Pelesiran

Mencari Ibu di Rumah Pengabdi Setan

Mumpung lagi berada di Pengalengan, selepas mendatangi Nimo Highland kami segera ngecek di gmaps, eh ternyata jarak dari Nimo Highland ke Rumah Pengabdi Setan itu deket, Cuma 7 km yang kalau ditempuh pake mobil ya paling 30 menit juga udah sampe. Itu pun karena jalannya santai ya, kalau ngebut kayak pas lagi ditagih utang mungkin bisa setengah durasinya, oke sip.

Yang saat itu jadi sopir adekku, dia tuh udah pernah main ke Rumah Pengabdi Setan ini bareng temennya. Beberapa kali saat di jalan dia gumam, “kok kayaknya jalannya beda.”

Saat itu, kami emang banyakan lewat jalan kecil yang lumayan ngeri-ngeri sedap. Soalnya sempit banget dan kalau sepapasan sama mobil lain bingung mau ngalahnya gimana. Apa adu suit aja gitu? Yang kalah mundur ke belakang hahaha.

Tapi, ya bismillah, coba saja perayakan sama google maps, walaupun udah banyak kejadian google maps ini menyesatkan, kan! Tapi kami gak punya pilihan selain terus maju. Gak lama, eh tahu-tahu kami udah berada di area parkir kawasan Rumah Pengabdi Setan ini.

“Harusnya kita tuh masuk lewat sana,” kata adek sambil nunjuk gerbang utama.

Kami ternyata masuk lewat jalan lain di belakang. Nganu, bukan bermaksud menghindari tiket masuk loh ya, toh gak lama setelah parkir, si akangnya mendekat dan ngasih tiket parkirnya. Murah, Cuma 5000! Wah, biaya parkir tempat wisata sekeren Rumah Pengabdi Setan ini lebih murah ketimbang parkir di kawasan Jembatan Ampera lol.

Disambut Dedemit

“Rumah Pengabdi Setan ada di belakang. Jika mau ke sana beli karcis di loket,” begitu info si akang yang sebelumnya ngasih tiket parkir.

Saat kami datang cuaca lumayan mendung. Tapi untungnya bertepatan dengan libur imlek jadi lumayan rame pengunjung yang datang. Soalnya, kalau sendirian jujur saya takut juga haha. Baru di area parkirnya aja udah disambut sama duo dedemit: kuntilanak dan pocong. Mana dedemitnya digantung pula di atas pohon -kayaknya beringin, yang akar-akarnya menjuntai.

Bayangin aja kalau malam-malam mau beli obat nyamuk di warung dan kudu ngelewatin pohon itu. Mending langsung angkat tangan ke kamera gak sih?

Di sekitaran area parkir juga terdapat beberapa rumah tua. Walau beberapa bagian bangunan sudah rusak, nggak mengurangi kegagahannya. Saya ngebayangin dulu waktu baru selesai dibangun dan masih dihuni, pasti cakep banget rumah ini. Kalau sekarang sih ya jadinya fotogenic. Tetap cakep tapi kalau tinggal di sana mon maap deh ya.

Kami kemudian bergerak ke arah loket penjualan tiket. Wah alhamdulillah tiketnya murah meriah. Perorang cukup bayar Rp.10.000 saja. Dan seingat saya, gak ada perbedaan harga antara turis lokal dan turis asing. Kalau ada perbedaan saya pasti harus bayar lebih mahal. Secara kan oppa Koreya. Astagfirullah.

Wes, setelah tiket dipegang, langsung kami berjalan menuju arah belakang. Asyik banget suasananya. Pohon tinggi di mana-mana, cuaca adem, areanya lapang. Nah di satu area ada fake taxi eh fake cemetery gitu. Ada beberapa nisan yang dibuat demi kepentingan wisatawan. Ya, tentu orang akan penasaran kan, “di mana sih area pemakaman yang dilihat sama Bondi dari jendela kamarnya?”

Tiba di Rumah Ibu

Sungguh, jika rumah ini nggak ada di sekitaran perkebunan teh dan nggak pernah dipake sebagai lokasi syuting film horor saya tuh mau banget bisa tinggal di rumah dengan gaya Indische Architecture atau gaya Kolonial Tropis seperti ini. Mirip dengan rumah-rumah di Belanda khususnya yang ada di sekitaran Volendam jika saja rumah ini dibuat lebih modern dan dengan cat lebih terang.

Konon rumah ini dibangun pada tahun 1980-an. Usianya udah hampir 50 tahun. Sebelum dipakai syuting rumah ini lama terbengkalai. Saat saya datang, di sekitaran rumah udah rame para wisatawan yang berfoto. Jadi emang agak susah kalau mau foto bersama tanpa bocor. Jadinya, ketimbang banyak nunggu, saya malah berkeliling dulu. Mulai dari pintu masuk dan ruang utama yang ternyata kecil aja ruangannya.

Perabotan seperti yang ada di film jelas udah nggak ada. Tapi, untungnya pengelola memberikan beberapa perabot lain yang dapat membangun suasana jika rumah ini berpenghuni. Foto serem ibu yang ada di lorong lantai 2 dipindahkan di ruang tamu ini dan menyambut siapapun orang yang datang. Hanya, perapian imitasinya yang menurut saya agak mengganggu terutama pemilihan warna catnya.

Wah rame banget! Gak nyaman buat ambil foto.

Jadilah, saya memilih untuk main ke area dapurnya. Dapur yang ada sumur itu yang tentu saja sumurnya buatan alias nggak ada galiannya.

Nah, area dapur ini lumayan sepi haha. Orang biasanya hanya lirik sekilas trus pergi. Ya tempatnya gelap dan auranya emang dingin. Saya juga setelah merasa cukup ambil foto lantas balik lagi kok ke ruang depan.

Di satu lorong buntu, kini dipajang foto-foto lama bangunan itu beserta suasana area sekitar Perkebunan Teh Kertamanah. Ini dia salah satu kecanggihan sinematografer ya, sebenarnya di sekitaran rumah ini tuh banyak rumah-rumah lain. Mungkin karena lokasinya juga dekat dengan PTPN VIII Malabar, ya. Jadi ya bisa jadi yang tinggal di sekitar situ para pekerjanya.

Setelah dirasa cukup berkeliling di lantai 1, saya penasaran kok dari tadi belum ketemu sama ibu? Di mana ibu? Apa ia ada di kamarnya?

Numpang Nyisir di Kamar Ibu

Bagi yang udah nonton Pengabdi Setan (2017), pasti udah familiar dengan adegan-adegan ikonik yang berhubungan dengan si ibu yang mostly terjadi di kamarnya ibu, kan! Dari lonceng yang berbungi, trus adegan ibu lagi disisirin sama Tony atau Rini, anaknya.

Menuju lantai 2 dengan melalui tangga melingkar, tak lama saya langsung mendapati beberapa ruangan. Tapi ruangan utama dan jadi “nyawa” di rumah ini tentu saja kamarnya si ibu yang waktu saya datang ternyata tengah ditempati oleh 2 setan!

Haha, lagi-lagi mungkin berkah datang di hari libur sehingga saya bisa bertemu dengan 2 orang yang rela berdandan menjadi kuntilanak dan pocong untuk menghibur wisatawan. Kalau mau foto, tinggal tarok uang seikhlasnya di kotak yang ada di lantai.

Saat saya ke sana terlihat beberapa rombongan wisatawan yang foto bersama. Kocak-kocak posenya! Sayangnya, saat itu yang naik ke lantai 2 Cuma saya sendirian. Anggota keluarga lain nunggu di bawah. Lagian saya juga gak begitu tertarik foto, yang ada saya sempat ngobrol dan nanya apakah mereka kerja tiap hari.

“Kami cuma ke sini kalau tanggal merah atau akhir pekan aja bang,” katanya.

Iya sih, kalau hari biasa pasti gak serame saat liburan. Capek juga nungguin wisatawan yang datang dan belum tentu mereka mau foto juga kan.

Saya kemudian berjalan ke teras samping kamarnya si ibu. Dari teras area di sekitar rumah ini makin terlihat jelas. Ya hamparan kebun teh, rumah-rumah penduduk hingga bangunan lain yang menjadi bagian dari rumah ini tapi sepertinya nggak bisa didatangi (tepatnya area bangunan di belakang dapur).

Ya sudah, ibu juga nggak ada. Jadilah saya memutuskan turun ke bawah. Padahal kalau ketemu sama si ibu, saya mau numpang nyirir atau gantian nyari kutu gitu hehe.

*  *  *

Lumayanlah kunjungan kami ke rumah Pengabdi Setan ini. Sebagai penggemar filmnya, jelas saya hepi. Ada perasaan yang berbeda ketika berhasil datang ke rumah ini. Perasaan yang mirip ketika dulu saya akhirnya bisa main ke SD Muhammadiyah Gantong, yang dijadikan lokasi syuting film Laskar Pelangi.

Dampak dari satu film-yang-viral tuh nggak main-main loh. Sampai sekarang desa kecil Gantong di Belitung itu masih didatangi wisatawan. Begitu juga dengan rumah Pengabdi Setan ini, turut menambah pemasukan bagi pengelola dan juga warga sekitar. Di sekitaran rumah ada beberapa warung tempat masyarakat mencari rezeki. Alhamdulillah banget kan.

Makanya, saya membayangkan ada film besar -syukur-syukur drakor atau Hollywood, yang melakukan syuting lebih banyak di Indonesia. Sebab, dampaknya besar sekali selama penduduk dan pemerintahan sekitar juga siap dengan lonjakan wisatawan yang mungkin hadir di kemudian hari, kan!

56 komentar di “Mencari Ibu di Rumah Pengabdi Setan

  1. Sebenarnya rumah ini epic banget lho menurutku. Kayak designnya tuh vintage, belum lagi lingkungannya asri. Plusnya, bangunan lama itu entah kenapa aku lihat awet-awet dindingnya kalau dibanding rumah sekarang yang kadang baru 5 tahun udah retak di mana-mana. Lha, ini 50 tahun lhooooo..Cuma kayaknya di Indonesia aja, kesan vintage tuh masih banyak dibalut sama urban legend padahal ya sebagus itu. Coba bangunannya dibuat lebih bercahaya, aku yakin nuansanya beda. Tapi….

    Ya, nggak jadi wisata horor. 😀

    • Nah setuju banget. Itu juga yang sering aku pikirin, rumah-rumah lama tuh kokoh. Kalaupun rusak ya bagian yang memang sudah sepantasnya rusak karena lapuk. Tapi bagian betonnya biasanya tetap berdiri tegak.

      Haha kalau terang benderang, dan setan-nya diganti badut jadi beneran gak jadi wisata horor.

  2. Wahhh Yayan, aku ngga berani nonton Pengabdi Setan *cemeeennn

    adekku yg di Bandung jg blum pernah infoin soal rumah ini.
    jadi kami kalo ke Lembang, palingan jalan ke wisata taman2 atau cari kafe gitu doang, mainstream abiiisss

    pan kapan boljug deh “uji nyali” ke siniii

    • Haha kalo belom nonton malah harusnya aman. Anggap aja main ke rumah tua cakep di sekitaran hamparan kebun teh mbak. Dan mainnya ajak keluarga yang banyak biar rame dan seru.

  3. Diliat sekilas kok malah kayak Linggarjati ya pas liat eksteriornya. Tp kalo diintip lebih dalam, ini emang lebih bagus dan banyak detail tambahan untuk kebutuhan film. Kebayang kalo datang kesini pas sore atau malem, kayaknya suasananya bakal creepy banget ga sih? hahahaha.

    Btw keren juga sampe ada yang cosplay jadi hantu ibunyaaaa. Definisi dari menjemput rezeki, di hari minggu mereka niat banget stay disana dan nunggu pengunjung meskipun belum tentu semuanya mau sawer ya.

  4. saya belum pernah nonton film pengabdian setan, Mas. Dan setelah membaca tulisan ini saya jadi penasaran mau nonton filmnya hahaha. Dan kalau tidak berbau mistik pasti nyaman dan menyenangkan sekali tunggal di sana y Mas. Apalagi suasananya adem dan asri. Dan saat setuju kalau syuting film atau drama Korea di Indonesia. apalagi banyak tempat menarik. Jadi bisa menarik wisatawan baik lokal maupun manca negara untuk berkunjung ke sana.

  5. Untung loh ya abangnya nulis dengan canda, aku yang tidak menikmati nuansa horor jadi tetap senyum-senyum membacanya.

    Seperti kalimat ini >> Kalau sekarang sih ya jadinya fotogenic. Tetap cakep tapi kalau tinggal di sana mon maap deh ya.<< Ha ha ha

    Kebayang waktu dikau masuk ke dapur yang sepi dan berada di tempat yang sendiri, gimana deh tuh rasanya. Aku sih NO ya wkwkww. Pertanyaanku, Yakin mau ketemu Ibu? doi bisa datang loh tanpa dirumahnya, eh.

    Penutup tulisannya, cakeps. Mari kita doakan dan banyak harap pada waktu, untuk para pekerja seni lebih banyak berkarya terutama bidang film, karenanya ekonomi bergerak sangat baik dan terus berkelanjutan. Lihat saja Korea dan sekarang China. Dampaknya luar biasa.

    • Iya, benar Mbak Nik. Jadi walau ceritanya menyusuri rumah seram, tapi kita senang-senang saja mengikuti ceritanya ya. Tapi memang sih, kalau ke sana bagusnya rame-rame. Karena biar siang hari, tapi sendirian, jelas bikin bulu kuduk merinding hehehe.

    • Hahaha gak mauuuu. Tapi kl ketemu Ayu Laksmi sih hayu aja, selama gak lagi make up sebagai hantu haha.

      Amiin makasih doanya untuk para pekerja seni kita mbak Nik

  6. Itu atapnya bukannya hampir ambruk ya..duh, beneran, kalau kita masuk di dalam kuatir roboh dan ketiban…semoga enggak ya, karena rumah kuno biasanya bahannya kokoh dan tahan lama

    Oh ya, dua orang yang cosplay pocong dan kunti itu yakin manusia kan, hahaha…Ntar ternyata asli pula, duh!

    Setuju saya, jika lokasi syuting film viral diberdayakan jadi tujuan wisata…bisa menambah perekonomian masyarakat sekitar.

    • Yang atap hampir ambruk ada di area parkir bangunannya, dan satunya lagi area belakang yang emang gak dimasuki oleh wisatawan mbak. Tapi ya sebaiknya emang pengelola melakukan perbaikan sih ya.

  7. Sebagai orang yang penakut dan nggak suka horror, aku nggak pernah nonton film horror, haha. Tapi, tahu ada film ibu pengabdi setan ini.

    Kalau saja nggak digunakan film horror dan rumahnya bagus kayak villa gitu, adem ya tinggal di sana, banyak pohon yang menjulang tinggi.

    Rumah yang udah digunakan film horror pasti kebayang waktu adegan di film. Liat rumahnya aja udah horror bgt sih, auranya pasti beda, hehe.

    Film membawa berkah rezeki tersendiri ya bagi penduduk sekitar. Kayak di Drakor pun gitu setiap tempat yg digunakan lokasi syuting setelahnya ramai dikunjungi warga lokal.

  8. Serem juga ya berkunjung ke rumah Ibu itu. Mana hawanya mendukung horor serem pula

    Salfok manusia putih putih kirain pajangan ternyata beneran orang berdandan hantu…haduh nggak ngebayangin aku kalo kesana pulang pulang masih kefikiran

  9. Hooo, aku baru tahu kalau rumahnya beneran ada… Aku kira selama ini hanya prop film saja, hanya dalam studio gitu loh. Tapi beneran ada, dan bagus juga dijadikan tempat wisata. Tp kayaknya saya bakal ngeri kl ke sana… Seneng ntn film horor tp penakut

  10. Ya ampun hahahaha. Ngapolah wisata nak ke tempat cak ini hahaha. Tapi memang bikin penasaran yo Yan karena PENGABDI SETAN memang jadi salah satu film horor yang menarik untuk ditonton dan beneran bikin merinding.

    Tapi ye menurut penerawangan aku yang “kelas berat” itu justru PEREMPUAN TANAH JAHANAM. Lokasi shooting dan rumah utamanyo itu murni “rumah berisi.” Jauh dari kehidupan masyarakat sekitar. Bahkan tim produksi harus bikin jalan baru untuk memudahkan proses shooting. Dalam beberapo mmm mungkin agak banyak adegan, sebenarnyo penghuni rumah itu jugo terekam. Masalahnyo hanya sedikit wong yang pacak jingok langsung hahahaha.

    • Mumpung deket dan nonton filmnyo yuk haha. Btw, yang perempuan tanah jahanam pasti lebih serem, aku setuju. Filmnyo jg levelnyo beda, ado horor, ado thriller. Ah jadi pengen nonton ulang.

  11. Saya udah pasti gak bakal berani ke sana meskipun siang hari dan ramai wisatawan hahaha. Padahal bentuk rumahnya cantik banget, ya. Kalau aja masih terawat, bisa kali disewain buat penginapan. Etapi, ini juga akhirnya juga jadi tempat wisata. Meskipun beda konsepnya hihihi

  12. dibangun tahun 1980an? Belum lama dong, dibandingin rumah yang saya huni di Sukabumi mungkin sejak 1930-1940an

    eniwei kreatif banget yang bikin rumah pengabdi setan jadi destinasi wisata

    Selama ini ke Pengalengan kan cuma foto2 danau , pepohonan dll, dan sekarang ada “rumah hantu” 😀

  13. keren kali Kak datang ke sana… Daku aja waktu nonton pengabdi Setan yang si ibu itu siang² barengan kakak, tetep aja takut wkkwkw. Apalagi itu, kek nya gak berani dah melangkahkan kaki di sana. Terlebih pas lihat di foto² itu ada beberapa yang beda auranya.. (jiaahhh aura, aura kasih kali yakk hahah #ngalihinrasatakutpadahal 😅)

  14. Sayang banget gak ketemu si ibu yaa atau orang yg cosplay jadi ibu. Jadi yg kunti itu patung atau asli? Seramm dah. Bikin merinding disko kalo ke sana, berasa masuk rumah hantu.

  15. iya ya bang, kalau ada film blockbuster yang syuting di Indonesia sedikit banyak bisa menambah kunjungan turis mancanegara ke lokasi pengambilan gambarnya.

    Btw, memang lokasinya mendukung banget untuk syuting film horror. Pohon disekitarnya gede-gede dan aura mistisnya bertambah karena rumahnya susah lama terlantar.

  16. Iyayaa, makanya salah satu BUMN juga memilih pakai bintang Koreya daripada bintang dalam negeri, wkwkkw..

    Aga ga nyambung, tapi aku pikir memang pastinya impactnya besar banget yang namanya iklan dan pemilihan BA-nya.

    Akutu nonton film Pengabdi Setan.Dari mulai satu ama dua. Eh, bener kan yaa.. ada season 2-nya?

    Lebih ke horor yaa..Beda ama si Sumala tuuuh!

    Film horor tapi kok banyak thriller-nya.Aga ngiluu pas nonton.

    Tapii.. memang bener.Kalo bikin film yang meninggalkan kesan lama di hati penonton, bikin yang se-UNIK mungkin. Dengan ending se-TIDAK BIASA mungkin.

    Pasti akan tertinggal lama di hati penonton.

    • Betul ada sekuelnya. Jadi pengabdi setan ini udah ada 2 film dan sebetulnya direncanakan sebagai trilogi. Sayangnya Fahry Albar masuk penjara karena narkoba padahal tokoh dia penting dan di film ke-3 harusnya dia lebih banyak beradegan. Aduh ntah jadi kapan ini pengabdi setan 3 diproduksi dan tayang >.<

  17. Ternyata orang beneran yang pakai baju putih itu ya, iya sih kalo weekdays pasti cukup sepi. Kalo nonton filmnya aku ga takut, malah ngakak ngakak. Tapi entah lah ya misal disuruh tidur di rumah Pengabdi Setan apakah aku berani. Mungkin kalo rame rombongan ya berani aja, karena itu kan hanya properti ya

    • Haha ya penduduk sekitar yang lagi cosplay demi meraih rezeki. Alhamdulillah jadi ada pemasukan mereka karena rumah ini didatangi wisatawan.

  18. Huweeeehh ternyata rumah terbengkalai yaa. Iya ya kek kecil padahal pas di pilem keliatan rumah tua Belanda yg ukurannya luas. Jd itu kuburan beneran atau bukan? Dari nisannya meragukan hehe.

    Sebenarnya bangunan tahun 1980an gak tua2 amat sih ya, atau aku yang terlalu gak bisa move on dengan itungan tahun hehe.

    jadi awalnya emang rumah terbengkalai yaa. Penasaran apakah pengelolanya melakukan perawatan juga, soalnya bukan serem setannya tapi serem ambruk xixixi.

    ooo aslinya rumah ini punya tetangga yaaa. Untunglah yaa, kirain bener2 kesepian di perkebunan 😀

    Jadi pengen wisata2 lokasi syuting juga, deh 😀

  19. Bener banget, dampak dari film bagus beneran hits bisa bikin area syuting ikutan digandrungi buat disambangi. Kayak film Petualangan Sherina 2, shooting di Pulau Kelor Kepulauan Seribu. Jadi lumayan hits banget pulau tersebut buat dikunjungi wisatawan.

    Nah kalau dari novel Andrea Hirata Laskar Pelangi, daerah sana memang indah banget. Beneran memancing wisatawan buat berdatangan bahkan sampai sekarang. Masih tetap jadi salah satu wishlist ku juga soalnya.

    Rumah Pengabdi Setan ini beneran sejuk dan enakeun ya udara sekitarnya. Di kelilingi pepohonan bahkan ada kebun teh. Serem sih misal datang pas sepiiii, dari jepretan mas aja sudah menggambarkan betapa horornya ini rumah.

    Again, ikut happy juga karena bisa menyambangi lokasi shooting film favorit ya. Sehingga beneran tuntas menyaksikan rumah dari dekat bahkan masuk kedalam dan menjelajah. Kalau ketemu Ibu kayaknya aku nggak kebayang sih 😆 serem auto lariiii.

    Semoga perfilman dalam negeri terus membaik kualitasnya dan banyak tempat yang ikut terbantu dari sisi pariwisata dan ekonomi kreatif 👍. Jadi banyak penduduk yang bisa nambah pendapatan.

    • Nah baru ngeh Petualangan Sherina 2 banyak syuting di Kepulauan Seribu. Emang, dampak film tuh luar biasa. Kayak lokasi syuting AADC 2 aja kan sampe ada turnya, dan ini banyak diminati oleh wisatawan dari Malaysia.

      Makanya kementerian terkait tuh harus lebih getol menawarkan kemudahan bagi sineas asing buat syuting di sini. Kayak drakor gitu, efeknya gak main-main. Penggemar setianya rela datang buat ngecek lokasi syuting aslinya. Nah aku sendiri juga gitu, rela ke India karena sebelumnya banyak liat tempat itu di film 🙂

  20. aku kaget liat foto pertama wkwkwkw

    mana bacanya pas malem pula

    mungkin kalau aku sendirian wisata kesana, kayaknya kagak jadi masuk hahahaha

    setuju banget sih, kalau misalnya ada lokasi syuting yang bisa dijadiin lokasi wisata gini, secara nggak langsung memberikan atau menggerakkan ekonomi warga sekitar, seperti ada warga yang membuka warung mini. Warung kayak gini aja udah pasti diserbu pengunjung

    • Ya Allah kak.. aku bersyukur bacanya jam segini kaget banget. aku kalo diajakin kesana paling gamau masuk. btw aku lupa sejak kapan aku nggak mau nonton horror, takut.

      apalagi sampr kesini, takut sampe rumah kebayang yang enggak enggak.. jempol banget sih yang suka eksplor ke tempat kayak gini. sukanya di sini tempat sekitarnya asri yaaa..

    • Kudu nonton dulu filmya, ka Ainun.
      Gak merinding merinding amatt kok..

      Cuma efek jumpscare-nya ituuloo..
      Apalagi scene pas di sumur ituu.. ((menurutku)) sama lagu yang diputerin.

      Buat urang Sunda, pasti lebih kerasa horor yaa..

  21. Anakku kukasih tunjuk foto yang ada kunti sama pocongnya langsung lari ngibrit. Pakai tanya lagi, itu beneran apa bohongan Ma? Wkwk. Kayanya kalau diajak kesana anak-anak seru juga, uji adrenalin. Cckck

    Rumah khas bangunan Belanda di perkebunan emang kokoh, coba lihat rumah zaman sekarang ditinggali beberapa tahun aja udah pada retak-retak. Pengen deh bangun rumah yang kokohnya bisa sama seperti bangunan Belanda. Rumah yang dipakai syuting Petualangan Sherina kan juga di Kebun Teh.

    Andai ada wisata malamnya, pakai penerangan lilin dan lampu minyak tanah, hantunya dari orang semua, terus backsoundnya lagu lingsir wengi. Biyuhh seruu pastinya, bulu kuduk langusung berdiri semuaa

    • Hahaha mbak iseng bener ngasih lihat ke anak. Ah ya, jadi keinget rumahnya Sadam dan Sherina ya di Lembang. Dulu aku pernah ke Boscha-nya aja dan ngelewatin SD-nya mereka, sayang pas ke Boscha hari Senin kalo gak salah dan mereka tutup.

      Kalau ada tur wisata malam ke rumah ini pasti menarik. Soalnya di Jakarta pernah ada susur kota tua dan masuk ke museum Fatahillah kalo gak salah. Di Lawang Sewu juga pernah denger ada night tournya.

  22. serius aku JD mauuuuu banget main kesini mas 😅. Menariiik . Apalagi dilihat2 props yg dipakai juga ga asal2an, beneran serem keliatannya. Ga kebayang malam2 kesana, trus ketemu Kunti bergelantungan hahahahahha. Bagian yg paling serem dari rumah ibu, sebenernya kamar mandi sih. Aku paling takut kalo udh liat ruangan itu. Tapi kamar si ibu juga serem, apalagi kalo lampu diremangin. Cuma mungkin aku ga berani ajak hantunya ngobrol ahahahhahah. Sayang juga ga ada yg menjadi si ibu yaa. Bener tuh mas, kan enak bisa bantu nyisirin si ibu 🤣

  23. Saya malah gagal fokus dengan desain interior rumah ini. Klasik dan juga elegan. Sepertinya kalau film film horor di Indonesia, selalu aja gunain rumah dengan nuansa seperti ini ya. Saya jadi terbayang banyak adgen film pengabdi setan begitu lihat fotonya, ehehe.

Jika ada yang perlu ditanyakan lebih lanjut, silakan berkomentar di bawah ini.