Pelesiran

[Thailand] Dari IKEA Berakhir ke Sophia

… tulisan lengkap mengenai perjalananku ke Thailand kurangkum di sini.

Setelah 4 jam ‘petualangan’ di Chatuchak dan semua peserta berkumpul, keriuhan terjadi. Kenapa? Haha, masing-masing peserta mulai memamerkan belanjaan masing-masing sambil saingan siapa yang beli barang trus dapet harga yang lebih murah! Emang ya kalo cewek-cewek doyan belanja udah pada ngumpul, pastilah suasana jadi seru, hihi.

Wisata belanja hari itu belum berakhir. Tujuan selanjutnya adalah IKEA, sebuah pusat perbelanjaan di pinggiran kota Bangkok. Perjalanan dari Chatucak ke IKEA ini kurang lebih 1 jam. Tempat semacam apa sih IKEA ini? Hmm… kalau di Palembang sedikit mirip dengan Lotte Mart kali ya, hanya dengan ‘tampilan’ yang jauh lebih besaaaaar dan jauh lebih keren. IKEA ini pun sudah punya nama di negara-negara tetangga lainnya. “Mbak, lebih gede mana IKEA ini sama yang di Singapura dan Malaysia?”  tanya salah satu peserta trip. Pertanyaan itu dijawab CK dengan mudah. Aku, yang belum pernah ke Singapura dan Malaysia diam-diam menyimak saja hehehe.

DSC_0652

IKEA di Bangkok

Sampai di IKEA, peserta dikasih waktu 2,5 jam (OMG). Aku yang dari awal tentu nggak bakalan belanja apapun (baht sih masih, tapi mau belanja apa di mall? Kalo ada yang jual kartu pos sih aku mau 😛 ) merasa 2,5 jam itu terlalu lama. Nyatanya? Hmm… nggak kerasa juga sih kalo udah di dalam hahaha. Di IKEA, walaupun kaki udah pegel ampun-ampunan, aku, mas Leo dan Mbak Cho Eng malah asyik hunting foto.

DSC_0654

Menuju pintu masuk IKEA

DSC_0656

Penjaga IKEA? 🙂

IKEA lumayan rame hari itu. Dari yang sekedar jalan-jalan bersama teman satu geng atau orang-orang yang akan berbelanja perlengkapan untuk perayaan imlek keesokan harinya. Kebetulan, ada sebuah pmandangan menarik di IKEA. Ada parade sekumpulan remaja yang memakai pakaian khas dari negeri Cina sambil mengunjungi toko-toko yang ada di sana dan bertugas membagikan selebaran (mungkin informasi diskon produk kali ya :p).

Kami bertiga menjelajahi tiap-tiap lantai IKEA ini. Salut juga dengan kebersihan, penataan cahaya sehingga IKEA sangat nyaman untuk dikunjungi. Dan… lagi-lagi, susah sekali menemukan kotak sampah di sini (apalagi sampahnya!) entah karena kesadaran masyarakat Bangkok yang tinggi ihwal kebersihan atau karena kesigapan cleaning service-nya yang jempolan. Entahlah 🙂

Semakin mengarah ke dalam, kami menemukan sebuah kursi unik berbentuk kerucut terbalik. Haha, keren banget! Ada beberapa anak yang asyik menggunakan kursi ini. Eh, orang tua mereka juga penasaran pingin coba euy! Xixi. Asli unik banget. Kursi ini, walaupun diduduki dan rasanya mau jatoh, tapi tetep aja stabil sehingga nggak terbalik. Nggak jauh dari situ juga ada pojok asyik buat foto-foto, haha ini dia.

DSC_0661

Kursi Goyang 🙂

DSC_0660

Main bersama 🙂

DSC_0662

Pensil raksasa 😀

DSC_0663

Pose dulu 😀

Di lantai paling atas, aku menemukan bioskop! WOW, bioskopnya kereeeen banget. Untuk membeli tiket, tersedia mesin e-ticket sehingga bisa mengurai antrian. Di lobi depan tersedia banyak tempat duduk. Nah, begitu kita punya tiket, baru deh bisa masuk ke gerbang utama dan penonton masih bisa duduk-duduk di dalam sebelum pintu studio dibuka. Sebagai pecinta film, pingin rasanya bisa icip nonton di sini. Tapi sayang waktunya mepet (kami ‘menemukan’ bioskop ini mendekati waktu pertemuan akhir).

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Ketika akan kembali menuju meeting point kami melewati sebuah supermarket yang tengah mengadakan pertunjukkan Barongsai. Banyaaak banget yang nonton. Di depan supermarket ada sekelompok remaja yang lagi asyik latihan nari. Kayaknya untuk pertunjukkan sore/malam harinya.

DSC_0686

Siap-siap melompat!

DSC_0685

Awas jatoh!

DSC_0680

Pamer udel 😛

Di sisi lain juga terlihat beberapa figuran drama yang tengah beristirahat haha.. lucunya liat Sun Go Kong nyeder kecapekan. Ketika menunggu di meeting point satu persatu peserta trip mulai berdatangan dan lagi-lagi sambil… menenteng belanjaan. Wuuiiih seru banget liat mereka mentertawakan keputusan mereka untuk belanja yang ‘aneh-aneh’ semacam baskom (ntah siapa ya yang dulu beli, lupa :P) dan gantungan baju hihihihihi. *lirik mbak Yiyin*

DSC_0681

Jangan ganggu, Sun Go Kong baru istirahat dulu!

Karena sudah sore, tujuan selanjutnya adalah makan malam bersama. Nggak jauh dari IKEA, kami diajak ke sebuah restoran melayu bernama Sophia (pemiliknya orang Malaysia kayaknya). Letak restoran ini agak masuk ke lorong dan tersembunyi, tapi tempatnya lumayan bagus dan asyik.

Begitu kami datang satu rombongan, petugas dengan sigap menuangkan berbotol-botol air mineral ke dalam teko yang berisi air es. Kami langsung disambut dengan segelas air dingin yang ajiiibbb uenak buanget! CK sendiri memesankan kami beberapa menu saat itu. Nah, kebetulan aku satu meja dengan para cewek-cewek kelaparan yang luamayan sadis makannya buahahaha. “Jangan kira semeja dengan cewek-cewek kami makannya dikit ya,” sahut mbak AS.

2

Nyam-nyam

Hahaha, asli, ini adalah makan bersama tergokil yang pernah aku rasain. Belom nyentuh nasi aja aku udah kenyang dengan ketawa. Misalnya nih ya, ketika petugas menyendokan nasi ke piring kami, nasinya dikit banget. “Lagi dong, banyakin nasinya,” sahut cewek-cewek ‘beringasan’ ini. Ntah karena nggak ngerti bahasa kami atau dia nggak ngeh, tapi si petugas tetep cuek (padahal mukanya melayu banget, haha bisa jadi dia penduduk asli Bangkok).

Nasi yang ditarok petugas di sebuah lemari kecil, oleh mbak AS diambil dan dengan baik hatinya nasi-nasi itu ditambahkan ke semua piring kami. Hahahaha senangnyaaaaa… *makasih mbak AS* begitu satu persatu lauk datang, kami masih nahan sampe semuanya komplet. Buat apa? Ya di foto tentu hwhwhwhw.

5

Makanan-makanan dengan rasa yang mantap!

4

Mbak AS dengan baik hati menambahkan nasi ke piring kami semua. Tengkyu ya mbak 😀

Asli ya, setelah keliling seharian penuh, sajian makanan melayu ini jadi lebih terasa ENAK LUAR BIASA! (karena emang laper juga sih) hihi. Kami semua makan dengan kalap. Sempe ya, sempet-sempetnya dikasih tambahan lauk oleh CK setelah sebelumnya menatap nanar ke arah kami, “aduh kasian banget nih anak, masih laper kayaknya” begitu batin CK kali, ya? haha.

Kalo di meja lain lauk masih bersisa, nggak dengan meja kami. Sampe sayur pun tandas. Nah, bagus kan? Jadi nggak buang-buang makanan hihihi. Makan sore menjelang malam kali itu, sangat terasa manis dikarenakan itu pun makan bareng terakhir kami semua mengingat besok pagi sudah didrop ke bandara untuk pulang ke kota masing-masing di Indonesia. “Yaaah, kerja lagi deh,” sahut beberapa peserta. Haha, kalo aku sih enggak, aku nyambung liburan ke Belitong euy! *pamcol*

Kami sampai di hostel menjelang malam. Beberapa peserta masih kurang belanjanya hingga minta di drop ke mall Platinum *huebaaaat energi dan kantongnya hahaha* sebagian memilih pulang ke hostel untuk lanjut nyobain Thai Massage yang terkenal itu. Aku sendiri rencananya bakalan nyobain jalur MRT bersama mbak Cho Eng (yang belakangan malah berakhir di Internet Corner aja dan mbak Cho Eng memilih lanjut ke MBK lagi).

Oh ya, sesuai janji di tulisan awal, aku bakalan mengulas sedikit mengenai Saphai Pae, hostel yang jadi tempat kami beristirahat selama berada di Bangkok. Kalau Saphai Pae mengklaim bahwa hostel mereka sebagai hostel terbaik di Bangkok, aku setuju. Karena memang secara tampilan, hostel ini tak kalah dengan hotel. Tempatnya sangat nyaman, bersih, tenang dan fasilitasnya lengkap.

BCoG8aVCcAI52ZC(1)

Seluruh peserta #TripBarengCK

DSC_0249

Saphai Pae itu artinya Backpacker

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Soal keamanan juga terjamin. Untuk naik ke lift aja, bagi yang bukan pengunjung nggak bakalan bisa masuk karena untuk naik lift harus menggunakan kunci kamar yang berbentuk kartu bersensor itu. Di dalam kamar, ada lemari kecil untuk menyimpan barang. Tapi nggak ada gemboknya sih (kalo disediain gembok, jangan-jangan udahnya diembat sama orang yang nginap hehe), jadi ada baiknya ketika berangkat bawa gembok lebih dari satu.

Kamarnya dibersihkan tiap hari. Kalo pergi seprainya berantakan, pulang-pulang udah rapi lagi (oh tenang, kalo aku sih biasa ngerapiin sendiri, hihi, hitung-hitung meringankan kerja si CS). Kamar mandi memang berada di tempat terpisah, tapi nggak jauh kok. Dan kamar mandinya juga SELALU bersih dan kering. Tisu atau sabun cair untuk cuci tangan selalu tersedia. Bagi yang biasa BAB dan bersih-bersih pake air juga bisa bernafas lega karena tersedia keran semprot.

Jika yang traveling dalam jangka waktu lama, tentulah banyak menyimpan pakaian kotor. Manfaatin aja ruang cuci yang tersedia. Mesin cucinya bisa dioperasikan pakai uang logam. Kalo untuk seterika sih bisa pakai sepuasnya. Beberapa hari di Saphai Pae, aku terbiasa ngobrol pakai bahasa tarzan ke CSnya yang ramah-ramah.

Oh ya, soal bagasiku yang ketika berangkat timbangannya 23 KG lebih! TERNYATA ya! Setelah diinformasiin mbak Ira, timbangan di konter Check in Terminal 3 Soeta itu RUSAK! “belum ditarok barang aja angkanya sudah belasan kilo, Ndut,” sahut mbak Ira. Oalaaaah. Pantesan, masak iya backpack ku beratnya lebih dari 20 KG! dan… setelah nyoba nimbang pake timbangan digital yang ada di depan toilet hostel, backpack ku beratnya 11 Kg aja kok! Adoooh, dasar ya bikin cemas aja.

INFO : Tapi, menurut pemantauanku, soal bagasi di Suvarnabhumi ini juga nggak ketat-ketat banget kok. Masih banyak aja tas gede yang bisa dibawa ke kabin.

Aku iseng ngintip review hostel Saphai Pae di hostelworld atau di hostelbookers. Emang skornya tinggi banget dan menduduki posisi puncak. Jadi ya, pilihan CK untuk menempatkan kami di hostel ini sangat tepat. Letaknya juga sangat strategis. Modal jalan kaki 5 menit doang sudah sampe di stasiun BTS Surasak. Dari sini, mau kemana-mana juga gampang.

Satu kekurangannya. Si mbak dan mas resepsionis di Saphai Pae ini nggak cukup ramah (kalah sama cleaning service mereka). Jika kita nanya, akan dijawab dengan muka lempeng dan seadanya aja. Seingatku aku berapa kali nanya ke mereka. Pertama, nanya arah ke 7Eleven terdekat. Kedua, nanya password untuk wifi. Ketiga, nanya harga kartu pos yang mereka jual. Ketika aku beli air mineral di sana juga dilayani dengan cuek. Aku dan beberapa teman sepakat kalo mereka kurang ramah dan pelit senyum. Sampe-sampe aku ngatain mereka dan betapa senangnya bisa ngatain orang pake bahasa Indonesia dan mereka nggak ngerti. “Eh, resepsionisnya jutek banget ya!” dan mereka diem aja tuh dibilangin begitu. Lah iyalaaaah haha.

Terlepas hal itu, ini dia beberapa foto Saphai Pae yang highly recommended.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Ada perjumpaan pasti ada juga perpisahan. Pagi hari, kami semua berkumpul di lobi hostel. Seperti halnya pertemuan yang terpisah-pisah, kepulangan ini pun kami jadinya berpencar-pencar. Sebagian ada yang pulang malam dan memutuskan untuk ke Pattaya dulu hari itu. Yang pulang naik Air Asia harus ke bandara Don Mueng menggunakan taksi. Sebagian besar diantar menggunakan bus ke Suvarnabhumi.

INFO : Oh ya, bagi yang memilih naik Air Asia. Pesawat tidak akan mendarat di Suvarnabhumi, tapi di bandara Don Mueng. Namun, jangan khawatir, dari Don Mueng ada shuttle bus yang mengantarkan penumpang ke Suvarnabhumi. Nah, dari sini baru deh bisa naik MRT ke pusat kota (untuk selanjutnya bisa pilih transportasi lainnya ke tempat tujuan. Tenang, transportasi di Bangkok ini jempolan kok!)

Sebelum pulang, masih ada satu misi yang belum selesai. Apaan sih? Hihi. Ituu… meminta CK untuk menandatangani semua buku CK yang aku bawa. (Berat kesemua buku ini aja udah 1 Kg lebih lho!). CK masih menetap di Bangkok, jadi dia tidak mengantar kami ke bandara. Di lobi hostel, semua bukuku ditandatangani. Alhamdulillah, mission accomplished. Hehe.

DSC_0728

Bukuku sedang ditandatangani oleh CK 🙂

DSC_0727

“Mbak, noleh bentar dong mau difoto” click!

DSC_0729

DONE!

Terima kasih CK/@ClaudiaKaunang… terima kasih @WisataThailand. Juga buat semua peserta #TripBarengCK yang ampuuuun demen gila-gilaan semua hahaha. Pengalaman ini sangat berharga buatku. Semoga kelak kita bisa trip bareng lagi ya! (mungkin ketika kalian ikutan #TripBarengCK lainnya dan aku diajak jalan-jalan gratis lagi? Hihihi, amiiiinnnn).

Selamat tinggal Bangkok… undang kembali aku ke sini ya! 😉

… s.e.l.e.s.ai

Iklan

48 thoughts on “[Thailand] Dari IKEA Berakhir ke Sophia

      • CK bangga dong ngajak dikau, sampe dibawain gitu 6 bukunya.. pantes berat aja bagasi, eh ternyata ga ada 20kilo.. *bandara emang kudu dijewer apa ganti timbangan apa sengaja itu ya? rusak kog dipiara? biar dapat “bayaran” tuh.. [gemes]

    • Kalo soal bangga, hmm kurang tahu 🙂 Setidaknya (mudah-mudahan) CK senang aku udah beli semua bukunya 🙂 Dulu sih aku ngelamar jadi asistennya mbak Tin. Lumayan bisa keliling lebih dari 15 negara bersama CK, sayang belum beruntung. 😛 Alhamdulillah kepilih yang ke Thailand ini.

      Soal di bandara… iya, agak malu-maluin jadinya (Terminal 3, konter Mandala paling kanan). Untung aja aku gak dipintain duit waktu itu, adooooh.

  1. Jadi, gedean mana IKEA Singapura ma Thailand ? #salahfokus hihihi

    tapi kalau lihat fotonya, kayaknya IKEA Thailand lebih bercahaya ya… (jiah bahasanya 😀 ).

      • oh, dulu di IKEA Singapur gak beli sih. cuma numpang pose doank. abis kan set ruangnya asik2 gtu.. … hahahaha…

        jadi, kalau mau beli2, mending ke IKEA Thailand yak.. (lagian siapa juga mau bawa sofa dari luar negeri 😀 )

    • Waktu ke sini, ada beberapa orang yang beli perabotan. Lucunya (atau hebatnya?) perabotan itu tetep aja ditarok di bagasi atau jok belakang walaupun harusnya barang-barang itu diangkut pake mobil boks atau mobil ‘gerobak’ 😀 Penutup bagasi nggak ketutup nggak masalah bagi mereka yang penting barangnya bisa masuk di dalemnya hehe

      • laaa.. pan mereka WNT… kalau kita yang beli, masa dimasukin ke bagasi pesawat… yang ada dikeplak sama mas-mas pramugara nya.. 😀

  2. Nanti klo ke Bangkok lagi, nyoba nginep disini ah 🙂
    Kalopun resepsionisnya ndak ramah, ndak papa. Biasa ngadepin hehhehhe kalo misale lagi badmood, tinggal bilang “mbaknya kok jutek banget sih!” tapi sambil senyum manis. kali aja dikira memuji :p

    Jadi begitu catatan selesai, apa sudah mulai kangen Bangkok lagi?
    Aku selalu merasa kota itu memanggilku untuk kembali lagi *berasa nyuplik lirik lagu*

    • Iya 🙂 Rencananya sih aku mau kasih review di hostelbookers atau hostelworld. Ya, biar jadi perhatian juga dan bisa diperbaiki. Andai resepsionisnya ramah, mau senyum, aaah sempurnalah Saphai Pae.

      Iya, aku udah kepingin untuk balik ke sana lagi. Tapi, lebih kepingin untuk eksplor daerah yang belum dikunjungi kayak Phuket, Pattaya, Krabi dsb. Ke Bangkok lagi tetep. Pertama, harus borong postcards di Grand Palace. Kedua, balik lagi ke Chatucak nemuin si ibu, beli lagi di sana, tapi dengan harga gila-gilaan buahaha. Ketiga, pingin ke Wat Arun ketika sore hingga matahari terbenam dan cahaya mulai bersinar di candinya.

      Tapi, keinginan untuk menjelajahi daerah baru lebih besar. Aku bahkan belum pernah ke Malaysia-Singapura. Pingin ke Penang atau Malaka sekalian. Lebih kepingin lagi jelajahi Vietnam hahaha. Kamboja juga aku udah lama naksir. Aaaah,… pingin semuaaaaaa ^^

    • Salam kenal kembali, makasih udah follow blogku ya 🙂 Wah pertanyaannya sederhana tapi jawabnya susaaaah haha. Aku juga jarang ke Jakarta dan kalopun ke Jakarta nggak ke semua tempat. Yang pasti, jika ngomongin masalah pariwisata, sepertinya Bangkok lebih sadar wisata. Untuk transportasi juga disana nyaman dan murah. Akses kemana-mana gampang dan walaupun sama-sama macet, di Bangkok masih bisa dihadapinlah macetnya. Tapi, nyari makanan halal di sana susah. Di Jakarta mah mau makan apa juga ada kan? hihi

    • Mungkin ketika mas Halim ke Thailand dulu, IKEA belom ada kali ya? 🙂 Sipp… semoga bisa ke IKEA Bangkok nanti. Aku sih pingin juga balik lagi ^^

  3. Ahhh…aku bulan depan balik lagi ke Bangkok dan bakal nginep di Saphai Pae for the first time. Sebelumnya sering di daerah Siam (Lub D Siam & Ibis Nana)

  4. salam kenal mas ndut, kenapa ga belanja di ikea, produknya lucu2 dan paling murah se-asia *katanya*..
    btw seru bgt ikut trip brg CK k bkk..
    saya blm pernah k bkk tp semoga thn depan bisa ke sana amin 🙂

    • Hai 🙂
      Dari Saphai Pae ke Khaosan Road menurutku relatif dekat sih. Hmm 20 sd 30 menit di kota besar itu masih wajar ya hitungannya 🙂 lebih gampang naik tuktuk, tapi harus kejam nawar. Pede aja sih kuncinya, kalu mereka deal ya ayuk, nggak juga gakpapa. Bisa juga naik bus atau taksi. Untuk bus aku kurang hapal no.-nya. Kalo Sephai Pae adanya family mart. 5 menit jalan kaki ke arah belakang (perkantoran). Kayaknya deket2 situ juga ada 7-11 tapi aku keduluan nemu Family mart waktu itu 🙂

    • Untuk trip lokal biasanya hostel2 ada kasih informasinya kok 🙂 di Sephai Pae aja banyak banget tawaran trip ini itu. Bisa disesuaikan dengan budget dan waktu.

      Di daerah Khao San Road juga banyak trip lokal (yang misalnya keliling candi seharian dll)

Yakin gak mau komen? aku (hampir) selalu BW & komen balik, loh! :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s