Lainnya

Merajut Mimpi Bersama Bank Mandiri

bank-mandiri-logo1 Aku melangkah lesu menapaki satu demi satu anak tangga di apartemen. Aku lelah sekali setelah seharian berkutat dengan berbagai macam pelajaran di kampus. Tak butuh lama untukku sampai di kamarku yang mungil. Sejenak kemudian, Aku lalu melangkah ke tepi jendela dan membukanya lebar-lebar. Dari kejauhan, terlihat segurat kekokohan Eiffle menjulang tinggi di sana. Demi menata ragaku yang letih, segera kuhidup udara kota Paris dengan syahdu.

Aku lalu menyalakan komputer. Ya, siapa tahu ada surel dari keluarga di Indonesia. Benar saja, mataku terpaku pada sebuah kedip sinyal pada ikon email. Kubaca subject email dengan cepat. Hatiku terenyuh, itu adalah email dari keluarga di Palembang. Dengan cepat kumainkan jemari dan mulai membaca secuil kabar dari ayahnya, jauh dari Bumi Sriwijaya sana…

From: Farah Andini <farah.andini@mails.co.id>
Sent: Monday, February 04, 2013 5:16 PM
To: Fauzan Khairan <fauzan.khairan@mails.co.fr>
Subject: Kabar dari Indonesia untuk anandaku Fauzan

Assalamualaikum anandaku Fauzan.

Apa kabar nak? Ayah dan Ibu senantiasa mendoakan agar kamu sehat dan selalu diberi kemudahan untuk menyelesaikan studimu di sana. Keluarga di Palembang semuanya sehat. Ayah-Ibu dan kedua adikmu semua dalam keadaan baik. Bahkan sekarang Farah dan Fauzi semakin giat belajarnya, “mau seperti abang Fauzan yang kuliah di luar negeri,” begitu kata mereka.

Oh Ayah-Ibu. Betapa aku sangat merindukan kalian. Juga kedua adikku. Sedang apakah kalian di sana? Makan bersama? Atau tengah bercanda gurau di depan ruang keluarga?

Oh ya, Ayah dengar dari Fauzi kalau ananda Fauzan sedang berada di titik jenuh? Ah, ini pasti karena status galauku di jejaring sosial beberapa waktu lalu. Ayah paham, Nak, bahwa memang hidup sendirian jauh dari keluarga itu tidak mudah. Bisa jadi ananda sedang rindu suasana rumah. Kangen masakan, Ibu, barangkali?

Iya ayah, aku sangat rindu masakan Ibu. Apalagi pempeknya yang sangat lezat itu. Aku rindu sekali…rindu masakan dan pelukannya… 

“Ayah…ayah… itu bangunan apa?” teriakmu dulu sewaktu masih sekolah dasar. Waktu itu, ananda sedang melihat tayangan di televisi. Ananda berlari ke ruang depan dan menyeret Ayah ke ruang tengah. Ternyata, sedang ada liputan di Paris. Ayah ingat, matamu terbelalak menatap kemegahan menara indah yang tinggi menjulang itu. “Itu namanya menara Eiffle, nak. Adanya di Perancis.”

“Apakah Perancis itu dekat, Ayah? Aku ingin sekali ke sana,” sahutmu dulu. “Perancis itu jauh, Nak. Kita harus menggunakan pesawat terbang jika mau ke sana. Fauzan mau ke melihat menara Eiffle secara langsung?” yang ananda jawab dengan anggukan cepat. “Terus belajar dan berdoa ya Nak. Semoga kelak Fauzan bisa menapakkan kaki di sana. Belajar di sana. Menyerap ilmu yang banyak di sana. Lalu berbuat sesuatu demi Indonesia.”

Ayah lihat, ada binar-binar semangat di matamu pada saat itu, anakku… Dan, lihatlah kini. Dengan menorehkan mimpi-mimpimu, sebingkai foto terpampang manis di dinding rumah. Ada Fauzan berfoto dengan latar belakang menara Eiffle di dalamnya. Bahagia sekali rasanya Ayah-Ibu dan kedua adikmu takkala kerabat menatap foto itu dan diiringi rasa decak kagum. Ayah bangga sekali kepadamu, Nak.

gdg mndiri_011012_1

Bank Mandiri

Ananda Fauzan… ingat tidak dulu waktu kelas 1 SMP Ayah mengajak ananda ke Bank Mandiri. Waktu itu, pasca menjebol celengan, ananda berkeinginan agar mempunyai tabungan di bank. “Biar Fauzan punya buku tabungan dan makin rajin menabung, Ayah!” sahutmu dulu. Jadilah kita berdua, mengendarai sepeda motor datang ke Bank Mandiri dan membuka akun tabungan di sana. Dibantu oleh pegawai Bank Mandiri yang ramah, dengan menggunakan identitas Ayah dan kartu pelajarmu akhirnya ananda mempunyai Mandiri Tabungan sendiri. Ayah ingat dulu ananda senang sekali membaca nama ananda sendiri yang tercetak di buku Mandiri Tabungan.

Mandiri Tabungan itu memang sangat bermanfaat ya, Nak. Dengan biaya bulanan yang rendah dan dilengkapi dengan kartu ATM Mandiri, ananda makin menggunakan uang dengan bijak. Ayah tahu betul, kartu debet/ATM Mandiri itu biasanya hanya ananda gunakan ketika akan membeli buku saja. Kita juga sangat terbantu dengan keberadaan ATM Mandiri yang sangat banyak. Kini jumlahnya hampir menembus angka 9000 unit. Bahkan, di warung depan lorong juga ada lho Nak, sekarang ayah tak perlu repot lagi mengambil uang gaji.

Ayah juga beruntung sekali memiliki Mandiri Tabungan. Dengan menggunakan sebuah kartu, Ayah bisa melakukan banyak hal. Ayah tak perlu repot lagi mengantri untuk membayar tagihan listrik, air dan telepon. Bahkan ketika dulu ayah sempat berbelanja dan ternyata uang tunai tidak cukup, ternyata ATM Mandiri bisa digunakan untuk berbelanja dengan menggunakan mesin EDC. Bahkan, adikmu –Farah, bisa transfer dana dan melakukan banyak transaksi hanya dari handphone dan laptopnya saja. Kata adikmu, itu dinamakan Mandiri SMS Banking dan Mandiri Internet Banking. Dengan menggunakan fasilitas itu, bahkan untuk pembelian pulsa pun Ayah tak lagi mendatangi konter penjualan. Cukup meminta bantuan Farah saja, pulsa akan terisi dengan gampang. Luar biasa kecanggihan Bank Mandiri  ya, Nak!

tiga

Kemudahan transaksi dimana saja, kapan saja dengan Mandiri Mobile

Pernah ada kejadian ATM Mandiri Ayah tertelan di mesin. Ayah sangat panik waktu itu. Tapi Ibu mengingatkan bahwa jika ATM yang tertelan akan sangat aman. Ayah lalu menghubungi Mandiri Call 14000 dan memberitahu perihal ATM Mandiri Ayah yang tertelan. Ayah senang, responnya cepat sekali dan dana Ayah langsung diblokir. Esok harinya Ayah datang ke cabang membuat kartu Mandiri Debet yang baru. Prosesnya pun sangat cepat dan tidak betele-tele. Ayah menjadi sangat yakin terhadap Bank Mandiri.

Fauzi pun kini mempunyai tabungan sendiri. Karena belum memiliki KTP, Fauzi mempunyai Mandiri Tabunganku yang khusus diperuntukkan untuk anak-anak. Sama sepertimu dulu, Nak, Fauzi pun kini gemar menabung. Apalagi desain buku Mandiri Tabunganku dan ATM Tabunganku didesain khusus untuk anak-anak seusianya. Bagus sekali.

untitled

Anak-anak pun gemar menabung di Bank Mandiri

Senang sekali rasanya membaca pesan dari Ayah. Aku merasa seolah-olah kini ia berbicara langsung di hadapanku.

Bahkan, kini Ibu pun mempunyai tabungan sendiri Nak. Ayah sengaja mengajak Ibu untuk membuat akun di Bank Mandiri agar ibu bisa mempunyai Mandiri Tabungan Rencana. Dengan konsep seperti arisan di kampung, melalui Mandiri Tabungan Rencana, Ayah bisa menyisihkan gaji Ayah ke rekening Mandiri Tabungan Rencana punya Ibumu. Mandiri Tabungan Rencana itu sangat membantu agar Ayah bisa menyisihkan sebagian penghasilan secara otomatis untuk biaya pendidikan kedua adikmu, Nak.  Mungkin, kelak Ayah dan Ibu juga akan membuat satu akun lagi yang khusus untuk menampung dana dari usaha katering Ibu. Ayah akan bikin Mandiri Tabungan Bisnis. Ayah senang dengan jenis tabungan ini, karena semua transaksi tampil secara terperinci. Dengan Mandiri Tabungan Bisnis ayah tak perlu repot lagi mencetak rekening koran.

Dengan menggunakan Mandiri Tabungan Rencana, ayah bisa menabung untuk keperluan pendidikan secara otomatis. Menurut informasi dari customer service-nya, bahwa dana akan terpotong langsung setiap bulannya. Alhamdulillah, kini Ayah dan Ibu memiliki pos anggaran tabungan sendiri untuk biaya pendidikan adikmu kelak. Bahkan, dengan menggunakan Mandiri Tabungan Rencana Ayah mendapatkan perlindungan asuransi dengan gratis (karena premi asuransi dibayarkan oleh Bank Mandiri) dan juga bunganya relatif lebih tinggi. Ayah semakin tenang mendengarnya…

Oh ya, soal Kartu Kredit Bank Mandiri kepunyaan ananda, apakah berlangsung aman, Nak? Sejujurnya ayah agak khawatir ketika ananda dulu memasukan aplikasi pembuatan Kartu Kredit Bank Mandiri karena banyak cerita yang tersebar bahwa menggunakan kartu kredit itu tidak aman dan kerap disalahgunakan oleh orang yang tidak berhak. 

Alhamdulillah, Kartu Kredit Bank Mandiri ini sangat membantu ayah. Sepertinya Ayah lupa bahwa tiket promo penerbangan Palembang-Jakarta-Paris dulu aku beli secara online menggunakan Kartu Kredit Bank Mandiri. Sehingga harga tiketnya lebih murah dari agen perjalanan.

Ayah kemudian diyakinkan oleh adikmu Farah, bahwa Kartu Kredit Mandiri dengan penggunaan yang tepat akan sangat terasa manfaatnya. Ayah yakin kamu akan bijak menggunakannya, nak. Oh ya, Alhamdulillah, angsuran Mandiri KPR Ayah yang dulu digunakan untuk pembelian rumah sudah terlunasi, nak. Beruntung sekali Ayah menjadi nasabah Bank Mandiri sehingga mengetahui ada ada program Mandiri KPR dengan suku bunga yang sangat kompetitif. Apalagi dulu prosesnya cepat dan mudah. Tak terasa jangka waktu 10 tahun cicilan sudah Ayah lalui (bahkan dulu Ayah ditawarkan untuk cicilan hingga 15 tahun). Ayah tidak membayangkan jika dulu tidak ada Mandiri KPR, pasti akan sulit sekali bagi Ayah memiliki rumah yang nyaman untuk kita sekeluarga.

Sekarang, uang yang biasanya Ayah sisihkan untuk cicilan rumah, kini ayah tabung di Mandiri Tabungan Haji, nak. Lagi-lagi Ayah dimudahkan oleh Bank Mandiri. Dengan program Dana Talangan Haji, kini Ayah dan Ibu sudah mendapatkan kepastian berangkat. Alhamdulillah, rasanya kehidupan Ayah dan Ibu terbantu sekali berkat keberadaan Bank Mandiri.

Alhamdulillah, akhirnya Ayah dan Ibu mendapatkan kepastian berangkat ke Tanah Suci. Sungguh ini kabar yang menggembirakan. Aku tahu betapa Ayah dan Ibu menekan keinginannya demi anak-anak terlebih dahulu. Sekarang, sudah sepatutnya Ayah dan Ibu mengejar impiannya.

Oh ya, beberapa waktu lalu, Ayah juga ditawarkan program Mandiri KTA. Dengan Mandiri KTA, Ayah bisa mendapatkan Kredit Tanpa Agunan. Kata pegawai Bank Mandiri, jika Ayah membutuhkan dana dalam jumlah besar (Ayah dengar bahkan hingga 200 juta), Ayah bisa memanfaatkan program ini. Jangka waktu kredit juga bervariasi. Juga, Mandiri KTA dilengkapi oleh asuransi demi meminimalisir resiko. Ayah lega sekali mendengarnya. Mungkin, jika Farah kelak sudah mendapatkan gelar dokter dan berencana ingin mengambil spesialis, bisa jadi Ayah akan memanfaatkan program itu ya Nak.

Satu yang jadi kebanggaan Ayah sejak dulu. Dengan menjadi nasabah Bank Mandiri, Ayah merasa turut membesarkan dan memajukan bangsa Indonesia. Lihat saja visi-nya Bank Mandiri yakni Indonesia‘s most admired and progressive financial institution. Harapan Ayah untuk bangsa ini, sejalan dengan apa yang juga menjadi landasan Bank Mandiri.

Setiap datang ke Bank Mandiri, Ayah merasa sangat dihargai. Semua bersinergi memberikan layanan yang terbaik. Security tak pernah merasa bosan menyapa Ayah. Tellernya pun begitu. Sangat terampil, cekatan, enerjik dan cerdas! Customer Service-nya juga tak mau kalah. Selalu saja penuh senyum walaupun menghadapi komplain nasabah (tenang, Ayah tidak pernah komplain kok. Itu yang pernah Ayah lihat ke nasabah lain). Belakangan Ayah baru tahu. Bank Mandiri-lah satu-satunya Bank yang meraih predikat Service Legend karena secara konsisten lima tahun berturut-turut mendapatkan predikat pertama “Best Bank Service Excellence” oleh Marketing Research Indonesia. Sebuah prestasi yang rasanya akan sulit dilampaui oleh Bank pesaing lainnya.

satu

Pelayanan adalah no.1 di Bank Mandiri

Anandaku…

Ayah harap, secuil kisah ini mampu mengembalikan semangat ananda untuk terus semangat meraih prestasi. Lihat saja, harapan-harapan masa kecil kini tengah terajut dan hampir terselesaikan. Hingga kemudian, akan hadir mimpi-mimpi baru yang selalu menemani langkah kehidupan kita. Tetap tumbuhkan keyakinan pada diri, ya Nak. Seyakin Ayah terhadap Bank Mandiri yang telah mewujudkan apapun itu impian Ayah dulu. Ayah yakin, Apapun keinginan Fauzan kelak, Bank Mandiri akan pasang badan untuk membantu mewujudkannya.

Peluk hangat dari Ayah dan Ibu untuk ananda Fauzan di belahan benua sana.

Salam

Ayah

Mataku berkaca-kaca membaca surel dari Ayah melalui alamat email adikku Farah. Ayah memang pribadi yang kokoh dan bersahaja. Aku belajar banyak soal arti perjuangan hidup dan betapa pentingnya merajut mimpi untuk kesuksesan di masa yang akan datang. Surel ini sangat berarti Ayah. Kata-kata yang kau tulis tak ubahnya energi penyemangat untukku. Aku berjanji, akan memberikan yang terbaik dan menyodorkan segudang prestasi untuk kalian semua, orang-orang yang menyayangiku.

Sejurus kemudian, kuarahkan kursor dan kuketikkan sebuah alamat situs yang berisi banyak video. Aku teringat sebuah tayangan yang dulu pernah kusaksikan ketika masih di Palembang. Dan… benar saja. Hidup kami dan mimpi-mimpi keluarga kami banyak terwujud berkat keberadaan Bank Mandiri. Terima kasih Bank Mandiri.

Catatan : Tulisan ini untuk diikutsertakan dalam Lomba Blog oleh Bank Mandiri. Silahkan klik di sini untuk inforrmasi lebih lanjut, atau silahkan klik banner Lomba di halaman utama blog ini. Semua foto saya ambil dari situs http://www.bankmandiri.co.id
Cerita ini fiktif belaka, namun elemen-elemen terkait produk Bank Mandiri yang diceritakan benar adanya dan sudah digunakan secara langsung oleh penulis yang telah menjadi nasabah setia kurang lebih 11 tahun..

IMG00468-20130206-1029

Beberapa Produk Bank Mandiri yang digunakan oleh penulis.

UPDATE : Setelah mengalami penundaan pengumuman, hasil akhirnya tulisan ini dinyatakan belum cukup laik untuk dijadikan pemenang, hihihi. *pending Umroh* 😀 Silahkan klik untuk membaca tulisan para jawara. 🙂 Juara 1, Juara 2, Juara 3. Selamat untuk semua pemenang ya 🙂

Iklan

19 thoughts on “Merajut Mimpi Bersama Bank Mandiri

    • Ya itu memang bagian dari telemarketing. Aku pake KK Bank lain juga diteleponin terus kok Mas. Kalau tidak tertarik tinggal ditolak baik-baik aja dan lakukan penekanan bahwa tidak akan pernah tertarik. Kalau di telepon lagi? marketer tangguh mana sih yang gampang menyerah dengan satu atau dua kali penolakan. 😛

    • Tergantung, kalo tagihannya 2 kali lipat dari jumlah hadiah utama, tetep nombok haha. Ditunggu tulisannya 🙂 Cek aja #blogbankmandiri di twitter, disana akan banyak link contoh tulisan peserta lomba 🙂

  1. ish surel bokapnya ‘jualan’ banget. Gw kalo kondisi kenyataan bokap gw emailin gw kek gitu, mungkin gw sdh telpon bokap gw terus bilang “Email bapak ga dibajak org bank kan?!” Hahaha…
    Untung penyajian cerita dan settingnya menarik 😀
    Good luck bro

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s