saja tak tampak lagi sisa-sisa kejadian mengerikan itu. Yang ada, saya ikutan menikmati keadaan. Melihat sepasang manula duduk bersama, orang-orang berkerumun dan melihat atraksi jalanan hingga melihat secara langsung orang memakai kostum malaikat kematian.
Ini dia kengerian pertama yang saya maksudkan di judul tulisan. Saya sih nggak ngeri dengan orang berkostum malaikat pencabut nyawa. Saya ngerinya ya dengan manusia-manusia yang keji dan gak sungkan menghabisi nyawalainnya sebagaimana tentara jerman yang brutal itu.
Menyusuri Kanal Situs Warisan Dunia
Amsterdam memiliki lebih dari 100 kilometer grachten (kanal), sekitar 90 pulau, dan 1.500 jembatan. Tiga kanal utama (Herengracht, Prinsengracht dan Keizersgracht), yang digali pada abad ke-17 pada Zaman Keemasan Belanda, membentuk sabuk konsentris di sekeliling kota, yang dikenal sebagai Grachtengordel.

Mobil dan perahu sama-sama parkir.

Serunya jika bisa berperahu kayak gini.

Kebayang harga properti di sini

Boleh pinjam sepeda atau perahunya? 😀
Di samping kanal utama terdapat 1.550 bangunan monumental. Kawasan lingkar kanal abad ke-17, termasuk Prinsengracht, Keizersgracht, Herengracht, dan Jordaan. Dengan segala macam fakta pendukung ini, nggak heran jika Amsterdam, terutama kanalnya terdaftar sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 2010, berkontribusi pada ketenaran Amsterdam sebagai “Venesia dari Utara”.
Dari Dam Square, saya cukup berjalan kaki menuju kanal yang tersebar di kota ini. Ya, ibaratnya jalan dikit pasti akan nemu kanal. Bangunan-bangunan yang berdiri di sepanjang kanal pun khas. Walaupun ukurannya tak terlalu besar, namun eksterior bergaya abad pertengahan.
Tadinya, saya kira jalanan di Amsterdam ini sempit sekali dan hanya dapat dilalui sepeda. Nyatanya, di beberapa ruas mobil masih bisa lewat selama satu jalur, ya. Bahkan tram pun bisa lewat.
Oh ya ngomongin sepeda, ini adalah kota dengan jumlah sepeda jauh lebih banyak ketimbang jumlah penduduknya. Tercatat, 900 ribu sepeda dengan 625 ribu perjalanan dilakukan setiap hari. Padahal, jumlah penduduknya hanya 821 ribu orang.

Walau sudah terikat rantai di pohon, tapi masih banyak kasus pencurian sepeda.

Kapan lagi pose kayak gini hehe

Kelihatan kan tramnya melintasi jembatan di kanal?
Di mana-mana terlihat sepeda yang terparkir. Ingin rasanya bisa mengeksplor Amsterdam menggunakan sepeda. Apalagi, cuaca musim gugur saya rasa cocok digunakan untuk mengayuh. Ya sekalian menghangatkan badan. Tapi, mau pinjam siapa? Saat itu ya gak kepikir nyari penyewan juga, sih.
Sejak dulu saya dengar kalau di Belanda air laut bahkan lebih tinggi dari daratan. Tapi, berkat pengaturan jenius, ya Amsterdam bisa berdiri sampai sekarang. Sebagian besar sistem kanal Amsterdam merupakan hasil keberhasilan perencanaan kota. Pada awal abad ke-17, seiring dengan meningkatnya imigrasi, sebuah rencana komprehensif disusun, yang menyerukan pembangunan empat kanal utama berbentuk setengah lingkaran yang konsentris dan ujungnya bertumpu pada Teluk IJ.
Dikenal sebagai “grachtengordel”, tiga kanal sebagian besar digunakan untuk pembangunan pemukiman (Herengracht atau Kanal Patricians, Keizersgracht atau Kanal Kaisar, dan Prinsengracht atau Kanal Pangeran), dan kanal keempat, kanal luar, Singelgracht, untuk tujuan pertahanan dan pengelolaan air.

Ntah ini gereja apa. Hanya bisa lihat dari jauh.

Mobil berukuran kecil terparkir di pinggir kanal

Bangunan bergaya unik di sekitaran kanal

Cruise menyusuri kanal di Amsterdam

Bersepeda adalah kegiatan warga lokal sehari-hari
Airnya pun bersih! Walaupun di beberapa video saya lihat bagian dalam kanal ini juga banyak sampah, yang sebagian besar sepeda! Hingga pertengahan abad ke-19, air di kanal-kanal tersebut tergenang dan tidak sehat, penuh dengan sampah, ikan mati, dan penuh kotoran.
Untuk mengatasi hal ini, pada tahun 1879 stasiun pompa bertenaga uap Gemaal Zeeburg dibangun untuk menyiram saluran-saluran menggunakan air dari Zuiderzee. Kondisi semakin membaik pada tahun 1935 ketika pusat kota pertama kali dihubungkan ke sistem saluran pembuangan, meskipun Grachtengordel belum sepenuhnya terhubung hingga tahun 1987.
Sumber pencemaran air lainnya, khususnya pada pola transportasi Belanda, adalah sepeda. Setiap tahunnya, antara 12.000 dan 15.000 sepeda ditarik keluar dari kanal dalam apa yang dalam bahasa sehari-hari disebut sebagai ‘bike fishing’ (fietsen vissen).
Saat menuliskan hal ini, saya baru sadar jika ada banyak sekali area di Amsterdam yang seharusnya saya datangi saat itu. Apa boleh buat, waktu terbatas dan juga kondisi dingin bikin nggak betah berlama-lama di luar ruangan. Ngeri kalau masuk angin, mau cari tukang kerok susah soalnya hahaha. Ini kengerian kedua yang saya maksudkan dari judul tulisan ini hehehe.
Menyeberang Sungai di Amsterdam Centraal
Amsterdam Centraal mungkin lebih dikenal sebagai stasiun kereta api terbesar dan jadi pusat kereta api internasional utama mengingat stasiun ini digunakan oleh 192.000 penumpang setiap hari, menjadikannya stasiun kereta api tersibuk kedua di negara ini setelah Utrecht Centraal dan Rijksmonument yang paling banyak dikunjungi di Belanda.

Stasiun kereta terbesar di Amsterdam

Seberang Amsterdam Centraal

Salah satu peron di Amsterdam Centraal
Faktanya, di sini nggak hanya ada stasiun. Saat melakukan perjalanan ke Zaanse Schans dan Volendam kami naik busnya ya dari sini juga. Nggak salah jika disebut sentral sebab stasiun ini terhubung dengan banyak sekali moda transportasi.
Dirancang oleh arsitek Belanda Pierre Cuypers dan dibuka pada tahun 1889. Amsterdam Centraal menampilkan bangunan stasiun Kebangkitan Renaisans bergaya Gotik dan atap platform besi cor yang membentang sekitar 40 meter.
Sejak tahun 1997, gedung stasiun, lorong bawah tanah, stasiun metro, dan kawasan sekitarnya telah menjalani pekerjaan rekonstruksi dan renovasi besar-besaran untuk mengakomodasi jalur metro Jalur Utara-Selatan. Amsterdam Centraal juga memiliki jalur kereta api terpanjang kedua platform di Belanda dengan panjang 695 meter.
Selama di Amsterdam, saya dan adik kerap mendatangi Amsterdam Centraal ini sekadar untuk duduk santai atau makan. Hehe, sebab restoran kebab favorit kami berada di sini dan harganya relatif bersahabat.

Banyak sepeda terparkir di luar.

Bagian dalam kapal. Cukup besar.
Satu kali, kami iseng mendekat ke arah dermaga dan mendapati tumpukan sepeda yang terparkir di sana. Terlihat juga kapal yang bolak-balik membawa penumpang. Sesaat saya lihat, nggak ada tanda-tanda orang harus membayar ketika menggunakan kapal itu.
Iseng saja kami masuk dan ikut menyeberang. Eh benar, rupanya ini kapal gratis yang sepertinya diberikan oleh pemerintah untuk mengakomodir kebutuhan warga. Tak hanya orang tapi sepeda bahkan sepeda motor pun dapat diangkut gratis!

Bangunan bergaya lebih modern di sisi lain Amsterdam Centraal
Saya nggak tahu tujuan kapal-kapal ini ke mana, pokoknya ikutan nyeberang aja gitu dan ya udahnya tinggal nyeberang balik. Ngeri sih bakalan diusir atau dimarahin awalnya, tapi buktinya nggak terjadi apa-apa tuh haha. Alhamdulillah, kengerian ini nggak terbukti.
Berpose di Tulisan Ikonik di Rijksmuseum
Ada banyak sekali museum di Amsterdam. Di sekitaran Dam Square tadi ada Maddame Tussauds dan museum Ripley’s Believe It or Not! Sayangnya semuanya berbayar dan karena kami traveler dengan budget ngetat dan pas-pasan, jadilah kami memutuskan untuk nggak ke sana.

Tulisan ikonik yang kini tinggal kenangan.
Tapi, kami sengaja datang ke Rijksmuseum demi melihat langsung tulisan ikonik I AMSTERDAM yang biasanya dijadikan turis sebagai salah satu spot berfoto. Selain di Rijksmuseum, tulisan ini ada juga di Bandara Schipol. Namun, berhubung kami ke Belanda nggak lewat jalur udara, ya udah datang ke yang di pusat kota aja.
Sekilas mengenai Rijksmuseum yang didedikasikan untuk seni dan sejarah. Uniknya, museum ini didirikan di Den Haag pada 19 November 1798 dan kemudian dipindahkan ke Amsterdam pada tahun 1808 di mana pertama kali berlokasi di Istana Kerajaan dan kemudian di Tripphenhuis.
Dirancang oleh Pierre Cuypers dan pertama dibuka pada tahun 1885, Rijksmuseum menjadi museum yang paling banyak dikunjungi di Belanda dengan catatan lebih dari 2,4 juta pengunjung tiap tahunnya.
Rijksmuseum terdiri dari dua persegi dengan atrium di setiap pusatnya. Di poros tengah terdapat terowongan dengan pintu masuk di lantai dasar dan Galeri Kehormatan di lantai pertama. Nah, di terowongan inilah saya sempat melihat pengamen jalanan menunjukkan kebolehannya. Seru liatnya walau saya yakin mereka dapat diusir sewaktu-waktu oleh petugas.

Sisi lain Rijksmuseum

Terowongan Rijksmuseum

Pengamen yang “bersembunyi” di terowongan Rijksmuseum

Patung di sekitaran Rijksmuseum
Berjalan ke sisi depan museum, di sanalah tulisan ikonik itu berada. Wah banyak sekali yang berfoto. Sebagian bahkan berani memanjat hingga ke bagian atas huruf-hurufnya. Saya sih cukup tahu diri ya haha. Bobot tubuh kelebihan banyak sehingga ngeri kalo duduk di atas bisa patah atau roboh.
Jadi, ya saya cukup puas berfoto di sekitaran huruf-huruf raksasa ini saja. Saya cukup beruntung, ketika didatangi di bulan Oktober 2018, saya masih bisa berfoto di tulisan ini. Sebab, di bulan Desember di tahun yang sama, tulisan ini dibongkar karena dianggap mengundang terlalu banyak turis di lokasi yang sempit. Dianggap berbahaya kurang lebih. Wah, padahal sekilas pandangan mata area ini cukup luas, loh! Bahkan, beberapa museum lain juga berada di lokasi yang berdekatan, misalnya saja Van Gogh Museum yang berada di sisi kiri Rijksmuseum.

Lapangan di sekitar Rijksmuseum ini luas.

Pose aman ya paling beginilah

Pengen manjat cuma kok ya ngeri

Van Gogh Museum yang berada tak jauh dari Rijksmuseum

Huaaa cakep amat kotanya. Malah penasaran ama museum Ripley’s, emang harga tiket masuknya berapoa? eh di sana pake euro apa gulden?
Penasaran juga ama museum van gogh.
Etapi ada temen yg baru datang ke negara itu dan langsung kecopetan, emang kudu waspada ya.
Kurang tahu juga karena nggak masuk hehe.
Soal kecopetan emang kudu hati-hati banget sih ya.
kota-kotanya nampak jauh lebih bersih, teratur dan terawat dibandingkan di sini ya rupanya, kak
Begitulah mas. Cakep emang kotanya.
Kalau ngomongin Belanda, saya sendiri suka dengan aktivitas mereka menggunakan sepeda. Saking banyaknya sepeda, sampai-sampai terkumpul di sudut-sudut kota. Dulu, ada kawan kuliah di Belanda dan sering mengirimkan foto sepeda ke saya, termasuk jensi sepeda Bakfiets yang sering digunakan untuk momong anak kecil.
Bahkan, beberapa kolektor sepeda di Indonesia, sering berburu sepeda tua dari Belanda untuk dibawa pulang ke Indonesia.
Tadi aku bingung Bakfiets itu kayak apa. Setelah googling langsung ngeh 🙂 seneng banget kalo bisa diajakin jalan-jalan pake bakfiets ini hahaha
itu sepeda kenapa banyak sekaliii??? sepertinya itu bisa asal ambil gak sie mas habis nya berjejer di setiap sudut jalan, gak ada tempat tanpa sepeda sepertinya…mungkin orang yg mencuri karena dia lupa sepedanya dia taruh dimana jadi asal ambil heheheh…
brarti tulisan “amsterdam” nya itu sekarang gak ada yaa?? beruntung banget masih bisa foto jd ad kenang2an di lokasi yg skrg sudah dipugar 🙂
Gak boleh mbak hwhw, semua ada pemiliknya. Dan sebetulnya itu masing-masing dirantai dan digembok. Tapi ya tetep aja mudah dicuri. Ntah iseng atau gimana, sebab sebagian besar sepeda curian dibuang ke sungai.
Tulisan I AMSterdam adanya di Schipol aja sekarang.
Sangat rapi banget Amsterdam, bikin betah yang berkunjung ini mah. Apalagi berkunjung pas musim gugur, cakep banget, banyak dedaunan gugur sambil bersepeda keliling kota.
Ternyata memang ada kejadian yang mengerikan, pertanyaan saya pas baca judul terjawab sudah, korban jiwa nya banyak juga, sungguh ngeri dan tragis.
Langsung dibikin fall in love sama suasana menyusuri kanal Situs Warisan Dunia, viewnya cakepppp. Kebayang kalau aku kesana, bisa-bisa bikin video terus hehhehe.
Banyak tempat yang bagus dan bersejarah, bisa dikunjungi disini. Beneran harus siapin kamera dan kemampuan motret biar hasil jepretannya sekece jepretan mas Yayan yang udah suhu.
Jadi, kapan ke Amsterdam lagi? Semoga secepatnya yaa, ku do’a kan 😇.
Iya, musim gugur sebenernya oke. Nggak panas, juga belom bersalju (karena aku gak begitu menikmati salju). Hanya waktu terangnya juga lebih pendek. Next kayaknya mau coba musim panas di sana hwhw. Amiin makasih doanya mbak semoga bisa balik lagi ke AMS segera.
Asli deh Om, sepanjang baca tulisan ini saya mandeg berhenti-berhenti pas baca nama-nama tempatnya. Haha. Masya Allah yaa, bikin lidah keriting. Kayaknya setiap tempat, dimanapun pasti ada sejarah yang mengandung unsur-unsur kengeriannya sendiri ya. Untungnya sekarang sudah jadi tempat wisata yang bagus-bagus dan photogenic, jadi nggak kerasa hawa-hawa ngerinya lagi..
Bener banget, alhamdulillah tempatnya rame dan jadi pusat atraksi jalanan buat menarik wisatawan. Ntah kalau malam dan sepi haha, mungkin ada ngeri-ngerina dikit juga.
saya paling seram Mas kalau lihat orang pakai kostum-kostum aneh gitu apalagi kostum seperti itu. Ga kebayang pas kejadian itu bagaimana brutalnya tentara yang melakukan kejahatan itu puluhan nyawa melayang. Btw lihat sepeda di sepanjang jalan pengen keliling Belanda naik sepeda nyaman banget banget ya kayaknya
Aku juga gak suka liatnya. Jadi cuma ambil foto dari jauh trus udah deh hehe.
Semoga nanti ada kesempatan ya amiiin.
Selalu jatuh cinta sama kota Amsterdam, meskipun daku pribadi belum pernah sekalipun kesana. Tapi siapa sih ngga tau kota ini? Bahkan kalo sekedar dikasih foto pun, kayaknya kita bisa langsung nebak.
Aku kalo liat kota ini, selalu deh bandingin sama Jakarta. Banyak sungainya, ramah pesepeda, terus bersih dan estetik pula. Ga kaya disini, udah mah sungainya dikit, kotor, naik sepeda susyeeeeh benerr.. Dan banyak spanduk partai everywhere hahaha
Aku masih suka nemu juga lho di facebook. Ada orang yang mancing pake magnet gitu di sekitaran sungai, dan alamaaak bisa dapet sepeda!! Saking begtiu banyaknya sepeda disana kali yak
Haha bener, aku juga sering liat di facebook videonya.
Soal bersepeda ya, kesadaran orang di sana tinggi dan mayoritas melakukannya jadi emang nyaman banget keliatannya.
Bisa-bisanya lebih banyak sepeda ketimbang penduduknya. Di sini kalau aku pakai sepeda dikira motor lagi kehabisan bensin. Tapi serius kak, pemandangannya bagus ya. Nuansa alun-alun, bangunan khas, jalanan tepian kanal yang disuguhkan beda gitu. Duduk-duduk menikmati pemandangan aja udah bikin aku happy kayaknya.
Hwhw iya, jadi mungkin sepeda untuk kerja atau ngedate beda. Jadi orang bisa punya lebih dari 1 sepeda hwhw
Di Belanda memang rata-rata punya 2 sepeda per orang, satu sepeda buat aktivitas harian, satu lagi untuk olahraga…
Tapi tetap aja terkesima dengan banyaknya sepeda yang tercebur di sungai sampai ada bike fishing…
Aha, ini ternyata perbedaannya. Ternyata satunya untuk berolahraga. Gak heran kalau jumlah sepeda di sana buanyak banget.
adudu, kotanya rapi dan bersih ya Amsterdam itu.. di luar kengeriannya dan mahalnya kota ini, tetep aja aku pengen cobain traveling ke sana, wkwkwk.. belum pernah trip ke eropa 😀
Amin semoga ada kesempatannya.
Seriuuus Amsterdam itu cuma 821rb penduduknya?????😱😱😱😱. Kemarin nanya Ama penduduk Baku, Baku aja ada 2 juta penduduk. Azerbaizan keselurahan 12 juta. Makanya mereka shock pas tahu jakarta doang 20 juta 🤣🤣🤣🤣. Apalagi dibandingin Amsterdam yaa 😅.
Aku tuh juga ga berani naik2 ke tulisan begitu walopun diizinin. Kliatan aja kayaknya rendah dan gampang. Pas dari Deket, eh tinggi juga kan pasti 😄. Sama kayak patung banteng di New york yg lambang pasar saham US, sempet kepikiran mau naik ke kepalanya, ternyata tinggi bangettt. Hahahaha
Pengen ih ke Belanda. Blm tahu kapan bisa 😅. Aku pengen borong keju kalo bisa kesana. Kemarin sempet dibeliin keju Ama temen, dan sukaaa bgt mas. Beneran enak yaa.
Belanda berarti banyak bau ganja juga dong di mana2 🤣.
Yummii~
Aku terpanggil kalok ada yang ghibahin makanan.
Aku kadang kelewatan kontennya artis Indo yang nikah ama bule Belanda tuh syapa siih..
Nah, dia suka review makanan Belanda kan..asa rasanya cuma gurih.
Aku termasuk banyak langganan konten warga pernikahan campuran mbak, tapi baru tahu kl ada yang sama negara Belanda. Ntar kalo ingat channel youtubenya share ya ^^
Jadi iseng ngecek, ternyata luas kota Baku itu 2000an km persegi, sedangkan Amsterdam hanya 200 km persegi saja mbak, berarti kalau dikomparasi dengan Baku yang 2 juta penduduk itu masih tergolong sepiii ya kotanya hahaha. Bandingin sama Jakarta yang cuma 600-an km persegi tapi penduduknya 20 juta hahaha.
Aku perhatiin mbak Fanny emang suka produk olahan susu (keju, yogurt) dijamin puas banget kalau ke Belanda ^^
Sudah membayangkan kengerian seperti apa yg akan dialami, eh, ternyata hanya ketemu malaikat jadi-jadian, hahaha.
Sepeda yang lebih banyak daripada jumlah penduduknya, ini membuktikan kalau orang-orang Amsterdam terutama pemerintahnya sadar sama kesehatan jiwa dan lingkungan. Pantas umur mereka panjang-panjang yah, lingkungannya juga sehat dan bersih. Emang sih, negara mereka jauh lebih maju daripada negara kita. Kanalnya juga bagus, lalu teringat dengan kanal di dekat rumahku, bau, airnya hitam dan penuh sampah. Ah, kasihan sekali si kanal itu.
Yaaah akhirnya sadar kalau si ibu kota Belanda itu emang negara maju sejak dulu, buktinya bisa jajah Indonesia selama tiga abad, Eh, aups. Memang benar kan?
Soal penjajahan, ntahlah. Sebab ada juga pendapat berbeda soal itu. Tapi ya salut juga sih sama mereka terkait penataan kotanya. Rapi dan terlebih penanganan air lautnya jempolan.
Cakep-cakep yak museumnyaa. Asyik juga bisa nyeberang sungai di Amsterdam Centraal dengan kapal dan gratis ya Kak. Trnyata seru juga menyusuri jalanan kota Amsterdam ya Kak. Mupeeeng! Bismillah, suatu saat saya bisa keliling Amsterdam juga ke kota lain di Belanda. Sholawatin aja dulu ya Kak, hehe
Hihi iya, mumpung gratis jadinya dicobain. Lumayan bisa dapat pengalamannya 🙂
Omduuttt…
Aku Uda ngira kalok Kita sama-sama anak Gemini, hahaha…ini part Komen Aku yang penting ga penting sii..hahaha, maapkan.
Belanda memang secakep itu yaah..
Aku terpukalau juga arsitektur Kota serta penataannya yang jenius.
Rasanya kalo musim dingin pen mager dibawah selimut, tapi yaah, negara seindah ini pantang dilewatkan. Apalagi bisa ketemu ama Shinigami. Huhuhu, takut sii.. tapi sekaligus takjub Karena penggambarannya setiap negara dan keyakinan yang dianut.
Hahahaha, akhirnya nemu temen satu geng geminians lagi. Tos! hahaha.
Karena luas wilayahnya sempit jadi mau gak mau bikin bangunan ke atas. Hebatnya di pusat kotanya, bangunannya nggak ada yang tinggi. Ya mungkin karena status UNESCO WHS tadi ya, jadi nggak sampe melebihi bangunan tua yang ada. Kalau di pinggirannya sih baru ada bangunan agak tinggi ^^
Cantik banget kotanya ya Yan, ayem dan nyaman gitu duduk-duduk, ternyata ada sejarah kelam di alun-alun yang menimbulkan banyak korban tak berdosa ya..
Iya mbak Dew. Gak kebayang lagi ngumpul eh ditembakin 😦
Sudah saya tebak juga, ternyata cuma malaikat pencabut nyawa jadi-jadian ya, hehe. Saya kira ada kengerian apa di situ, hehe. Eh tapi ngeri juga ya mengetahui ada tragedi penembakan tanpa motif yang jelas di alun-alun kota Amsterdam itu sampai menelan banyak korban.
Btw kuterpukau melihat keindahan kota Belanda dari gambar-gambar yang ada di atas, bangunan-bangunannya itu lho. Cakep banget.
Iya betul, tetap ada ngerinya sebab di lokasi yang sama pernah terjadi peristiwa penembakan terhadap warga sipil hiks.
Masnya kalau nulis detail banget ya dan kota ini jadi wishlistku, terutama lihat kanal-kanalnya.
Terima kasih.
Bangunan disana tuh khas ya dan tertata rapi. Nampak bersih jg jalanannya. Salut lah dengan habit orang sana yg masih suka bersepeda
Iya betul.
siapa tahu nanti omnduut bisa ke amsterdam lagi dengan cerita yang berbeda kalau kesananya tidak sendirian, hhhe. Perjalanan yang mengesankan ya. Sampai-sampai mengalir gitu ceritanya. JAdi tahu secuil, amsterdam itu seperti apa berkat om
Ini aku jalan sama adik. Dan pengennya malah ke sana lagi sendirian hahaha. Biar puas jalannya 😀
Sejujurnya nih, omduutt..
Aku penasaran banget kan yaa.. Karena penggambaran kota Amsterdam ini jadi mengingatkanku sama orang Yurop ini seneng banget kongkow di luar begini yaa.. Apa memang sebahagia itu yaa..
Kalau di Bandung asa jarang liat anak nongs apalagi orang sepuh yang menikmati suasana layaknya di Alun-alun Amsterdam.
Apakah Indonesia termasuk negara yang tyda bahagia yaa??
Kayaknya penduduk Indonesia mostly masih bahagia ^^ ajaran agama yang lumayan kuat “menyuruh” umatnya untuk banyak-banyak bersyukur soalnya hwhw.
Ohiya juga yaa..
Kepikiran kalok jarang nongs = tyda bahagia tuh salah besar.
Hehehe…
Pemikiran macam apa inih??
😅
Duh, nggak kut lihat foto-fotonya….. Cakep banget. Amsterdam emang terkenal indah, rapi, bersih dan zero pollution ya…. Gak tahan pingin segera backpackeran ke sana….
Semoga ada kesempatannya.
Sebagai bagian dari sejarah bersama Belanda, kalau misalnya sistem kanal Amsterdam itu diadaptasi secara wokeh buat perencanaan kota di sini bakalan meminimalisir terjadinya banjir juga, ya kak? Berhubung di sana kan air lautnya lebih tinggi. Soalnya jadi keinget posisi Utara Jakarta, bagian tanggulnya kalau lihat di medsos udah bikin ngeri juga.
Kalau nggak salah di Semarang, aku pernah liat sistem pengaturan airnya yang jadul banget, dan kalau gak salah juga itu buatan Belanda. Di Palembang banyak kanal kecil kayak di Amsterdam, tapi sebagian ada yang ditimbun habis sehingga sekarang udah jadi jalan >.<
Aku dan keluarga ke Amsterdam itu tahun 1980. Kebetulan di tahun itu alm Ayah dinas di sano selamo hampir satu tahun. Dulu tinggal di Hotel Soerabaja. Hotel milik wong Belando yang keturunannyo dulu melok jadi tentara di Indonesia. Pegawai hotel ini jugo galonyo wong Indonesia. Jadi banyak wong Indonesia yang tiduk di hotel ini. Letaknyo idak jauh dari Centraal itu seingat aku. Karena setiap nak ke Centraal, tinggal jalan kaki.
Selamo berkunjung (sekitar sebulan pas libur kenaikan sekolah), aku inget main di Centraal yang waktu itu masih banyak burung merpatinyo. Di dekat situ ado toko besak (department store) namonyo De Bijenkorf. Banyak bangku kayu di sekitar taman itu dan wong jualan pake dorongan. Sering beli ice cream sambil ngenjok makan burung-burung.
Waktu umrah barusan, aku dak sengajo ketemu cucung apo anaknyo yang punyo Martabak Har. Dio tinggal di Deen Hag. Kami sering salat samo-samo dan ngobrol banyak. Secaro ye sebangsa dan setanah air hahaha. Dio banyak cerito kalau Belanda sekarang tambah-tambah runyamnyo soal drugs dan LGBT. Tapi sistem kanalisasi sudah lebih baik. Cuman yo itu banyak sudut kota yang sudah terkontaminasi dengan bau ganja.
Oio, selamo di sano, alm Ayah sering ngajak ke restoran milik Rima Melati dan Frans Tumbuan. Saat itu restoran dio laku nian bahkan jadi tempat nongkrong dan kumpul2 wong Indonesia.
Wah ayuk bahkan pernah stay sebulanan di AMS. Aku penasaran tampilan di tahun segitu haha. Soal De Bijenkoft aku dak ngeh. Biso jadi masih ado pusat perbelanjaan ini. Termasuk restoran punyo Rima dan Frans. Dulu selamo di Amsterdam kebanyakan jajan kebab kami hwhw
MasyaAllah keren banget mas bisa keliling Amsterdam. Melihat sepeda yg berjejeran rasanya udh pengen pindah aja hehe. Soalnya di Indonesia sayangnya jalan untuk sepeda masih sangat terbatas apalagi di Jakarta. Selain bikin sehat, keliling Amsterdam pake sepeda juga bisa cuci mata juga ya seneng deh sambil liat bangunan2 yg aesthethic. Inilah yang aku suka dari luar negeri bener2 mengedepankan budaya sehat dan ramah pejalan kaki.
Bener-bener cuci mata bagi yang suka bangunan-bangunan tua kayak aku hwhwhw. Alhamdulillah.
OOT sebelum komen, saya selalu baca dari atas sampai selesai lho. Jadi banyak banget yang mau dikomenin
Malaikat pencabut nyawa-nya mengingatkan hantu-hantuan dan cosplay lainnya di alun-alun Bandung, pernah lihat?
Lebih rame, mungkin karena pengunjungnya lebih banyak
Malah banyak yang menyengaja carter angkot untuk malam mingguan atau hari mingguan di alun-alun Bandung
Tentang mahalnya biaya hidup di Amsterdam, kayanya rata-rata biaya hidup negara2 Eropa emang mahal ya?
Belom pernah lihat hantu-hantuan di alun-alun Bandung itu Ambu. Penasaran juga jadinya ^^
Iya, sepertinya rata-rata mahal biaya hidup. Tapi saat ke Eropa dulu, aku sempat nemuin beberapa kota kecil yang biaya hidupnya sama kaya di Indonesia (komparasinya Jakarta). Kayak penginap 300 ribuan udah dapat kamar sendiri, sekali makan 30 sd 50k. Cuma kalau dikomparasi dengan Palembang jelas masih menang Palembang karena lebih murah.
Kalo liat kanal sungai amsterdam kenapa aku ingetnya sepeda yang jadi rongsokan di sungai2 ya. Hehe. Katanya banyak sampah besi tua bekas sepeda yang entah kenapa masuk sungai. Kecebur kali ya. Wkwk
Tapi aneh juga orang sana ngeganja bisa sebebas itu. Apa ga membahayakan orang sekitarnya ya, apalagi kalo tahu2 bawa senjata api atau berbuat onar. Ga habis thinking. 🤷♀️
Betul. Banyak banget sepeda yang dibuang di sana, dan secara berkala ada petugas yang akan bersihin sungainya.
Kepo ini biaya harian di Amsterdam termasuk makan 3 x sehari habis berapa rupiah ya? Pasti tinggi banget ..btw banyak sudut kota yg ikonik walau banyak hantunya hehehe
Berhubung aku nginepnya numpang di couchsurfing, untuk sekali makan ya kurang lebih 100 ribulah, jadi ya sebetulnya kalau banyak jalan kaki gak begitu keluar banyak duit 🙂
Orang sana ga kenal sepeda bekas, ya. Hehehe. Kalau di sini kan sepeda sudah karatan saja masih ada yang mau menukar dengan uang. Tapi unik juga. Di balik budaya sana yang ke mana-mana pakai sepeda ternyata punya masalah sampah sepeda.
Mungkin karena daya beli tinggi dan gaji mereka jg besar ya hehe, ketimbang benerin yang rusak kenapa gak beli baru aja kali mikirnya.
Dibalik keindahan Amsterdam, sepedanya ternyata juga menyimpan banyak cerita yaaaa 🙂
Tapi keren ih masnya bisa keliling Amsterdam..
Iya, termasuk kisah tragis.
Ah Mas Yayan, aku kegocek nih dengan judulnya. Aku kira beneran pembunuhan yang terjadi saat Mas Yayan ada di sana. Hahaha. Tapi iya ya, zaman saat itu, tentara Jerman sangat keji dimana-mana. Banyak sekali korban melayang di seantero Eropa di masa itu. Termasuk di Belanda.
Selalu deh ah, kalo mampir ke blog Mas Yayan, pasti terpukau dengan foto-fotonya yang cakep-cakep. Berasa deket aja gitu Amsterdam dari kita. Bikin jadi kepengen datang langsung ke sana. Dan lalu foto-foto di tempat-tempat yang Mas Yayan datangi. Hahahaha… aamiin, semoga bisa kayak Mas Yayan. Jalan-jalan terus keliling dunia. 😀
Makasiih mbak apresiasinya 🙂
Iya, itu kejadiannya udah lama tapi ya gak kebayang ya kalau di belahan bumi lain, tindakan keji kayak gitu masih berlangsung hiks.
Saya lihat di foto ada beberapa orang membawa sepeda ke dalam kapal. Mungkin harus menyeberang gitu kali ya mas? kayak misal orang Jawa Timur kalau mau ke Madura kan dulu sebelum ada jembatan SUramadu harus pakai kpal ferry. Seneng banget bisa jalan-jalan ke Amsterdam, bisa mengenal berbagai tempat wisata bersejarah
Iya mbak, untuk nyeberang dalam jangka waktu sebentar aja. ^^
Ping balik: Modal Dengkul Keliling Zagreb Berburu Tiga Patung Kuda | Omnduut
Jalan-jalan di Amsterdam nggak cukup kalau cuman sebentar ya kak. Jalannya indah banget. Alun-alunnya ramai, banyak menceritakan sejarah. Orang-orang kok fotonya pada naik di huruf gitu ya apa nggak dilarang? Serem kalau jatuh, sakit dan malu pasti. Udah paling bagus foto di bawah aja ya kak, dengan foto gaya andalan bapak-bapak, aman, haha.
Soal huruf itu, memang dibolehkan karena jadi simbol kota Amsterdam. Walaupun gak lama setelah aku datang ke sana, hurufnya dicopot semua. Mungkin dengan alasan keamanan dan kenyamanan juga ya.